Warna-warna Ronde itu pun memiliki arti dan menggambarkan sebuah musim. Warna hijau melambangkan musim semi, musim yang indah bila waktunya telah tiba. Warna putih melambangkan musim hujan, musim untuk kehidupan, dan warna merah adalah musim kemarau.
Setelah rapi tertata, bola-bola kanji dalam 12 mangkuk itu lantas dicampur dengan air gula yang sudah dicampur dengan bahan rempah. Saat dituang ke mangkuk, aroma gula rempah itu keluar saat tutup botol dibuka.
“Ini ada sereh dan jahenya dicampur dengan daun pandan. Biar wanginya enak. Bahan itu direbus sampai mendidih baru masukkan gula pasir,” ungkap Herma Liem saat mempersiapkan ronde untuk persembahan, Kamis (22/12) pagi di Singaraja.
Saat Ronde siap, beberapa mangkuk di persembahkan pada sebuah meja di depan rumah dan di dalam Nyolo. Ronde itu digunakan untuk sarana ritual tutup tahun. Ritual terakhir bagi orang Tiongkok selama setahun penuh. “Ada tujuh perayaan besar bagi kami, nah ini yang terakhir sebelum datangnya tahun baru atau Imlek tahun 2023,” terangnya.
Selanjutnya Herma menyiapkan teh dengan cangkir kecil bercorak huruf Cina. Teh yang dituang tanpa gula, sebab bagi orang Tiongkok kebiasaan minum teh dilakukan memang tidak memakai gula. Sara wewangian juga disiapkan.
Wewangian yang mereka buat hanya meletakkan bunga kenanga di dalam mangkuk berisi air. Setelah seluruhnya siap, barulah persembahyangan dimulai. Sepanjang ritual aroma dupa berpadu dengan aroma kenanga.
Perayaan Ronde ini dilakukan setiap bulan Desember. Biasanya pada tanggal 22 atau tanggal 21. Orang Tiongkok dahulu merayakannya pada puncak musim dingin dan menghidangkan makanan hangat.
Dikisahkan pada zaman Dinasti Song (1127-1152 M), Perayan Ronde dilaksanakan dengan sembahyang arwah leluhur dan lima unsur di bumi yang terdiri dari logam, air, api, tanah, dan kayu.
Sementara pada zaman Dinasti Qing (1644-1911 M), perayaan Ronde menjadi salah satu perayaan penting di China atau Tiongkok dan daerah migrasi, tak terkecuali di Indonesia.
Ronde yang berbentuk bulat juga melambangkan keutuhan, persatuan, harmonisasi keluarga. Ronde umumnya terbuat dari tepung beras tanpa isi. Ini melambangkan eratnya ikatan persaudara, dan air gula manis melambangkan hubungan antar keluarga yang manis. “Ronde juga melambangkan lambang keseimbangan alam yakni Yin dan Yang,” ujar Herma.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya