Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Niang Soli; Penari Legong Berusia 100 Tahun yang Sita Perhatian di PKB 2023, Berikut Kesehariannya

I Dewa Gede Rastana • Selasa, 8 Agustus 2023 | 21:27 WIB
MELEGENDA : Gusti Ayu Soli atau Niang Soli saat ditemui dirumahnya di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali.
MELEGENDA : Gusti Ayu Soli atau Niang Soli saat ditemui dirumahnya di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali.

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pada pagelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV 2023 lalu, penonton dibuat terkagum-kagum dengan penampilan yang tak biasa. Dia adalah Niang Soli, penari berusia 100 tahun.

Niang Soli adalah salah seorang penari yang berusia tidak muda namun tetap enerjik menyelaraskan gerak dan irama tabuh.

Nama lengkap Niang Soli adalah Gusti Ayu Soli, warga Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali.

Yang lebih menakjubkan, ia mengaku usianya sudah hampir 100 tahun. Meskipun pada KTP-nya tertulis jika Niang (nenek) Soli lahir pada 31 Desember 1935 atau usianya 88 tahun.

Tak beda jauh ketika menari, saat melakukan aktifitas sehari-hari Niang (nenek) Soli juga nampak masih bersemangat. Ditemani anak, menantu dan para cucunya, Niang Soli pun menuturkan bahwa sejak kecil ia memang sudah gemar menari Bali.

Kelihaiannya dalam mengolah gerak kemudian membuatnya dipercaya untuk tampil di depan Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno sekitar tahun 1945 silam di Gianyar. “Dihadapan Pak Karno saya menari Sisya dulu,” ungkapnya.

Dan hingga saat ini ia masih mencintai dunia tari. Tak heran jika ia berhasil memukau penonton pada ajang PKB 2023 lalu di Art Center, meskipun tidak bisa lagi menari secara maksimal. Niang Soli sendiri tergabung dalam Sanggar Seni Saba Sari yang selalu mengajaknya pentas disetiap kesempatan.  

 

Dari total durasi pementasan tarian sekitar 10 menit, ia mengaku menari maksimal selama 3 menit saja. Pada ajang tersebut, ia tampil membawakan Tari Legong Bapang Saba. Tarian ini merupakan tari yang ia pelajari ketika masih remaja dulu dari seorang seniman tari di Desanya yang bernama Anak Agung Alit.

 

“Waktu itu saya belajar bersama enam orang temannya. Tapi sekarang hanya sisa saya saja, yang lainnya sudah tidak ada (meninggal dunia),” paparnya.

 

Ditambahkannya jika saat pementasan ia keluar ketika bagian tarian bapang saja yang durasinya sekitar 3 menit. “Saya 3 menit terakhir mulai menari, kalau lama-lama sudah tidak kuat,” sebut nenek yang memiliki enam orang anak ( 3 orang sudah meninggal) dan cicit sebanyak 25 orang.

 

Meskipun sudah berlalu bertahun-tahun lamanya, Niang Soli mengaku masih hafal semua gerakan tarian tersebut. Hanya saja, harus ada yang menari di depannya untuk mengingat kembali gerakan tari. Biasanya Niang Solit selalu didampingi di depan oleh sang adik yang juga berumur dari wajah dan tenaga masih lebih kuat Niang Soli.

 

 

Kendatipun demikian, semangat Niang Soli patut diapresiasi. Sebab di usia senjanya ia masih mencurahkan dedikasinya untuk pelestarian seni dan budaya Bali. Apresiasi pun datang dari berbagai pihak, bahkan salah satu stasiun Televisi swasta mengundangnya untuk interview.

 

Niang Soli saat menarikan Tari Legong Bapang Saba.
Niang Soli saat menarikan Tari Legong Bapang Saba.

 

Yang lebih mengagumkan, di usia senjanya itu, Niang Soli masih semangat untuk mengais rejeki di luar rumah. Misalnya dengan membersihkan rumput  atau pekerjaan lainnya. Karena menurutnya ia tidak bisa jika hanya berdiam diri di rumah saja. “Sambil cari keringat, kalau di rumah saja suntuk,” lanjut istri dari Gusti Nyoman Katon tersebut.

 

Ia pun menuturkan jika fisiknya masih terbilang kuat karena mengaku dari kecil hingga saat ini ia jarang mengkonsumsi nasi putih. Kalaupun harus makan nasi putih ia pasti akan menambahnya dengan ubi jalar serta lauknya lebih banyak sayur mayur. “Daging juga jarang karena dulu memang tidak mampu beli. Jadi sampai sekarang kebiasaan makan itu saja,” bebernya.

 

Ditambahkan oleh pembina tari di Sanggar Seni Saba Sari, I Gusti Ngurah Agung Giri Putra, Tari Legong Bapang Saba memiliki gerakan yang dinamis, simetris dan teratur. Dan tari itu ditujukan untuk para raja-raja dulunya yang kini juga dipentaskan di depan wisatawan, sebagai tari penyambutan.  

 

Niang Soli awalnya ia ajak menari untuk ujian akhir S2-nya yang mengangkat tari Legong Bapang Saba dengan pementasan secara regenerasi. Mulai dari anak-anak, dewasa dan generasi tua.

 

Menurutnya tari tersebut sudah ada sejak zaman Kakek buyutnya. Kemudian diturunkan ke pamannya lalu dilanjutkan oleh Niang Soli dan saat ini dilanjutkan oleh sanggarnya.

 

“Sebenarnya jaman dulu tari Legong ada satu, lalu karena penarinya masing-masing desa yang belajar berbeda hingga memiliki ciri khas tersendiri salah satunya menjadi Tari Legong Bapang Saba ini,” tandasnya.

 

Mengajak penari dengan usia lanjut kata dia memang membutuhkan tenaga ekstra, sebab untuk makan dan minum tidak bisa sembarangan. “Makan dan minum itu harus bawa dari rumah. Tidak bisa makanan cepat saji ataupun air mineral. Harus bawa air hangat dari rumah, makanan pun demikian, bahkan kita bawakan ubi dari rumah,” tandasnya. (*)

 

 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #gianyar #penari #legong bapang saba #pkb #legong #niang soli