Meski hujan dan terik, Mbah Jumilah tetap gigih berjualan jamu rempah. Sejak ia datang ke Buleleng dari Bantul, Jogjakarta ia tetap berjualan jamu. Tak sesekali ia mengkhianati pekerjaan yang ia tekuni sejak muda.
"Saya di Jogja dulu jualan jamu juga. Terus ke sini (Buleleng) lanjut lagi jualan jamu. Saya lupa tahun berapa itu, sudah lama sekali," tuturnya sambil tetap mengemas jamu ke dalam plastik panjang.
Perjuangan Mbah Jumilah sangat panjang. Ia menuturkan sebelum memiliki usaha, ia tinggal di sebuah gubuk berlantai tanah. Jika hujan kadang bocor parah. Mbah Jumilah tak mau berdiam diri, maka ia mulai merintis usaha dengan menjual jamu. Ia berjualan berjalan kaki keliling komplek dengan menggendong wakul di punggungnya.
"Dulu sepeda itu barang mewah. Saya belum mampu beli. Saya jualan jamu jalan kki ja. Jamu gendong ala Mbah Jumilah," kata dia sembari tetap tangannya mengemas jamu.
Hingga ia pindah ke Bali, ia tetap berjualan jamu gendong. Seiring waktu, usahanya berkembang. Ia mulai memiliki pelanggan. Jamu yang ia jual pun nikmat tanpa tambahan bahan pemanis atau pewarna.
"Saya buat sendiri. Racik dan tumbuk sendiri. Gak pakai gula buatan, apalagi kodrang (pewarna). Semuanya alami. Alhamdulilah juga banyak yang suka," ungkapnya.
Semakin hari pendapatannya bertambah. Rejeki mengalir. Mbah Jumilah akhirnya bisa membeli sepeda. Barang mewah pada jamannya itu menjadi kesayangan Mbah Jumilah. Sepeda ontel tahun 1980-an itu selalu setia menemani hari-hari Mbah Jumilah berjualan jamu ataupun berpergian ke tempat lainnya.
"Sepeda dulu kan barang mewah ya. Alhamdulilah saya bisa beli dari hasil jualan jamu. Dulu itu saya beli disini (Buleleng) dengan harga Rp 8 ribu. Kalau sekarang mungkin Rp 8 juta ya. Gak tau saya," tuturnya.
Ibu dengan dua anak ini tak pernah putus asa. Seiring usahanya yang terus melejit, namun ia tetap bertahan dengan berjualan keliling kota naik sepeda ontel klasik. Ia enggan membuka toko atau warung.
"Sudah cukup segini saja. Biar saya dapat jalan-jalan juga. Sudah umur," terangnya.
Jamu yang dijual Mbah Jumilah ini murni dibuat dari bahan rempah asli. Bahan-bahan rempah itu ia dapatkan dari Pulau Jawa. "Saya beli di Jawa. Sekali beli satu kampil itu. Sebntar kok, paling cuma sehari sudah sampai disini," tambahnya.
Mbah Jumilah memproduksi jamu tersebut di rumahnya yang berlokasi di Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Buleleng. Di rumah sederhana itu pula ia berproses hingga akhirnya dapat memiliki rumah impian serta 2 bidang tanah. Masing-masing tanah Mbah Jumilah memiliki luas 7 are yang berlokasi di dua tempat yang berbeda.
"Saya sudah 45 tahun jualan jamu. Dan Tuhan memberikan saya rejeki sampai saya bisa bangun rumah yang dulu kurang layak, sekarang sudah jauh lebih baik. Dan sekarang sudah punya tanah. 7 are di Tawangrejo dan 7 are lagi di Ngasinan," kata dia.
Aa berbagai jamu rempah yang dijual Mbah Jumilah. Ada jamu kunyit asam, jamu beras kencur, jamu sirih, jamu temu ireng, jamu tamu tis, jamu temulawak. Mbah Jumilah akan berangkat berjualan jam 03.00 pagi sampai jamu yang ia bawa habis terjual.
Editor : I Putu Suyatra