Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal Usul Terbentuknya Desa Baha: Sejarah Tersembunyi di Balik Nama yang Membara di Tengah Kekacauan Penyerangan Mahapatih Gajah Mada

I Putu Suyatra • Jumat, 23 Agustus 2024 | 20:27 WIB
Goa Perjuangan di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.
Goa Perjuangan di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, sebuah desa yang namanya memiliki makna mendalam dan cerita panjang, menyimpan sejarah yang hingga kini masih dipenuhi teka-teki.

Nama Desa Baha tak dapat dipisahkan dari akar sejarahnya, yang tercermin dalam berbagai sumber seperti lontar, babad, dan peninggalan sejarah lainnya.

Namun, meskipun berbagai usaha telah dilakukan untuk mengungkap sejarahnya, kisah lengkap berdirinya Desa Baha masih tetap menjadi misteri.

Perjuangan Menelusuri Asal-Usul

Sejauh ini, belum ada catatan tertulis atau babad yang secara pasti mengungkap asal-usul Desa Baha.

Namun, berkat cerita yang diwariskan dari para tetua desa, seperti disarikan dari website Desa Baha, beberapa potongan sejarah mulai tersusun, meskipun jauh dari sempurna.

Dari berbagai kisah, terungkap bahwa Desa Baha lahir di tengah kekacauan masa lalu, saat Kerajaan Bedahulu runtuh setelah ditaklukkan oleh pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1265 Saka.

Kekosongan kekuasaan di Bali saat itu menyebabkan huru-hara, hingga akhirnya I Gusti Agung Pasek Gelgel diangkat menjadi Raja Bali.

Lahirnya Nama Baha: Bara yang Membara di Hutan

Legenda menyebutkan bahwa nama "Baha" muncul di era Raja Mengwi, Cokorde Dimade, yang memimpin ekspansi wilayah pada tahun 1621 Saka.

Dalam perjalanannya menuju wilayah Ayunan, Raja Mengwi dan pasukannya dihadang oleh kobaran api besar yang tampak dari kejauhan, yang dipercaya sebagai upaya Arya Ayunan untuk menghentikan langkah mereka.

Api yang menyala-nyala tersebut meninggalkan kesan mendalam, hingga hutan tempat api itu berkobar dikenal sebagai Alas Baha—yang berarti "bara panas" atau "lava" dalam bahasa Bali.

Nama ini kemudian melekat menjadi nama desa yang kita kenal sekarang, Desa Baha.

Pertempuran dan Pengorbanan: Jejak Sejarah di Setiap Sudut Desa

Perjalanan pasukan Mengwi tak hanya melahirkan nama Desa Baha, tetapi juga menorehkan jejak sejarah di berbagai tempat yang sekarang menjadi bagian dari desa ini.

Dari Banjar Pengabetan yang berasal dari istilah "penyabetan" (merabas hutan) hingga Banjar Bedil yang dinamai karena letusan bedil yang menggelegar, setiap sudut Desa Baha memiliki kisahnya sendiri yang penuh dengan intrik dan perjuangan.

Ketegangan yang Terhindarkan: Penundaan Penyerangan Arya Mambal

Di tengah perjalanan yang penuh tantangan, pasukan Raja Mengwi dihadang oleh air bah yang deras, memaksa mereka untuk menunda penyerbuan terhadap Arya Mambal.

Tempat tersebut kini dikenal sebagai Tukad Penet, sungai yang menjadi batas timur Desa Baha.

Dengan terhindarnya pertempuran besar, Raja Mengwi dan pasukannya kembali ke istana, meninggalkan jejak sejarah yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Menapak Jejak Sejarah: Warisan yang Tak Tergantikan

Kini, Desa Baha terbagi menjadi dua desa adat, Desa Adat Baha dan Desa Adat Cengkok, serta tujuh banjar yang masing-masing memiliki sejarah dan asal-usul yang unik.

Setiap nama banjar, mulai dari Pengabetan hingga Cengkok, menyimpan cerita perjuangan, pengorbanan, dan kekuatan yang membentuk Desa Baha menjadi seperti sekarang.

Meski kisah lengkapnya masih diselimuti kabut waktu, jejak-jejak ini menjadi saksi bisu dari sejarah yang tak terlupakan. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #baha #kerajaan bedahulu #kerajaan majapahit #mahapatih gajah mada #sejarah #badung