Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita Pilu Darma Dikaruniai 6 Anak, 4 di Antaranya Disabilitas

Chairul Amri Simabur • Jumat, 3 September 2021 | 05:41 WIB
Cerita Pilu Darma Dikaruniai 6 Anak, 4 di Antaranya Disabilitas
Cerita Pilu Darma Dikaruniai 6 Anak, 4 di Antaranya Disabilitas


DENPASAR, BALI EXPRESS- Nyoman Darma, 45, sebenarnya tak menginginkan hal ini. Namun apa mau dikata, semua sudah suratan takdir. Ia dikaruniai enam anak, empat di antaranya penyandang disabilitas. Ia pun menyerah dan pasrah dengan keadaan mengingat biaya hidupnya yang pas-pasan. Gajih sebagai tukang sapu di kantor gubernur Bali yang masih juga kena potongan, tak mampu menopang biaya hidup keluarga Nyoman Darma. Ditambah sang istri hanya sebagai tukang suwun di pasar.



Bersama Nyoman Sarmini, 40, yang merupakan istrinya, Darma memiliki enam buah hati yakni Wayan Sudarma, 25, Kadek Sudarsana, 19, Nyoman Marianti, 19, Ketut Suartama, 17, I Luh Nanda, 10 dan Gede Adi Gunawan, 7. “Yang normal cuma dua, Marianti dan Gede Adi. Marianti sudah menikah, dan yang paling bungsu baru kelas 1 SD,” ujar Nyoman Darma lirih saat ditemui di rumah kontrakan sederhana di Jalan Nangka Utara, Denpasar Utara.”"Sejak kecil sudah mulai kelihatan. Mata, tangan dan fisiknya mulai lemas dan lumpuh. Pernah masih kecil terapi, tapi tidak ada hasil. Terutama Wayan, kata dokter, hasil medis sarafnya yang kena. Dokter sudah menyerah dan bilang tidak ada obatnya lagi,” sambungnya. Bahkan, ketika ada yang sakit, Nyoman Darma dan istri hanya memberikan obat ala kadarnya berupa larutan air. “Padahal keturunan keluarga saya sebelumnya tidak ada yang disabilitas,” tegasnya.



Nyoman Darma dan istri kini hanya bisa pasrah melihat empat buah hatinya besar dengan keadaan berbeda dari anak pada umumnya. Di tengah membiayai keempat anaknya yang disabilitas dan si bungsu yang masih sekolah itu, Nyoman Darma terbentur dengan biaya. Gajih yang ia dapat sebagai tukang sapu, bisa dikatakan kurang. “Gaji saya Rp 2,7 juta kotor. Itu pun dipotong jadi Rp 2,5. Kalau dengan gajih segitu, sangat tidak mencukupi. Belum lagi bayar kontrakan Rp 3 juta setahun,” ujar pria asal Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem ini.



Darma yang sudah bekerja sebagai tukang sapu sejak Gubernur Made Mangku Pastika ini, bahkan awalnya mendapat gajih Rp 1,7 juta. Ketika era gubernur Wayan Koster, ia hanya sempat sekali diberikan bantuan oleh Dinas Sosial. “Di awal-awal, saya sempat diberikan tempat tinggal di Renon, saat masih gubernur Pak Mangku Pastika, tapi karena lokasinya bermasalah, saya pindah ke Biaung dan pindah lagi kesini. Baru tujuh bulan saya ngontrak disini (Jalan Nangka),” tuturnya.



Lantas apa yang bapak harapkan untuk pemerintah saat ini? “Ya, semoga ada perhatian dari pemerintah atau orang dermawan untuk sekadar makan sehari-hari saja,” tutupnya.



 



Editor : Chairul Amri Simabur