SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suasana duka menyelimuti rumah duka almarhum Kadek Yanti Pradewi, korban lift maut Ayuterra Resort Ubud.
Kadek Yanti adalah satu dari lima korban lift maut Ayuterra Resort Ubud yang beralamat di Kedewatan, Gianyar, Bali.
Peristiwa yang mencoreng pariwisata Bali ini terjadi setelah mereka terjatuh saat tali seling lift Ayuterra Resort Ubud itu putus dan meluncur ke jurang hingga membuat kelimanya meninggal dunia.
Keluarga terlihat berkumpul dan mempersiapkan berbagai sarana upacara. Pihak keluarga berencana akan menguburkan almarhum di setra Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Saat ditemui, Minggu (3/9) pagi orangtua almarhum Kadek Madia dan Kadek Partini berusaha tegar.
Keduanya juga berusaha untuk tetap kuat walau hati perih.
Partini menyebut jenazah anaknya sampai di rumah duka pukul 20.00 wita pada Sabtu (2/9). Almarhum dibawa dari RSUD Payangan.
Partini yang merupakan ibu almarhum sebelumnya tidak mengetahui anaknya mengalami kecelakaan saat bekerja.
Saat itu ia sedang berada di kebun untuk mengais daun cengkih kering.
Begitu juga dengan Kadek Madia, ayah almarhum, yang saat itu sedang mencari batu.
Saat pagi hari pada Jumat (1/9) lalu, Partini sempat menghubungi almarhum Yanti lewat WhatsApp.
Namun almarhum tidak menjawab pesan sang ibu.
Partini lantas melanjutkan pekerjaannya ke kebun.
Hingga sore menjelang belum juga mendapat kabar balasan dari almarhum.
Kemudian pada pukul 16.00 wita ia mendapat telepon dari Kepala Dusun, Torino.
"Pak Kadus mengabari saya bahwa ada kabar buruk tentang anak saya. Tapi beliau tidak bilang kalau anak kami sudah tiada," kata Partini berkaca-kaca.
Mendengar kabar tersebut,Partini dan Kadek Madia langsung menuju rumah sakit. Disana ia bertemu dengan seseorang yang membantu membersihkan luka anaknya.
"Saya tidak tahu dia siapa. Mungkin polisi. Dibantu bersihkan luka anak saya agar saya bisa mengenali anak saya," imbuhnya.
Partini menyebut almarhum Kadek Yanti, mengalami luka di bagian kepala dan wajah. Ia tidak mengetahui secara penuh luka yang dialami anaknya itu, sebab ia tidak tega.
"Anak saya cantik. Tapi seketika banyak luka, wajahnya benjol. Sedih hati saya. Saya selalu takut kejadian seperti ini tapi sekarang saya yang tertimpa musibahnya," lirihnya.
Sebelum musibah menimpa Yanti, ia dikatakan sempat meminta makanan kepada Putu Eka, kakak sepupunya.
Hal itu dirasakan aneh, lantaran tidak biasanya Yanti meminta makanan. Permintaan Yanti dipenuhi oleh Putu Eka. Yanti makan dengan lahap saat itu.
"Dia minta nasi sama kakaknya. Tumben seperti itu, biasanya tidak pernah. Dia malu mau minta," tambah Partini.
Sang ibu menyebut tidak mendapat firasat apapun. Bahkan 10 hari lalu almarhum sempat pulang kampung.
Ia juga sempat meminta sambal embe untuk stok makanan di kos. Selain itu almarhum tidak meminta apapun.
"Itu makanan kesukaannya Yanti. Saya buatkan 1 kg untuk dia di kos," kata dia.
Saat pulang kampung almarhum sempat mengeluh lelah. Ia menceritakan bahwa saat bekerja ia sering naik turun tangga dan tidak menggunakan lift. Almarhum disebut tidak berani naik lift.
Partini juga menyebut Yanti sempat mengatakan bahwa lift tersebut berbau sangit. Hal itu juga sudah disampaikan ke pihak hotel.
Pihak hotel juga sudah menyarankan untuk menekan tombol peringatan. Namun entah bagaimana, Yanti bersama 4 kawannya justru menggunakan lift itu.
"Dia naik pertama sudah bau liftnya. Kemudian saya tidak tahu kenapa malah digunakan lagi. Dan anak saya dengan teman-temannya ada di dalam lift itu. Mereka berteman dekat," tutur Partini.
Almarhum disebut sebagai anak yang memiliki jiwa sosial dan pekerja keras.
Ia rela tidak melanjutkan kuliah demi memenuhi cita-cita yang ia impikan. Almarhum ingin memberikan hadiah rumah kepada orangtuanya.
Yanti juga ingin membiayai adiknya untuk kuliah.
"Dia tidak mau kuliah biar bisa bantu ekonomi keluarga. Dia rela gak kuliah dan kerja demi cita-citanya. Saya sehari-hari buruh serabutan. Ambil daun cengkih. Bapak cari batu, cari burung. Demi anak sekolah kami kerja keras," terang Kadek Madia.
Rencananya upacara pemakaman dilakukan Senin (3/9). Biaya pemakaman dan upacara yang dibutuhkan disebut ditanggung dari pihak hotel.
Pihak keluarga juga telah menandatangani kesepakatan dengan pihak Ayuterra Resort.
"Pihak hotel memberikan biaya kepada kami. Untuk biaya pemakaman dan beberapa kebutuhan lain," ujar Kadek Madia, ayah almarhum.
Seperti diberitakan sebelumnya, petaka menimpa lima orang karyawan yang tengah bekerja di Ayuterra Resort, Banjar Kedewatan Let, Desa Kedewatan, Ubud, Gianyar, Bali pada Jumat 1 September 2023.
Para Pegawai Ayuterra Resort Ubud yang menjadi korban insiden gondola yang terjun bebas dari ketinggian ini semuanya warga Bali.
Para korban adalah Sang Putu Bayu Adi Krisna, 19; Ni Luh Superningsih, 20; I Wayan Aries Setiawan, 23; Kadek Hardiyani, 24; dan Kadek Yanti Pradewi, 19.
Peristiwa nahas ini bermula ketika kelima karyawan tersebut naik lift jembatan (gondola) sekira pukul 13.00 Wita.
Editor : I Putu Suyatra