Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rambut Gimbal Jro Winata Capai 3 Meter, Tidak Boleh Dipotong

I Made Mertawan • Sabtu, 22 Oktober 2022 | 04:10 WIB
RAMBUT GIMBAL: Jro Made Winata memperlihatkan rambut gimbal sepanjang 3 meter di tempatnya berjualan es campur depan Pasar Kidul, Bangli. (I Made Mertawan/Bali Express)
RAMBUT GIMBAL: Jro Made Winata memperlihatkan rambut gimbal sepanjang 3 meter di tempatnya berjualan es campur depan Pasar Kidul, Bangli. (I Made Mertawan/Bali Express)
BANGLI, BALI EXPRESS- Jro Made Winata berambut gimbal selama 21 tahun.  Sampai saat ini panjangnya sudah mencapai 3 meter. Sejak tumbuh secara ajaib, warga Banjar Adat Blungbang, Desa Adat Kawan, Bangli ini sama sekali tidak pernah memotongnya. Kenapa?

Sehari-hari Jro Winata berjualan es campur depan Pasar Kidul, Bangli. Penampilannya bisa dibilang paling beda dibandingkan pedagang lain di kawasan itu. Iya, karena rambut gimbalnya  itu. Biar terlihat rapi, dililitkan di pinggang.

Ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di tempatnya berjualan beberapa waktu lalu, Jro Winata begitu ramah. Apalagi saat disinggung soal rambut gimbal nan panjang tersebut, pria berusia 50 tahun itu sangat terbuka. Ia menceritakan dari awal tumbuh hingga panjang seperti sekarang. “Panjangnya 3 meter, sudah pernah diukur,” ungkapnya.

Ia  menuturkan, rambut gimbal itu mulai tumbuh sekitar 21 silam. Bukan sejak dirinya masih kecil. Kala itu dia sudah menikah dengan Jro Srinadi dan dikarunia dua orang anak.

Tanpa ia sadari, tiba-tiba rambutnya yang memang agak gondrong menyatu hingga sebesar jari kelingking tangannya. Tidak ingin menjadi gimbal, Jro Winata berusaha mengurai dengan cara keramas. Disisir secara pelan-pelan. Usahanya pun berhasil. Rambutnya kembali normal.  Namun hal berbeda terjadi keesokan harinya.

Saat baru bangun tidur, ternyata rambutnya sudah gimbal. Lebih besar dan panjang dari hari kemarin. Kali ini usahanya membuat rambut tersebut kembali normal tak membuahkan hasil. Jro Winata akhirnya memilih nunas baos (minta petunjuk secara niskala) lewat orang pintar. Ternyata rambut gimbal itu tidak boleh dipotong. Itu merupakan paica Ida Bhatara Lingsir Pura Dalem Panunggekan, Blungbang. Jro Winata juga harus ngiring Ida Sesuhunan di catus pata (perempatan Alun-Alun) Bangli. “Waktu itu saya tetap ingin potong,” katanya.

Jro Winata yang saat itu menjadi seorang pacalang tidak tidak ingin ngiring sesuhunan. Sebagai pembanding, ia mencoba nunas baos ke sejumlah tempat di wilayah Bangli. Ternyata petunjuknya sama. Tidak boleh dipotong, meski dengan upacara.  Ia juga harus ngiring.

Jika dipotong? “Kalau dipotong, salah satu (keluarga,Red) ada meninggal,” ungkap Jro Winata. Ia pun tidak memotongnya, tapi tidak langsung ngiring. Jro Winata meyakinkan dirinya mengikuti semua petunjuk orang pintar tersebut setelah dirinya sakit-sakitan. Demikian juga kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Satu dirawat di rumah sakit, satunya lagi di rumah. Akhirnya ia memutuskan tidak akan memotong rambut gimbal dan bersedia ngiring sesuhunan. Ia dan kedua anaknya pun sembuh.

Sejak ngiring sesuhunan itu, Jro Winata juga biasa mengobati orang sakit dan nerang (mohon supaya tidak turun hujan). Padahal sebelumnya tidak pernah ada niat menekuni dunia pengobatan. Sampai sekarang juga tidak pernah belajar mengobati dengan cara membaca lontar usada atau berguru kepada orang lain. Jika ada yang ingin berobat, cukup dengan memohon ke hadapan sesuhunan, lalu dibuatkan minyak.

Banyak orang sudah disembuhkannya. Termasuk orang tidak memiliki keturunan datang ke rumahnya. Hasilnya banyak yang sudah bertahun-tahun menikah, tapi belum mempunyai anak, berhasil di tangan Jro Winata.

Lanjut pria lulusan SMA PGRI Bangli ini, pernah suatu ketika saat dirinya berjualan es, ada seseorang yang mengaku dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tapi tinggal di Badung, minta rambut gimbal itu dicelupkan ke air mineral, dan airnya akan diminum oleh salah satu keluarganya yang sakit. Dengan polos Jro Winata mengiyakan permintaan orang tersebut, karena niatnya adalah membantu, toh juga sekadar dicelupkan. Berbeda kalau minta dipotong, pasti tidak akan diberikan.

Seperti yang pernah dialaminya. Jro Winata tidak ingat kapan pastinya kejadian itu. Yang jelas, salah satu orang yang membeli esnya pernah menawar rambut gimbal itu. Orang tersebut mengaku hendak membeli mobil, namun setelah melihat rambut gimbal Jro Winata, malah ingin rambut itu dipotong dan dibeli dengan harga Rp 200 juta. “Habis minum es, ingin beli rambut saya Rp 200 juta,” kenangnya.

Ia yakin orang itu serius karena langsung memperlihatkan uang tunai yang membuat orang-orang yang melihatnya heran.  Sepintas Jro Winata melihat uang pecahan Rp 100 ribu. Rasa takut akan kehilangan keluarga atau dirinya sendiri yang bisa meninggal, Jro Winata menegaskan bahwa rambut itu tidak akan dipotong hanya demi uang, sehingga sampai sekarang terus memanjang.  Terus dirawat biar tidak bau. “Sampai sekarang rambut ini terus bertambah panjang,” pungkasnya. (wan)
Photo
Photo
Editor : I Made Mertawan
#rambut gimbal #bangli #Jro Winata #gimbal tidak boleh dipotong