Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Durian di Buleleng Bali Punya Nama Unik, Ada Mitos yang Dipercaya Sampai Kini

Dian Suryantini • Selasa, 2 Januari 2024 | 01:37 WIB

 

Pohon di Desa Bestala, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.
Pohon di Desa Bestala, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Warnanya kuning, dagingnya lembut dan aromanya yang khas menjadi idaman penggemar durian Bestala.

Buah berduri dengan aroma menyengat ini memang tumbuh subur di Desa Bestala, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.

Durian dari desa Bestala ini telah terkenal di seluruh Bali. Pohon durian yang tumbuh dirawat dengan baik.

Dihujani kasih sayang layaknya merawat anak sendiri. Bahkan pohon-pohon durian lokal di desa itu memiliki nama.

Penamaan pohon durian di desa Bestala itu berdasarkan bentuk fisik hingga rasa dari buah durian.

Tidak jarang pula, nama yang diberikan berdasarkan seseorang yang menemukan buah yang jatuh atau pohonnya tumbuh di suatu tempat.

Seperti halnya Ni Luh Suini. Warga desa Bestala ini memiliki beberapa pohon durian. Namanya ada I Kepundung, I Tingkih, I Bambang dan I Gumi.

“Kalau yang namanya I Tingkih itu isinya kecil-kecil, tapi manis dan legit. Kalau I Gumi, itu durian yang paling top. Dagingnya tebal, rasanya manis, bijinya kecil, teksturnya padat, buahnya besar seperti durian kane. Tapi itu bukan kane,” ujarnya, Senin (1/1) siang.

Durian milik Suini yang bernama I Kepundung memiliki kulit yang tipis.

Legitnya daging durian itu hampir sama dengan I Gumi.

Suini yang sudah bertahun-tahun bergelut dengan durian sangat mengenal aroma durian asli desa Bestala.

“Baunya mantap. Sedikit saja tercium sudah ketahuan kalau itu asalnya dari Bestala. Memang beda,” kata dia.

Sama halnya dengan Suini. Pohon durian tumbuh subur di kebun milik Made Amertajaya dan Made Mariati.

Ada 15 pohon di kebun itu. Seluruhnya memiliki nama.

Pasangan suami istri ini juga sangat menyayangi pohon-pohon durian itu. Namanya ada I Manas, I Besar, I Kembar, I Bokor, Loso, Timbul, I Gadang sampai I Kandang.

Si Manas memiliki buah yang kecil. Bentuknya pun hampir mirip dengan buah nanas.

Kemudian Si Besar memiliki buah yang besar dan tidak pernah berubah ukuran, sehingga nama Si besar cocok diberikan pada pohon itu.

Lalu durian Si Kembar berasal dari tiga batang besar yang tumbuh dalam satu pohon.

Selanjutnya ada Si Bokor yang buahnya berukuran besar, tetapi bentuknya bulat agak memipih. Untuk Si Loso pohonnya paling tinggi.

Pohon ini sedikit berbeda dari pohon durian lainnya. Buahnya besar memanjang dan dagingnya legit.

Kemudian ada Si Timbul yang bentuknya bulat kecil seperti buah tiwul. Ada juga buah durian yang selalu berwarna hijau.

Saat mentah maupun matang warnanya tetap tidak berubah. Maka durian itu dinamakan I Gadang.

“Rata-rata nama itu diambil dari bentuk atau tempat pohon itu tumbuh. Seperti I Kandang ya karena tumbuhnya di samping kandang saya,” ujar Mariati ditemani suaminya Amertajaya.

Penamaan pohon durian tidak saja ada di desa Bestala. Dalam sebuah kebun durian yang terletak di Desa Madenan, Kecamatan Tejakula, Buleleng, juga terdapat banyak pohon durian. 

Durian-durian itu diberi nama pula oleh pemiliknya. Durian Madenan yang sedang naik daun adalah bernama Ki Raja.

Nama itu tidak diberikan sembarangan. Ada silsilah nama yang melekat pada durian itu.

Konon, ada 3 pohon durian lokal.

Tiga pohon itu tumbuh di kebun milik I Wayan Sukra.

Saat ini kebun itu dikelola oleh ahli warisnya yakni Mangku Wayan Kade.

Dahulu, ketiga pohon durian itu tumbuh berhimpitan dan bersamaan, namun ketiganya dari varian yang berbeda.

Salah satu dari ketiganya itu bernama I Jompot, sehingga buahnya pun diberi nama varian Jompot.

Para tetua dahulu sangat sayang dengan durian Ki Raja.

Buahnya tidak pernah mengecewakan. Rasanya manis, dagingnya tebal dan berbiji sangat kecil. Orang-orang yang menikmatinya pun merasa puas.

Konon, di desa Madenan terdapat seseorang dengan ilmu spiritual yang tinggi, bernama Kumpi Raja (buyut Raja).

Ia membuat ritual khusus dan memilih hari terbaik untuk melakukan penanaman pohon durian dari jenis ini.

Setelah beberapa lama, tumbuhlah satu pohon durian besar dan subur. Pohon itu lalu dijuluki durian Kaki Raja.

Dan hingga kini dikenal dengan Ki Raja. Ki artinya kakek dan Raja adalah nama orang yang menanam.

Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Desa Madenan, Made Sudiatnya mengatakan, selain Ki Raja, ada durian Mantun yang juga terkenal nikmat. Bahkan durian ini tidak memiliki musim.

Sesuai dengan namanya, Mantun yang berarti terus ada.

“Kalau ke Madenan tidak mendapatkan durian Ki Raja, maka bisa membeli durian Mantun. Rasanya hampir sama, karena Mantun ini masih satu rumpun dengan Ki Raja,” kata dia.

Nama-nama durian di Madenan juga unik. Ada Dungking, Sari Madu, Kutuh, Bonjor, Pengkoh, Sopak, Sari Kuning, Kisid.

Masing-masing nama itu memiliki ciri masing-masing. Seperti I Bonjor, yang memiliki bentuk agak lonjong. Konon durian Bonjor juga satu varietas dengan durian Ki Raja.

“Kalau bonjor, manis, legit, warnanya kuning. Kebanyakan nama itu diambil ke rasa dan fisik. Belimbing namanya bentuknya seperti belimbing, kalau pengkoh namanya fisiknya agak bengkok-bengkok sedikit. Nah kalau Sopak itu diambil dari nama orang,” ujarnya.

Pohon durian dengan beragam nama itu tersebar pada 1.500 KK di desa Madenan. Hampir seluruh KK di desa itu memiliki pohon durian.

Jika dihitung kasar, terdapat 15.000 pohon durian dengan kepemilikan 10 batang pohon per KK.

Selain keunikan durian dari kedua desa itu, juga ada kesamaan mitos yang dipercaya hingga kini.

Bila tidak diberi nama, maka buah durian dapat menimpa seseorang atau bahkan pemiliknya sendiri.

“Sering kejadian di sini kalau tidak dikasih nama bisa kejatuhan buahnya,” kata Sudiatnya.

Kepercayaan itu juga diyakini oleh Suini, Made Mariati dan Made Amertajaya di desa Bestala. Hingga kini tidak ada pohon durian yang tidak bernama di desa itu.

“Kalau durian kane tidak ada namanya, tapi kalau durian lokal, semua harus isi nama. Kalau tidak bisa buahnya bisa timpa orang,” kata Suini. (*)

Editor : I Putu Suyatra
#bali #mitos #unik #durian #buleleng