BALIEXPRESS.ID - Sejarah Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, menyimpan cerita unik dan penuh misteri.
Sebab, dalam sejarah yang tertulis pada website Desa Penarungan, tertuang adanya saling balas kutukan antara I Gusti Ngurah Putu Kamasan dengan seorang brahmana bernama Ida Enderan.
Seperti apa ceritanya?
Dikutip dari website Desa Penarungan, pada sekitar tahun 900 SM, dua bersaudara bernama I Gusti Ngurah Putu Kamasan dan I Gusti Ngurah Ketut Kamasan meninggalkan Desa Gelgel, Klungkung, bersama 60 kepala keluarga.
Mereka bergerak menuju Desa Sibang Srijati, namun perjalanan mereka penuh dengan tantangan yang tak terduga.
Setelah menetap sementara di Tanah Ayu Blungbungan, mereka memutuskan untuk pindah lagi ke barat.
Di tempat baru yang kini dikenal sebagai Munduk Umadesa dan Munduk Umariyon, mereka mulai mengolah lahan untuk bertani.
Namun, cobaan datang ketika pondok I Gusti Ngurah Ketut Kamasan diserang oleh kawanan semut yang tak terkalahkan, memaksa mereka untuk mencari tempat baru.
Keberanian I Gusti Ngurah Putu Kamasan membawa mereka ke timur laut, di mana mereka menemukan lahan yang subur untuk ditempati.
Di sana, mereka membangun Sanggar Tawang dan sebuah Pura Batu Aya, yang hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat suci Hindu Bali.
Namun, kisah ini tidak berhenti di sana. Sebuah pertemuan dengan Pendeta Ida Enderan, utusan dari Dalem Gelgel, membawa malapetaka.
Kesalahpahaman yang terjadi saat pertemuan itu memicu kutukan yang dilontarkan oleh Ida Enderan, mengutuk keturunan I Gusti Ngurah Putu Kamasan agar terpencar-pencar seperti nasi yang tercecer.
Kutukan itu dibalas oleh I Gusti Ngurah Putu Kamasan, yang mengutuk Brahmana yang tidak setia kepada keturunannya.
Pertemuan ini menjadi momen yang mengubah sejarah Desa Penarungan dan menimbulkan misteri yang masih terasa hingga kini.
Desa Penarungan, yang berasal dari kata "Air Arungan," kini dikenal dengan Subak Penarungan, sebuah sistem pengairan yang membawa kemakmuran bagi para petani di daerah tersebut.
Kisah ini bukan hanya sekadar sejarah, tetapi juga cerminan dari perjuangan dan misteri yang melingkupi Desa Penarungan.
Apakah kutukan itu masih berpengaruh hingga kini?
Sejarah ini menjadi cermin bagi generasi berikutnya untuk merenungi makna dari setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh para leluhur mereka.
Semoga kisah ini memberikan wawasan dan manfaat bagi kita semua. ***
Editor : I Putu Suyatra