BALIEXPRESS.ID - Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan sejarah yang penuh teka-teki.
Meskipun tidak ada bukti-bukti otentik seperti prasasti atau catatan sejarah yang mendukung, kisah tentang asal usul desa ini terus diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, membawa kita kembali ke masa lalu yang penuh misteri.
Menurut cerita turun-temurun, seperti dikutip dari website desa tersebut, Kerobokan awalnya dikenal dengan nama Desa Pidanmasana.
Desa ini berada di sebelah selatan lokasi Kerobokan saat ini, dengan penduduk yang tersebar dari utara ke selatan.
Desa Pidanmasana pernah dipimpin oleh Dewa Bagus Manik Macuet, seorang pemimpin yang dikenal keras dan otoriter.
Sifat kepemimpinannya yang diktator membuat penduduk merasa tertekan dan takut, bahkan menganggapnya sebagai raja.
Namun, kekuasaan Dewa Bagus tidak berlangsung lama.
Ia meninggal karena penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tanpa meninggalkan keturunan di desa tersebut.
Sebelum memimpin Desa Pidanmasana, Dewa Bagus Manik Macuet tinggal di Desa Pegamelan (sekarang dikenal sebagai Desa Penarukan).
Di sana, ia menikah dengan anak perempuan Jero Bendesa dan memiliki seorang anak laki-laki.
Namun, karena pernikahannya dengan orang yang berkasta rendah, masyarakat Desa Pegamelan menurunkan kastanya menjadi Bagus.
Merasa tidak puas dengan penurunan kasta ini, ia pergi ke Desa Pidanmasana seorang diri, dan di sanalah ia dipercaya menjadi pemimpin desa karena wibawa dan kebijaksanaannya.
Sepeninggal Dewa Bagus Manik Macuet, Desa Pidanmasana mengalami kekacauan besar.
Perpecahan antar penduduk menyebabkan konflik yang berujung pada jatuhnya korban jiwa, sehingga populasi desa menurun drastis.
Persatuan yang semula kuat menjadi sulit dipertahankan, bahkan cenderung menuju kehancuran.
Untuk menghindari situasi yang semakin buruk, beberapa penduduk desa memutuskan untuk pindah ke utara dan membangun pemukiman baru yang kemudian diberi nama Kerobokan.
Nama ini konon diambil dari kata "kerobok," yang dalam bahasa Bali berarti pertikaian atau perkelahian, sebagai refleksi dari konflik yang menyebabkan kehancuran Desa Pidanmasana.
Wilayah Kerobokan yang baru saat itu mencakup Banjar Dalem dan Banjar Bale Agung, sebelum akhirnya berkembang menjadi desa yang lebih besar.
Pemimpin pertama desa ini adalah Kaki Mukiadi, yang menjadi kelian desa adat, sementara urusan administrasi pemerintahan diatur oleh seorang Manca yang berkedudukan di Desa Penarukan.
Pada tahun 1969, terjadi penggabungan Keperbekelan Kerobokan dengan Keperbekelan Kloncing, yang sebelumnya berdiri sendiri.
Penggabungan ini dilakukan untuk memenuhi persyaratan administratif pembentukan sebuah desa dinas.
Dengan bergabungnya Perbekelan Kloncing, Desa Kerobokan kini memiliki tiga banjar, yaitu Banjar Dalem, Banjar Bale Agung, dan Banjar Kloncing.
Meskipun Banjar Kloncing secara adat tetap berdiri sendiri sebagai desa adat, Desa Kerobokan kini mewilayahi dua desa adat, yaitu Desa Pakraman Kerobokan dan Desa Pakraman Kloncing.
Sejarah panjang dan penuh dinamika ini menjadikan Desa Kerobokan sebagai salah satu desa dengan warisan budaya yang kaya dan penuh makna, yang terus dijaga oleh masyarakatnya hingga kini. ***
Editor : I Putu Suyatra