Sebagian besar lahan di Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem, kering nan berbatu. Karena tandus, warga di sana lebih banyak menanam jagung hingga kacang-kacangan. Namun tidak dengan I Wayan Mara yang memilih budi daya anggur di lahan tandus itu.
AGUS EKA PURNANEGARA, Denpasar
KEBUN anggur dengan luas sekitar 18 are itu sudah tiga kali menghasilkan buahnya. Sejak dua tahun silam, I Wayan Mara sudah memanen total ribuan kilogram anggur hitam. Alhasil, warga setempat sudah dapat menikmati anggur yang kerap ditemui di wilayah Kecamatan Banjar hingga Seririt, Kabupaten Buleleng itu.
I Wayan Mara adalah warga Bunutan yang selama puluhan tahun merantau ke Buleleng barat. Di sana, dia belajar tentang budi daya anggur. Setelah cukup pengalaman, beberapa bibit anggur hitam dibawanya pulang ke Bunutan. Wayan Mara berinisiatif mengembangkan lahan yang lama tak produktif itu agar dapat menghasilkan.
Anggur dipilih karena pihaknya menilai secara ekonomi lebih menjanjikan. Orang yang budidaya anggur di Karangasem juga masih jarang. Kalau jagung sudah lumrah di sana. Wayan Mara memulai budi daya anggur dibantu anaknya, Made Suastika dan Putu untuk mengurus kebun.
Anak Wayan Mara, Made Suastika mengakui, masyarakat sekitar datang untuk membeli anggur hitam di kebunnya sejak awal-awal berkebun. Per kilogram dijual Rp 15 ribu. Menariknya, pengunjung bisa memetik buahnya sendiri seperti di agro wisata. "Sejak dua tahun lalu sudah tiga kali panen. Memang panen sekarang nol karena sempat hujan jadi gak berbuah," ucapnya, Jumat (4/6).
Made Suastika dulunya tak menyangka, anggur berhasil dibudidaya di lahan yang tergolong tandus itu. Padahal, niat menanam anggur diakui hanya coba-coba. Pemilik lahan, Nyoman Diri juga langsung bersedia memberikan lahannya untuk digarap setelah mendengar akan ditanami anggur. Hasilnya dibagi dua sesuai kesepakatan tanpa biaya sewa lahan.
Di lahan itu sudah dibuat sumur bor sehingga mudah dalam perawatan. Made Suastika membuat 75 lubang dengan 150 batang pohon. Panen pertama setidaknya berhasil mengumpulkan sekitar 1 ton anggur. "Rasanya manis, tidak dominan asam," ucap Made.
Di masa pandemi Covid-19 ini, Made Suastika beruntung masih bisa mendapatkan penghasilan dari panen anggur. Sebab, Made yang awalnya bekerja sebagai pekerja hotel di wilayah Goris, Kecamatan Gerokgak, Buleleng itu, harus pulang karena wisatawan sepi. Sambil menunggu kondisi pulih, Made sementara fokus berkebun anggur.
Sementara itu, Putu menambahkan, rasa anggur di kebunnya dominan manis. Bahkan saat cuaca panas, 100 hari paska pencukuran, buahnya lebih manis. Putu mengaku saat ini tergolong gagal panen. Sebab, saat pencukuran pohon anggur malah hujan deras, mengakibatkan tak banyak pohon yang berbuah. Saat ini malah menyisakan sekitar 50 kg anggur saja. "Tinggal tunggu tiga bulan ke depan untuk panen lagi," pungkas Putu.
Editor : I Putu Suyatra