BALIEXPRESS.ID - Desa Rendang, salah satu dari enam desa yang ada di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, memiliki sejarah yang kaya dan menarik.
Sejarah nama "Rendang" berasal dari kata "Reneng," yang berarti damai. Jadi tidak ada hubungannya dengna masakan padang.
Dikutip dari blog desa, selama masa Pemerintahan Adat Bali, Desa Rendang terkenal sebagai wilayah yang damai, di mana masyarakat hidup rukun dan tertib, menjalankan kehidupan sesuai dengan aturan adat yang disepakati bersama.
Seiring waktu, kata "Reneng" berubah menjadi "Rendang."
Pada awalnya, Desa Rendang berada di bawah wilayah Kerajaan Klungkung, dipimpin oleh I Dewa Anom dari Nyalian, yang kemudian dikenal dengan sebutan I Dewa Anom Rendang.
Di bawah kepemimpinannya, Desa Rendang mengalami kemajuan signifikan, terutama dalam bidang Parahyangan dengan pembangunan tempat suci, serta sarana dan prasarana seperti jalan dan pengairan.
Berkat perhatian serius terhadap kebutuhan masyarakat, Desa Rendang berkembang menjadi wilayah yang aman dan sejahtera.
Sebagai bentuk penghormatan, nama I Dewa Anom diabadikan menjadi nama jalan, yaitu Jalan Dewa Anom.
Pada tahun 1917, Desa Rendang bergabung dengan wilayah Karangasem, meliputi daerah Kubakal dan Alasngandang.
Penduduknya sebagian besar berasal dari Klungkung, Bangli, Gianyar, dan Badung, namun tetap hidup rukun berdampingan.
Seiring dengan perkembangan, Desa Rendang terus mengalami kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk pemerintahan, pembangunan, dan kehidupan masyarakat.
Melalui pendekatan pembangunan bottom-up planning, masyarakat Desa Rendang berhasil membangun tatanan kehidupan yang lebih sejahtera, maju, dan mandiri. ***
Editor : I Putu Suyatra