Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kembangkan Bekul Puluhan Tahun, Ekonomi Keluarga Warga Buleleng Ini Terbantu

Dian Suryantini • Kamis, 6 Juli 2023 | 02:06 WIB
Bekul atau bidara merupakan salah satu tanaman tropis. Tanaman ini dapat tumbuh dalam cuaca panas serta kontur tanah yang kering.
Bekul atau bidara merupakan salah satu tanaman tropis. Tanaman ini dapat tumbuh dalam cuaca panas serta kontur tanah yang kering.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Bekul atau bidara merupakan salah satu tanaman tropis. Tanaman ini dapat tumbuh dalam cuaca panas serta kontur tanah yang kering. Bila ditanam di tempat yang subur maka buahnya akan berlimpah dan nutrisinya terjaga.

Dikenal sebagai buah yang kaya dengan kandungan air yang dapat mencegah dehidrasi, bekul diketahui mengandung kalium, sodium, mangan, zinc, tembaga, serta beberapa senyawa bioaktif seperti fenol, flavonoid, saponin, triterpen, dan fenol. Dari kandungan tersebut, bekul kemudian diyakini dapat menangkal radikal bebas, meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan kadar gula darah, dan meningkatkan fungsi saluran pencernaan.

Bentuknya yang kecil dengan rasa yang tak biasa membuat buah ini jarang dilirik. Namun, siapa sangka, buah yang menyerupai apel Malang ini dapat mendatangkan rupiah. Seperti halnya Made Sugata, warga di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng. Sebanyak tiga pohon bekul menjulang tinggi. Ranting dengan daun yang rimbun seakan menutupi lahan. Pohon-pohon itu telah ditanam puluhan tahun oleh Sugata.

“Ini sudah bertahun-tahun. Awalnya yang menanam adalah ibu saya di rumah. Ada 2 pohon. Sekarang saya tanam lagi di lahan lain dengan luas 6,5 are,” terangnya, Rabu (5/7) siang.

Pohon-pohon bekul itu dirawat dengan serius oleh Sugata. Layaknya merawat anak, pohon-pohon bekul itu juga dimanjakan. Dipupuk, disemprot hingga mengairi lahan agar tanah tetap lembab. Sehingga pohon bekul kesayangannya itu tidak kekurangan air.

“Sebenarnya pohon ini tidak disiram juga tidak apa-apa. Tapi kalau saya lebih memilih untuk merawat supaya hasil buahnya baik,” imbuhnya.

Pengembangan pohon bekul yang dilakukannya itu merupakan faktor penopang ekonomi dalam keluarga Sugata. Dari hasil penjualan buah bekul, Sugata dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga Pendidikan anak cucunya.

Sekali panen pohon-pohon itu menghasilkan buah hingga 80 kilogram. Jika buahnya tak banyak maka hasil panen mencapai 50 kilogram saja. “Kalau saya menjualnya per kilogram Rp 30 ribu. Sudah ada pelanggannya. Kalau ada yang beli eceran sebanyak sekilo dua kilogram tetap saya carikan. Harganya tetap sama, tidak ada bedanya,” tambah Sugata.

Ketika panen, Sugata akan dibantu sang anak untuk naik ke atas pohon. Dengan sigap putranya itu mengais buah-buah bekul yang tumbuh di ranting pohon. Tidak butuh waktu lama, bekul-bekul itu terkumpul dalam sebuah karung plastik.

Hasil panen bekul dari kebun Sugata tak pernah mubazir. Puluhan kilogram buah itu biasanya sudah ada tuannya. Sugata bekerjasama dengan Luh Wiryadi, seorang pengepul buah yang juga dari Desa Banjar. Buah bekul milik Sugata ia pasarkan di Denpasar dan sekitar Buleleng. “Kalau sudah ada buahnya dan menjelang panen, Pak Sugata pasti menelepon saya. Pak Sugata sudah memperkirakan akan dapat berapa kilogram, jadi saya mulai open order,” kata dia.

Selama ini buah bekul India ini jarang peminat. Akan tetapi Luh Wiryadi mengaku telah memiliki pasar sendiri. Ia tidak memiliki pelanggan tetap, melainkan hanya beberapa reseller di Denpasar. Bekul-bekul itu pun telah sampai ke tangan konsumen sejak tahun 2017 lalu.

“Kami selalu koordinasi dan menyesuaikan dengan hasil buahnya. Bila dirasa banyak maka saya berani open order banyak. Kalau sedikit kami malah dilarang sama petaninya, takutnya tidak mendapat buah dan mengecewakan pelanggan,” paparnya.

Selain memasarkan bekul, Wiryadi juga memasarkan buah lain seperti Jamblang atau Juwet, keladi kuning, kalimoko, hingga permen belimbing buluh. Barang-barang yang dipasarkan itu terkadang membuat orang menjuluki Wiryadi sebagai spesialis buah langka dan terabaikan.

Dalam pemasaran produk itu Wiryadi juga kerap mengalami kendala. Seperti halnya jarak pengiriman yang tidak memungkinkan untuk dijangkau. Sebab, buah bekul atau bidara rentan berubah warna dan membuat tekstur dan rasa buah kurang baik. Sehingga ia memutuskan untuk memasarkan di Buleleng atau Denpasar.

“Pesanan dari luar itu banyak, hanya saja saya kurang berani. Takutnya buah jadi rusak karena lama di pengiriman. Tapi saya saat ini mencoba untuk pengiriman ke Surabaya dan Jakarta. Saya cari jasa kirim kilat. Jika sudah ketemu polanya, tidak menutup kemungkinan juga bisa ke wilayah lain,” kata dia.

Direktur Kepatuhan dan Corporate Legal J Trust Bank, Felix I. Hartadi menyampaikan sambutan. (ISTIMEWA)
Direktur Kepatuhan dan Corporate Legal J Trust Bank, Felix I. Hartadi menyampaikan sambutan. (ISTIMEWA)
Editor : I Putu Suyatra
#bali #buah #bidara #bekul #buleleng