Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Sejarah Desa Pelaga: Asal Usul Namanya Ternyata dari Kasus Pembunuhan Anak Raja Gegelang

I Putu Suyatra • Kamis, 29 Agustus 2024 | 01:30 WIB
PURA PUCAK MANGU: Pura Pucak Mangu jadi saksi bisu munculnya nama Pucak Pangelengan dan lidah Raja Mengwi dirajah.
PURA PUCAK MANGU: Pura Pucak Mangu jadi saksi bisu munculnya nama Pucak Pangelengan dan lidah Raja Mengwi dirajah.

BALIEXPRESS.ID - Menggali sejarah Desa Pelaga Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali seperti membuka lembaran masa lalu yang dipenuhi misteri dan cerita rakyat yang menarik.

Meskipun data konkret tentang sejarah desa ini sulit ditemukan, kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk lontar “Medang Kemulan,” memberikan gambaran sekilas tentang asal-usul Desa Pelaga.

Dikutip dari website Desa Pelaga, pada abad IX, di masa pemerintahan Raja Jaya Pangus, berdirilah Kerajaan Gegelang.

Sang Raja memiliki dua putra, yang masing-masing lahir dari permaisuri dan seorang selir.

Kehadiran dua putra ini memunculkan kebahagiaan besar di istana, namun juga menimbulkan keresahan di antara rakyat Gegelang mengenai siapa yang pantas mewarisi takhta.

Mayoritas rakyat mendukung putra kedua yang lahir dari permaisuri, sementara putra pertama merasa terancam dan mulai merencanakan sesuatu yang gelap.

Dalam rencana liciknya, dia bersekongkol dengan Maha Patih kerajaan untuk membunuh adiknya di hutan.

Kejahatan ini dilakukan dengan rapi, jasad sang adik disembunyikan di bawah pohon yang telah lapuk.

Namun, rahasia gelap ini tak bertahan lama.

Seorang pemburu yang kebetulan bermalam di hutan mendapatkan wahyu dari dewa tentang pembunuhan ini.

Wahyu tersebut mengungkapkan kata-kata misterius “Pa-Ra-La-Ga,” yang kemudian terpecahkan sebagai petunjuk bahwa putra mahkota dari permaisuri telah dibunuh oleh kakaknya dengan bantuan Maha Patih Langlang Duta.

Setelah pengungkapan ini, Raja Gegelang memerintahkan pencarian jasad putranya yang akhirnya ditemukan.

Raja pun murka dan kerajaan perlahan-lahan runtuh setelah kematiannya.

Nama Gegelang kemudian berubah menjadi Pelaga. Asal usul nama itu merupakan warisan dari kata “Paralaga” yang sering dibicarakan oleh masyarakat.

Jejak kerajaan ini masih dapat ditemukan di Pura Pucak Gegelang, yang diyakini sebagai pusat kerajaan di masa lalu.

Hingga kini, pelinggih-pelinggih di pura tersebut masih berdiri sebagai saksi bisu dari kejayaan masa lalu.

Pada masa kini, Desa Pelaga yang kita kenal merupakan hasil penggabungan dua desa administratif pada tahun 1957, yakni Desa Pelaga dan Desa Tiyingan.

Desa ini kini terdiri atas sembilan banjar dinas dan delapan desa adat, dengan sejarah panjang yang mengiringi setiap sudutnya.

Dengan segala cerita dan peninggalannya, Desa Pelaga tidak hanya menjadi tempat yang sarat akan sejarah, tetapi juga menyimpan daya tarik yang memancing rasa ingin tahu siapa pun yang ingin menggali lebih dalam tentang masa lalunya yang penuh intrik dan kejayaan. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pembunuhan #asal usul #sejarah #badung #desa pelaga