BALI EXPRESS - Buku Ni Pollok ini saya baca untuk pertama kalinya. Sebelum itu saya hanya mendengar potongan-potongan kisah mengenai Ni Pollok.
Cerita Ni Pollok, menurut saya, penuh dengan konflik. Soal kehidupan berumah tangga serta cinta seorang seniman.
Ni Nyoman Pollok adalah seniman tari. Ia anak ketiga yang lahir di Banjar Kelandis, Desa Adat Pagan, Denpasar, 3 Maret 1917.
Ia dikenal sebagai penari Legong Keraton. Pollok lahir sebagai anak bungsu. Kedua saudaranya adalah I Gledeg dan Ni Gubleg.
Ia dipersunting seniman Belgia, pelukis Adrien Jean Le Mayeur, yang merupakan penontonnya saat ia pentas.
Pertemuan keduanya bisa dikatakan sangat normal dan tidak terjadi lika-liku yang berat.
Justru cobaan berat datang ketika mereka telah hidup bersama.
Cerita ini menarik. Saya yang membaca dari halaman pertama menduga-duga cerita ini adalah hasil wawancara.
Kecurigaan saya benar, buku yang ditulis oleh Yati Maryati Wiharja itu adalah data nyata, kemudian disajikan dalam bentuk cerita dengan gaya jurnalisme sastra.
Dari pandangan saya, Ni Pollok, perempuan yang katanya memiliki tubuh aduhai itu tidak lebih dari sekedar objek.
Tubuhnya yang nyaris sempurna sebagai perempuan dan penari adalah modalnya untuk bekerja. Dia hanya objek lukisan suaminya.
Bicara soal cinta, katanya Le Mayeur sangat mencintai istrinya itu, Pollok. Sangat diratukan hingga tidak melakukan apapun demi menjaga Pollok tetap sehat, tetap cantik dan terawat.
Tapi ya itu tadi, semua itu hanya demi kepentingan pekerjaannya sebagai pelukis. Mungkin semua perempuan akan menginginkan perlakuan Le Mayeur sebagai laki-laki yang menghormati istri. Saya pun setuju.
Tapi bila perempuan diratukan dan dipandang sebagai objek, tidakkah itu tergolong egois? Untuk apa diperistri? Lebih baik dipajang dalam rak kaca lalu dipandang karena keindahannya, rasanya lebih adil. Itu pendapat saya.
Entah bagaimana dengan perempuan lain, mungkin juga tidak sependapat dengan saya. Hanya saja jika membaca buku itu, kalian juga akan berpikir dua kali bila menemukan sosok laki-laki dengan karakter yang sama. Tapi semua tergantung selera.
Menikah dengan Le Mayeur, Ni Pollok diceritakan hidup makmur dan tidak kekurangan. Tapi, di balik kemakmuran itu, sebenarnya sosok Pollok bernasib malang. Saya bisa merasakan kesedihannya dan kesepiannya tokoh Pollok.
Saya salut atas pengorbanannya mencintai laki-laki yang ia cintai. Meski terkadang ada rasa yang bergejolak ingin menolak dan memberontak, Pollok lebih memilih diam untuk menghormati suaminya itu.
Cara Pollok menguasai diri dari cerita itu digambarkan dengan halus dan menyentuh. Bagi yang sudah membaca mungkin merasakan hal yang sama atau juga berbeda. Emosi saya turut bermain seakan saya adalah Pollok.
Meski harus bekerja keras dan menuruti keinginan suaminya, cinta Pollok sangat besar. Begitu juga cinta suaminya. Banyak kemalangan yang dialami Pollok. Banyak juga kebahagiaan-kebahagiaan yang diterimanya.
Satu keinginan Pollok dalam pernikahannya dengan Le Mayeur, memiliki buah hati yang mungil. Merasakan menjadi perempuan seutuhnya dengan kehadiran sosok buah hati.
Namun sayangnya keinginan itu kandas. Ketakutan Tuan Le Mayeur menjadi alasannya.
Ia takut jika Pollok melahirkan, maka tubuh indahnya tidak lagi sedap dipandang dan ditumpahkan ke dalam kanvas.
"Biarlah kita hidup untuk seni, Pollok," begitu kata Le Mayeur yang ditulis Yati Mariati Wiharja.
Meskipun begitu, Le Mayeur sangat mencintai Ni Pollok. Jika ada sesuatu yang mengganggu maka ia pasang badan paling depan untuk Pollok, istri tercintanya.
Saya pun sesekali tersenyum sendiri saat membacanya. Rasanya seperti dipermainkan oleh penulis. Rasa kesal terhadap tokoh Le Mayeur seolah lenyap setelah membaca kalimat-kalimat manis yang ditujukan kepada Pollok.
Sesaat kemudian rasa kesal itu muncul lagi. Kalimat yang dilontarkan untuk Pollok itu seakan saya ingin sekali mengajak Tuan Le Mayeur itu untuk berdebat. Selain menempatkan Pollok sebagai objek, apakah Pollok adalah pelariannya?
Ahh, Pollok! Sosok yang setia, sosok yang malang, sosok yang bahagia.
Editor : Nyoman Suarna