BALIEXPRESS.ID - Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten gianyar, yang dikenal sebagai salah satu desa bersejarah di Bali, menyimpan cerita-cerita yang penuh dengan legenda dan perjuangan.
Sejarah desa ini terbagi dalam empat periode utama yang mencerminkan perjalanan panjangnya dari masa kerajaan hingga masa pembangunan.
Masa Kerajaan: Terbentuknya Desa Batubulan
Sejarah Batubulan dimulai pada abad ke-17, saat pemberontakan I Gusti Agung Maruti mengguncang Kerajaan Gelgel, Klungkung.
Di tengah kekacauan tersebut, seorang anak ditemukan oleh seorang pengendara kuda dan kemudian dibesarkan oleh I Gusti Ngurah Bija dari Penatih dan I Gusti Ngurah Jambe Pule dari Kerajaan Badung.
Anak itu kemudian diberi nama Dewa Agung Kalesan, yang ternyata berasal dari keturunan Dalem Sagening.
Dewa Agung Kalesan, setelah dewasa, mendapat perintah untuk membangun istana di hutan yang terletak di timur Kerajaan Badung.
Saat hutan dibuka, ia menemukan sebuah batu yang bersinar seperti bulan. Dari sinilah nama "Batubulan" lahir.
Batu bercahaya ini kini disimpan di Merajan Agung Batubulan sebagai simbol awal mula desa ini.
Masa Penjajahan: Semangat Melawan Penindasan
Seperti desa-desa lain di Bali, Batubulan juga mengalami pahitnya masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Penindasan yang dilakukan oleh penjajah justru memicu semangat persatuan dan perlawanan di kalangan rakyat Batubulan.
Dengan tekad kuat, mereka berjuang melawan ketidakadilan dan menolak penjajahan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Masa Kemerdekaan: Perjuangan Mempertahankan Kedaulatan
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Batubulan turut merasakan euforia tersebut.
Namun, kemerdekaan ini tidak datang tanpa tantangan. Pasukan NICA berusaha kembali menancapkan cengkeraman penjajahannya, dan para pemuda Batubulan yang tergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI) bangkit untuk mempertahankan kedaulatan.
Salah satu tokoh pejuang yang berjasa adalah I Dewa Nyoman Kaleran, yang menjabat sebagai ketua PRI Anak Ranting Batubulan.
Masa Pembangunan: Batubulan di Era Modern
Pasca kemerdekaan, Batubulan mulai memasuki masa pembangunan, di mana nilai-nilai budaya dan sejarah tetap dijaga, sekaligus merangkul perkembangan zaman.
Desa ini kini menjadi salah satu pusat seni dan budaya di Bali, yang tidak hanya menyimpan sejarah panjang tetapi juga menawarkan pesona budaya yang kaya.
Dengan sejarah yang penuh warna dan legenda yang menarik, Desa Batubulan tetap menjadi saksi bisu perjalanan panjang Bali menuju kemerdekaan dan kemajuan.
Keberanian, semangat juang, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus menjaga dan memajukan desa ini. ***