Sejarah Terbentuknya Desa Blimbingsari di Jembrana Bali: Perpindahan Warga dari Denpasar dan Perjuangan Membangun Desa di Tengah Hutan
I Putu Suyatra• Minggu, 25 Agustus 2024 | 22:23 WIB
Sejarah Desa Belimbingsari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali terjadi saat zaman penjajahan Belanda.
BALIEXPRESS.ID - Desa Belimbingsari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, merupakan salah satu desa yang lahir pada masa penjajahan Belanda.
Dikutip dari website Desa Belimbingsari, berikut sejarah desa yang berada di bagian bara Pulau Bali tersebut.
Pada tahun 1939, sebuah perpindahan besar-besaran terjadi di Denpasar yang membawa dampak besar bagi sekelompok warga yang terlibat.
Pemerintah Belanda, yang kala itu berkuasa, memandang perpindahan agama yang terjadi di desa-desa sekitar Denpasar sebagai potensi ancaman.
Mereka pun merencanakan perpindahan sekelompok warga untuk meredakan kekacauan yang timbul.
Asisten Yansen, perwakilan Pemerintah Belanda di Denpasar, memberikan restu atas rencana perpindahan ini.
Sebuah tim yang terdiri dari Made Sela, Made Rungu, dan Nyoman Regig ditugaskan untuk mencari lahan baru.
Dengan tekad yang kuat, mereka berjalan kaki selama tiga hari untuk meninjau beberapa lokasi, termasuk hutan di sebelah utara Melaya.
Di sinilah, di dekat Pura Indrakusuma (Candikusuma), mereka menaiki pohon tinggi untuk memantau area tersebut dan akhirnya memilih hutan Melaya, yang kini dikenal sebagai Blimbingsari.
Awal Pembangunan dan Perpindahan Warga
Dengan dukungan Regent Jembrana dan Sedahan Agung, warga yang dipindahkan berhasil membuka lahan di tengah hutan yang subur.
Sebelum kedatangan mereka, pemerintah telah menugaskan narapidana untuk membangun barak-barak di dekat tibuan buaya, yang sekarang disebut Dam Eka Santosa.
Pada tahun 1939, tanpa dokumentasi resmi yang mencatat tanggal pasti, warga mulai memasuki barak-barak ini.
Dari kisah yang diwariskan secara lisan, diketahui bahwa mereka berhasil merayakan Natal bersama keluarga di tahun yang sama.
Perjuangan di Tengah Hutan
Kelompok pertama yang tiba di hutan ini terdiri dari 30 laki-laki yang ditugaskan untuk membuka lahan.
Mereka tinggal di barak sementara dan membangun gubug-gubug sederhana sebagai persiapan menyambut keluarga mereka.
Pembagian lahan dilakukan secara lotre, dengan setiap orang mendapatkan 2 hektar tanah, termasuk 20 are untuk pekarangan.
Pemimpin desa dan pemimpin rohani diberikan lokasi yang lebih sentral. Nama Blimbingsari diambil dari pohon blimbing yang banyak tumbuh di wilayah ini, meski pohon tersebut hanya berbunga tanpa berbuah.
Ketika tiba saatnya menjemput keluarga dari desa asal, momen ini menjadi penuh haru.
Warga dibekali dengan perlengkapan memasak, alat bertani, dan buah kelapa. Kelapa yang mereka bawa kemudian ditanam di kebun-kebun baru mereka, hingga saat ini menjadi hasil pertanian utama di Blimbingsari.
Pembangunan Desa dengan Semangat Bali
Masyarakat Blimbingsari membangun desa mereka dengan mengikuti prinsip "nyegara gunung" yang mencerminkan budaya Bali.
Desa ini terletak di tengah hutan, dengan gunung di utara dan laut di selatan.
Rombongan pertama dipimpin oleh Made Sela (Pekak War) sebagai Kelihan, dan pemimpin rohani mereka adalah penginjil Made Cadug (Gurun Luh Sudarmi).
Desa Blimbingsari berkembang pesat. Warga baru dari Madangan dan keluarga lainnya mulai berdatangan, dan desa ini berkembang hingga ke Ambyarsari pada tahun 1947.
Dengan kerja keras yang luar biasa, mereka berhasil mengatur jalan-jalan hingga ke kebun-kebun, menanam palawija untuk mendukung keluarga di desa asal mereka.
Kini, Blimbingsari menjadi simbol perjuangan dan keberhasilan warga dalam membangun kehidupan baru di tanah yang sebelumnya liar. ***