BALIEXPRESS.ID – Seorang dosen di Bali menciptakan instalasi seni menggunakan tengkorak sapi suci di Desa Tambakan, Buleleng, Bali. Ada pesan soal ritual suci Hindu dan penciptaan air dalam karya tersebut. Seperti apa?
Beberapa bambu menjulang membentuk kerucut. Di sepanjang ruasnya tergantung tengkorak-tengkorak yang telah mengering. Tengkorak itu adalah tengkorak sapi, utuh dengan tanduknya.
Ada seratus lebih tengkorak sapi yang tergantung mengikuti instalasi yang dibangun di Desa Tambakan, salah satu desa di Bali Utara.
Beberapa instalasi juga dibuat di areal kebun jeruk milik Desa Tambakan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.
Yang paling mencuri perhatian adalah instalasi tengkorak sapi dengan ukuran raksasa.
Instalasi itu dipasang memojok di arah barat laut.
Wajahnya menghadap ke timur menatap Pura Prajapati yang ada di depannya.
Puluhan instalasi yang dibangun itu bukan tanpa alasan. Benda-benda itu dibuat untuk melestarikan tradisi Hindu Bali dan menjaga kelestarian alam di desa.
Instalasi itu akan mengingatkan masyarakat desa kepada sebuah ritual suci yang melibatkan pengorbanan sapi.
Ritual ini diselenggarakan di Desa Tambakan. Ritual yang sebelumnya hanya diadakan dua tahun sekali, kini diupayakan untuk lebih dikenal oleh masyarakat luas agar dapat dinikmati dan dimaknai setiap saat.
Sapi, yang dikenal dengan sebutan I Dewa oleh masyarakat setempat, sangat dihormati semasa hidupnya.
Ketika sapi ini melintas, orang-orang akan bersujud sebagai bentuk penghormatan.
Namun, setelah upacara, kondisi tengkorak sapi yang telah dikorbankan sering kali tidak terurus, bahkan dianggap sebagai sampah.
Tengkorak inilah yang kemudian dikumpulkan oleh I Nyoman Rediasa, seorang dosen Seni Rupa di Undiksha (Universitas Pendidikan Ganesha) di Buleleng, Bali.
Rediasa yang kerap disapa Polenk itu, berusaha mengubah persepsi masyarakat dan menginisiasi sebuah proyek untuk menyucikan kembali sapi-sapi tersebut.
Proyek ini melibatkan penanaman pohon di desa Tambakan.
Tambakan sendiri merupakan hulu dari pulau Bali dan pusat air bagi desa-desa di hilir.
Inisiatif ini juga bertujuan untuk menjawab tantangan ekologi yang dihadapi oleh desa-desa hilir.
“Proyek ini sudah berjalan lama, dan butuh pendekatan bertahun-tahun. Saya berusaha membentuk mitos baru yang bisa dipercaya, bahwa pohon-pohon ini suci dan tidak boleh ditebang. Sehingga pohon ini nantinya dapat menjadi sumber air yang menghidupi warga desa,” ujar Polenk, Senin (6/8).
Polenk mengklaim, instalasi ini akan berdampak dalam jangka panjang. Kemungkinan 20-30 tahun ke depan, ketika pohon-pohon telah tumbuh besar dan menciptakan lingkungan yang sakral dan terjaga.
Instalasi ini disesuaikan dengan jenis pohon yang ditanam. Pohon-pohon besar seperti beringin ditanam dengan jarak yang lebih jauh, sementara pohon-pohon yang lebih kecil seperti kayu jelema ditanam lebih dekat.
“Lahan yang digunakan untuk proyek ini adalah lahan milik desa. Saya berkarya bukan untuk diri saya, tetapi untuk desa,” jelas Polenk.
Instalasi ini, dikenal sebagai "Seni Instalasi Partisipatif Teo-Ekologis Sapi Duwe," dipamerkan pertama kali pada Selasa, 6 Agustus 2024, di jaba Pura Prajapati, Desa Tambakan.
Pameran ini juga merupakan bagian dari disertasi doktoral Polenk di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
“Proyek seni instalasi ini adalah bagian dari disertasi saya di program doktoral ISI Denpasar, dan nantinya karya seni ini akan tetap berdiri di Desa Tambakan sebagai semacam monumen,” ujar Polenk Rediasa.
Untuk diketahui, Tradisi Sapi Duwe di Desa Tambakan memang unik. Warga desa memiliki tradisi menghaturkan godel atau anak sapi kepada dewa.
Setelah diupacarai, sapi tersebut dilepasliarkan ke hutan. Setiap dua tahun sekali, warga desa menggelar upacara Mungkah Wali.
Warga akan menangkap sapi-sapi liar tersebut untuk dipotong dan digunakan dalam upacara adat, serta dagingnya dibagikan kepada warga.
Tulang dan tengkorak sapi yang masih disimpan oleh warga kemudian digunakan sebagai materi utama dalam instalasi seni ini.
Melalui pendekatan eko-art, Polenk berharap instalasi ini dapat mengungkap makna ritual yang lebih mendalam dan membuka tafsir baru terhadap tradisi Sapi Duwe.
Proses pembuatan instalasi ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat Desa Tambakan, sehingga tidak hanya menjadi sebuah karya seni, tetapi juga sebuah gerakan sosial yang mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan spiritualitas.
“Instalasi ini menciptakan pengalaman visual yang memukau dan menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya pelestarian alam dan spiritualitas masyarakat,” tambah Polenk.
Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat identitas budaya, dan mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan proyek ini dapat menjadi model pelestarian lingkungan yang inspiratif bagi desa-desa lain di Bali.
“Ini juga menjawab momen Worl Water Forum beberapa waktu lalu. Kalau even itu kan mengelola air tapi saya mencoba untuk menciptakan sumber air. Itu yang harus kita pikirkan bersama untuk keberlangsungan sumber air ini,” kata dia.
Melalui instalasi seni ini, Desa Tambakan diharapkan dapat menjadi role model dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan, sesuai dengan konsep Tri Hita Karana.
Polenk berharap bahwa seni instalasi ini dapat memperkuat identitas budaya. Karya seni ini juga berfungsi sebagai alat edukatif yang mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar mereka. ***
Editor : I Putu Suyatra