BALIEXPRESS.ID – Desa Celuk, yang terkenal sebagai pusat kerajinan perak di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, menyimpan sejarah panjang dan menarik yang mungkin belum banyak diketahui publik.
Terdiri dari tiga wilayah Desa Adat yakni Cemenggaon, Tangsub, dan Celuk sendiri, masing-masing memiliki latar belakang cerita yang unik dan penuh makna.
Berikut ulasan singkat mengenai asal usul ketiga Desa Adat tersebut, seperti dikutip dari website Desa Celuk.
1. Desa Adat Cemenggaon: Jejak Warisan Arya Cameng
Awal mula Desa Adat Cemenggaon berkaitan erat dengan turunan Arya Cameng yang dahulu bermukim di wilayah ini.
Karena suatu alasan, mereka kemudian pindah ke Desa Paguyangan di Denpasar. Untuk mengisi kekosongan, Desa Sukawati menetapkan wilayah tersebut sebagai pemukiman bagi para prajurit dan penduduk baru.
Nama "Cemenggaon" sendiri berasal dari perpaduan kata "Cameng" yang merujuk pada Arya Cameng dan "kaon" yang dalam bahasa Bali berarti pindah.
Nama ini menjadi penanda sejarah perpindahan dan keberadaan komunitas baru yang menetap di sana, sekaligus menghormati leluhur yang pernah mendiami wilayah tersebut.
2. Desa Adat Tangsub: Legenda Dalang Terkenal yang Menginspirasi Nama Desa
Di sebelah barat Cemenggaon terdapat Desa Adat Tangsub, yang dulunya merupakan pedukuhan kecil dengan sekitar 25 kepala keluarga.
Wilayah ini dikenal karena keberadaan seorang dalang wayang kulit yang sangat mahir dan terkenal hingga ke daerah sekitar, bernama I Gde Binder.
Karena keahliannya yang luar biasa, masyarakat setempat memberi julukan "Dalang Kasub", yang berarti dalang terkenal.
Seiring berjalannya waktu, sebutan tersebut berubah pengucapan menjadi "Langsub" dan akhirnya menjadi "Tangsub", yang kemudian digunakan sebagai nama resmi desa ini.
Kisah ini menunjukkan betapa budaya dan seni tradisional memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan identitas sebuah komunitas.
3. Desa Adat Celuk: Kisah Pemisahan dan Pertumbuhan Wilayah
Desa Adat Celuk sendiri berdiri sejak tahun 1305 Isaka Warsa dan awalnya merupakan bagian dari Desa Adat Sangsi.
Wilayahnya membentang luas namun terpisah oleh pemukiman lain, sehingga disebut "Celuk" yang berasal dari kata "Selak" atau "Seluk" dalam bahasa Bali, berarti terpisah atau terselip.
Seiring pertumbuhan populasi dan kebutuhan akan pengelolaan wilayah yang lebih efektif, Desa Celuk kemudian memisahkan diri dari Desa Sangsi dan berdiri sebagai desa adat yang mandiri.
Nama "Celuk" tidak hanya mencerminkan kondisi geografisnya saat itu, tetapi juga menjadi identitas yang melekat hingga kini, terutama dikenal sebagai sentra kerajinan perak yang mendunia.
Mengungkap Kekayaan Budaya di Balik Nama
Ketiga desa adat di bawah naungan Perbekelan Desa Celuk ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya sejarah serta budaya Bali.
Setiap nama desa tidak hanya sekadar identitas geografis, tetapi juga menyimpan cerita dan nilai-nilai leluhur yang terus dilestarikan oleh generasi penerus.
Bagi wisatawan maupun pecinta sejarah, mengenal lebih dalam tentang asal-usul Desa Celuk dan wilayah adat di sekitarnya bisa menjadi pengalaman yang menambah wawasan sekaligus apresiasi terhadap kekayaan budaya Bali yang tak ternilai harganya. ***
Editor : I Putu Suyatra