Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengunjungi Panti Asuhan Dharma Jati I yang Mulai Jarang Dapat Donatur

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 April 2022 | 05:02 WIB
PANTI ASUHAN: Ni Made Moni saat ada waktu senggang di Panti Asuhan Dharma Jati I, Jumat (1/4) siang. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)
PANTI ASUHAN: Ni Made Moni saat ada waktu senggang di Panti Asuhan Dharma Jati I, Jumat (1/4) siang. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)
Bangunan besar nan tinggi terlihat dari sebelah timur jalan raya di Desa Bakas, Klungkung. Di rumah itu telah tumbuh ratusan lebih anak dari keluarga yatim piatu maupun kurang mampu sejak 1985. Kini, masih ada puluhan anak yang menempa diri untuk jadi pribadi yang mandiri.

AGUS EKA PURNA NEGARA, Klungkung

N MADE MONI, salah satu pengurus di panti asuhan Dharma Jati I, datang lalu menyapa. Kebetulan ia baru saja selesai sembahyang, Jumat (1/4). Sementara ada tiga anak asyik bermain di halaman yang rimbun.

"Ya sekarang santai. Anak-anak juga santai. Sekarang jam 12 (siang) istirahat dulu mumpung tidak ada kegiatan," ujar Moni mengawali pembicaraan.

Moni tidak menampik aktivitas panti asuhan yang dibangun kakaknya, Wayan Nika, tidak sepadat dulu. Selama pandemi Covid-19, Moni dan rekan-rekan lebih fokus mengurus kebutuhan primer dan sekunder anak-anak.

Ada sekitar 40 anak yang dititip orangtuanya lantaran keterbatasan ekonomi. Mereka sebagian besar berasal dari beberapa desa di Klungkung.

Ada pula keluarga yang ingin anaknya beradaptasi di lingkungan luar. Belajar menjalin hubungan baik dengan orang dari beragam latar. Harapannya agar kelak anak itu mampu tumbuh mandiri.

"Memang lebih banyak dari keluarga sederhana. Tidak terlalu kurang. Mereka juga ingin anak mereka tidak terpengaruh hal buruk. Mungkin karena kondisinya berbeda dari biasanya," tutur wanita yang kini berusia 70 tahun ini.

Moni menuturkan, Panti Asuhan Dharma Jati di Banjar/Desa Bakas, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, Bali, sudah beroperasi sejak 1985. Berawal dari keinginan balas budi kepada jasa orangtua, panti asuhan ini adalah representasi keinginan itu. Menurut dia salah satu cara memberi imbalan atas jasa orangtua adalah memberikan kasih sayang kepada anak yang butuh kehidupan layak.

"Orangtua kami sebetulnya susah juga tapi bisa hidupi kami. Sekarang giliran kami ngayah ke yang lain," ujarnya.

Jika dihitung, mungkin lebih dari 300 anak pernah tinggal di Panti Asuhan Dharma Jati. Mereka datang dari berbagai daerah di Bali. Terutama Klungkung daratan, Nusa Penida, hingga Buleleng. Hingga kini Moni tetap rela dedikasikan sisa hidupnya untuk merawat anak-anak yang memerlukan perhatian.

Sebetulnya Moni dan pengurus lainnya sedang menghadapi situasi sulit. Efek dari pandemi. Dulu operasional panti masih berjalan normal. Banyak donatur datang untuk beri bantuan bahan makanan dan keperluan sekolah. Ada juga yang menawarkan jasa, hingga rela mengajar tanpa meminta imbalan.

"Ada yang berkegiatan menari, belajar bahasa Inggris," kenang dia.

Sayangnya, donatur yang biasa datang , kini mulai jarang terlihat. Pengurus panti asuhan harus berusaha secara penuh membiayai operasional yang nominalnya mencapai belasan juta rupiah per bulannya.

Setidaknya untuk keperluan konsumsi saja, butuh biaya minimal sekitar Rp 10 juta. Belum termasuk listrik, uang iuran sekolah untuk yang duduk di bangku SMA. Kalau TK, SD dan SMP gratis.

Beruntung, wanita asal Banjar Kawan Desa Bakas ini punya usaha lain. Seperti memelihara babi. Juga ada sawah garapan. Sebagian dari hasil itu, bisa dipakai untuk menutupi kebutuhan di panti asuhan.

"Kami berpikir ini sudah tanggung jawab. Kami tidak ingin beratkan pihak lain. Yang penting anak-anak ini bisa dirawat, kami upayakan usaha sendiri. Syukurnya masih jalan," tegas Moni.

Baik Wayan Nika dan Made Moni, tetap berusaha menggantikan peran orangtua dengan baik bagi anak-anak selama masih tinggal di panti asuhan. Tidak hanya memikirkan untuk bisa beri makan dan tinggal layak, namun bisa memenuhi bekal pendidikan dan keterampilan agar anak-anak itu bisa menghadapi masa depannya dengan baik. (*)

 

  Editor : I Putu Suyatra
#bali #panti asuhan dharma jati I #klungkung