SINGARAJA, BALI EXPRESS – Hamparan hutan bambu yang hijau akan menyambut kedatangan saat berkunjung ke Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.
Salah satu desa tua di Bali Utara, ini terkenal dengan potensi bambu yang melimpah.
Bambu tumbuh subur di desa itu. Ada yang tumbuh liar, ada pula yang ditanam di kebun warga. Sepanjang perjalanan menyusuri Desa Tigawasa, mata dimanjakan dengan bambu-bambu yang menjulang tinggi.
Suara gesekan pohon bambu yang tertiup angin menjadi irama khas. Suara itu akan mengiringi wisatawan saat menjelajah kebun bambu.
Bambu-bambu yang ada di desa itu dimanfaatkan warga untuk membuat kerajinan.
Yang terkenal adalah produk keben (sokasi). Tetapi kini, produk olahan anyaman bambu di desa itu telah berinovasi.
“Ada tas, hiasan lampu, tempat peralatan makan seperti sendok, tempat dupa dan yang lain. Jadi tidak sebatas hanya untuk keben saja,” ujar Guntur Juniarta, salah satu pemuda Tigawasa yang kini mengembangkan rumah produksi kerajinan bambu di desa Tigawasa.
Sebagai salah satu sentra anyaman bambu di Buleleng, Desa Tigawasa sering dikunjungi wisatawan.
Mereka datang untuk melihat proses pembuatan anyaman itu. Wisatawan yang datang tidak saja melihat proses, mereka juga bisa mencoba menganyam.
“Agar mereka tahu seperti apa rasanya menganyam dan tahu prosesnya juga,” singkat Guntur.
Disamping itu, proses menganyam yang dirasakan oleh wisatawan juga sebagai pengetahuan bagi pengunjung.
Setidaknya pengunjung memahami alur penganyaman yang tidak mudah dan tidak menggunakan sembarang bambu.
“Kami juga jelaskan caranya dan bambu yang dipakai. Harus dibelah dan dihaluskan dulu. Tidak ujug-ujug dibelah lalu dianyam. Ada cara dan prosesnya,” ujarnya.
Terlibat langsung dengan warga untuk menganyam menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung.
Memang tidak mudah menyatukan bambu-bambu itu menjadi selembar produk. Butuh ketelitian dan kehati-hatian agar bambu tidak patah, putus atau tersangkut.
Terlebih agar tidak menggores tangan.
“Tidak seperti menganyam kertas. Kalau SD pernah ada pelajaran seni budaya, diajari menganyam. Sama seperti bambu ini, ada motifnya. Tapi ini lebih susah. Kalau tidak ahli tangan bisa luka nanti. Tapi ini seru dan menyenangkan,” ujar Kade Dwi Wahyuni, pengunjung asal Kota Singaraja.
Editor : I Putu Suyatra