Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Kerta dam Kaitannya dengan Pura Alas Angker: Berawal dari Sebuah Wabah

I Putu Suyatra • Rabu, 28 Agustus 2024 | 03:31 WIB

Loga Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Gianyar, Bali
Loga Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Gianyar, Bali

BALIEXPRESS.ID - Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, menyimpan sejarah Bali dan menjadi bagian dari perjalanan Rsi Markandeya. 

Dikutip dari website Desa Kerta, sejarah desa tersebut diawali dari peristiwa sebelum berdirinya Kerajaan Payangan. 

Pada zaman dahulu, jauh sebelum berdirinya Kerajaan Payangan, wilayah ini hanyalah hutan belantara yang dihuni oleh binatang buas.

Namun, semuanya berubah ketika seorang Maha Rsi sakti bernama Rsi Markandeya tiba di daerah tersebut. Rsi Markandeya, yang dikenal sebagai seorang arsitek dan pendeta yang bijaksana, memiliki visi yang luar biasa.

Dalam semedinya, beliau melihat "Para" dan "Hyang," yang berarti tempat suci atau tempat yang baik, dan sejak saat itu, wilayah ini dikenal sebagai Payangan.

Perjalanan Mistis Rsi Markandiya di Hutan Belantara

Selama perjalanan spiritualnya di Payangan, Rsi Markandiya tiba di sebuah tempat yang masih berupa hutan belantara.

Bersama para pengikutnya, ia memulai perabasan hutan untuk membuka lahan pertanian. Namun, tak lama kemudian, mereka diserang oleh wabah penyakit yang mematikan.

Wabah ini hampir saja menghancurkan seluruh pengikutnya.

Tak ingin menyerah pada keadaan, Rsi Markandeya melakukan pemujaan dan memohon kepada para dewa untuk menyembuhkan para pengikutnya.

Dengan kesaktian yang dimilikinya, Rsi Markandeya berhasil mengatasi wabah tersebut, dan para pengikutnya pun sembuh.

Tempat di mana Rsi Markandeya melakukan pemujaan ini dikenal sebagai "Alas Angker", dan hingga kini berdiri Pura Dang Kahyangan yang disebut Pura Alas Angker sebagai tanda penghormatan.

Keajaiban di Desa Kerta

Setelah wabah berhasil diatasi, para pengikut Rsi Markandeya melanjutkan kegiatan bertani di daerah tersebut. Ajaibnya, tanah di sana sangat subur dan cocok untuk pertanian.

Semua yang ditanam tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen melimpah, membawa kesejahteraan bagi seluruh penduduk.

Oleh karena itu, wilayah ini kemudian diberi nama "Kertha", yang berarti "sejahtera". Nama ini terus digunakan hingga sekarang, mencerminkan kemakmuran yang diwariskan oleh Rsi Markandiya.

Perkembangan Desa Kerta Menjadi Desa Definitif

Seiring berjalannya waktu, Desa Kerta semakin berkembang dan pada tahun 1958, desa ini ditetapkan sebagai desa definitif.

Desa Kerta kemudian dipimpin oleh seorang Perbekel atau Kepala Desa. Berikut adalah daftar 4 para pemimpin yang telah berjasa memimpin Desa Kerta:

  1. Tjokorda Gede Alit (Almarhum)
  2. Anak Agung Gede Agung (1977-1993)
  3. I Made Kicen Suarthana (1993-2007)
  4. I Made Gunawan, SP., SH., M.Par (2007-)

Desa Kerta kini berdiri sebagai saksi bisu dari perjalanan panjang yang penuh dengan keajaiban dan kesaktian Rsi Markandeya.

Warisan sejarah dan spiritual ini terus hidup di tengah masyarakat, mengingatkan kita akan pentingnya menghormati tradisi dan leluhur yang telah membawa kesejahteraan bagi generasi berikutnya.

Keberadaan Pura Alas Angker dan Desa Kerta merupakan bukti nyata dari keajaiban yang terjadi di masa lalu, dan hingga kini, kisah Rsi Markandiya masih menjadi inspirasi bagi banyak orang. *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar #Rsi Markandeya #Desa Kerta #payangan