Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Buat Menara Internet dari Bambu, Tembok Masuk Program Rural ICT Camp 2022

I Putu Suyatra • Jumat, 21 Oktober 2022 | 04:39 WIB
MENARA INTERNET: Pembangunan menara internet dengan bahan utama bambu di Banjar Dinas Sembung, Desa Tembok, Tejakula-Buleleng, Bali.  (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
MENARA INTERNET: Pembangunan menara internet dengan bahan utama bambu di Banjar Dinas Sembung, Desa Tembok, Tejakula-Buleleng, Bali. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Rural ICT CAmp 2022 merupakan ajang tahunan yang digelar untuk mendukung upaya kolabratif dalam memfasilitasi proses konsolidasi ide, praktik dan inisiatif warga dalam mengembangkan infrastruktur internet berbasis komunitas di wilayah perdesaan dan tempat terpencil.

Kegiatan ini pula dikembangkan oleh Common Room bersama ICT Watch, Relawn TIK dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Insonesia (APJII). Rural ICT Camp 2022 ini akan dilakukan di desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng mulai 21 hingga 25 Oktober mendatang.

Pada penyelenggaraannya yang ke-3, kegiatan Rural ICT Camp 2022 akan dilaksanakan dengan mengambil tema Transformasi Digital Untuk Desa dan Tempat Terpencil. Tema ini dipilih sejalan dengan agenda Presidensi KTT G20 yang menjadikan isu transformasi digital sebagai salah satu dari tiga isu prioritas Presidensi G20 Indonesia.

"Melalui hal inidiharapkan dapat meningkatkan kapasitas perangkat dan warga desa dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), yang bisa mengatasi kesenjangan akses internet dan literasi digital di berbagai wilayah perdesaan dan tempat terpencil di Indonesia," ujar Director Common Room Networks Foundation, Gustaff Iskandar, Kamis (20/10) siang.

Untuk mengatasi kesenjangan akses internet itu pun, pihak Common Room membangun menra internet. Uniknya, menara yang dibangun ngat ramah lingkungan dengan memanfaatkan bambu. Menara yang digadang-gadang setinggi 15 meter itu akan mampu menjakau radius 20 kilometer. Selain ramah lingkungan, pemanfaatan bambu untuk menara ini juga menekan biaya produksi yang cenderung mahal bla menggunakan material lain. "Nanti di menara itu akan dilengkapi dengan radio untuk menangkap signal dalam radius itu," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Desa Tembok, Dewa Komang Yudi Astara menjelaskan, kebutuhan internet di desa Tembok cukup tinggi. Bahkan sebagian besar masyarakat desa memanfaatkan jaringan internet. Saat ini akses internet di desa Tembok baru ada beberapa titik seperti di Kantor DEsa Tembok hingga balai masyarakat Tembok. "Kebutuhan internet memang cukup tinggi. Tapi masih minim yang menggunakan internet untuk bisnis. Saat ini sebatas untuk membuat tugas bagi pelajar dan akses media sosial," ujarnya.

Pengerjaan menara internet saat ini mencapai 60 persen dengan menelan dana kurang dar Rp 20 juta. Menara ini didirikan di BAnjar Dinas Sembung, DEsa Tembok. Lokasi ini lebih tinggi dibandingka lokasi internet yang ada di Kantor Kepala Desa. Untuk pengoperasiannya nanti, internet yang akan disebarluaskan dari menara bambu ini diambil dari pasokan internet di kantor kepala desa. "Nanti ambil dari kantor desa, tembak ke menara bambu, dari sana baru menyebarkan akses. Kurang lebih dengan kekuatan 20 mpps," tambahnya.

Apabila layanan internet dari menara bambu ini telah beroperasi, pemeliharaannya diserahkan kepada PEmerintah Desa Tembok. Akses layanannya pun akan dibatasi, seperti layanan akses ke media sosial serta situs-situs berbahaya lainnya akan diblokir. Layanan internet hanya ditujukan kepada pejara serta masyarakat yang memanfaatkannya untuk kepentingan bisnis, pendidikan, kesehatan serta urusan administrasi kependudukan lainnya. "FB, game online dan situs lain di luar kepentingan kami blok. Kalau mau brosing tidak masalah. Agar tidak disalahgunakan," tutupnya.

Salah satu perajin bambu Komang Ratnata, mengatakan, bambu yang digunakan adalah bambu petung, sebab bambu jenis itu adalah jenis yang paling kuat. Begitu pula dengan pemilihan bambu, dipilih yang tidak terlalu tua. Sebab, bila salah pilih bisa menyebabkan keretakan bagi bambu itu. Kendalalanya dalam membuat menara ini adalah pada tingkat ketinggian menara itu sendiri.

Untuk menjaga ketahnan bambu bisa menggunakan, oli bekas, minyak tanah atau kapur barus. Perawatan ini perlu dilakukan secara berkelanjutan hingga waktu 6 bulan. "Ini prawatannya kalau berkala bisa sampai tahan 20 tahun. Kalau kena hujan itu harus diinjeksi lasgi denan minyak tanah biar awet. KAlau bikin penguncian itu jangan terlalu banyak pada bambu. Nanti bikin bambu rusak," terangnya.

Ia juga baru pertaa kli membuat menara dengan bambu. Biasanya ia menggunakan bahan bambu untuk membuat rumah serta kerajinan lainnya. Ia pun tak terbayangkan akan bekerja membuat projek seperti ini yang menurutnya sangat menantang. "Senang bisa bekerjasama dan senang bisa mengerjakan hal baru seperti ini," jelasnya. Editor : I Putu Suyatra
#bali #desa tembok #menara internet #buleleng