Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Serjarah dan Asal Usul Nama Desa Patemon di Buleleng Bali: Legenda Cili Pati Ularan dan Pertemuan yang Melahirkan Sebuah Desa

I Putu Suyatra • Kamis, 29 Agustus 2024 | 16:06 WIB
Sejarah Kepala Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali
Sejarah Kepala Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali

BALIEXPRESS.ID - Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, yang kini menjadi salah satu desa maju di Bali Utara, memiliki sejarah yang begitu erat dengan legenda perjalanan Cili Pati Ularan.

Bersama dengan sekitar 250 pengikutnya, Cili Pati Ularan menapaki perjalanan menuju Tanah Den Bukit (Buleleng), melewati wilayah Tabanan, Tamblingan, dan Gobleg, hingga akhirnya menetap di Tanah Gedang Janur (sekarang Busungbiu) berkat petunjuk gaib yang diterimanya.

Dikutip dari website Desa Patemon, salah satu tokoh yang paling penting dalam sejarah terbentuknya Desa Patemon adalah Dewa Ngurah Tebu Salah, putra dari Cili Pati Ularan.

Ketika Dewa Ngurah Tebu Salah memasuki masa dewasa, ia diberi perintah oleh ayahnya untuk mencari jodoh.

Atas arahan tersebut, para pengikut dari warga Pasek Toh Jiwa mengantarkannya ke Tanah Bantara (sekarang Desa Patemon) dan Tanah Selaka (sekarang Desa Pengastulan).

Di Tanah Bantara, Dewa Ngurah Tebu Salah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis cantik, putri kesayangan Ngurah Dangin, keturunan Dalem Purana yang telah lama menetap di Puri Tanah Bantara.

Hubungan ini direstui, namun dengan syarat bahwa Dewa Ngurah Tebu Salah harus menetap di Tanah Bantara.

Setelah menetap di Tanah Bantara, Dewa Ngurah Tebu Salah sering berinteraksi dengan penduduk setempat, yang sebagian besar ternyata adalah pengikut Cili Pati Ularan yang juga berasal dari Gelgel.

Dari interaksi yang intens ini, muncul ide untuk mendirikan sebuah desa dengan mengangkat Dewa Ngurah Tebu Salah sebagai pemimpin.

Melalui kesepakatan bersama, desa tersebut diberi nama "Patemon." Asal usul namanya berasal dari kata "Patemuan" atau "Pertemuan," merujuk pada pertemuan para engikut Cili Pati Ularan di Tanah Bantara.

Awalnya, Desa Patemon terdiri dari tujuh banjar, yaitu Banjar Jeroan, Banjar Sibang, Banjar Belong, Banjar Kawan, Banjar Uma, Banjar Sema, dan Banjar Paneraga. Seiring waktu, desa ini berkembang dengan penambahan empat banjar lagi, yaitu Banjar Beratan, Banjar Apit Yeh, Banjar Tegal, dan Banjar Pemaroan.

Selama perjalanan waktu, Desa Patemon dipimpin oleh sejumlah kepala desa yang berkomitmen kuat dalam membangun desa.

Dengan luas wilayah 282 hektar, Desa Patemon berbatasan dengan Kelurahan Seririt di utara, Desa Bubunan di timur, Desa Ringdikit di selatan, dan Desa Lokapaksa di barat.

Desa Patemon kini dikenal sebagai desa yang maju dengan masyarakat yang hidup rukun dan harmonis.

Pilar-pilar masyarakat yang beragam, baik Brahmana, Waisia, Kesatria, maupun Sudra, saling menghormati dalam satu kesatuan, tetap berpegang pada nilai-nilai sastra Agama Hindu dengan semboyan "Krya Mapala Sangkaning Sabha" sebagai panduan dalam setiap keputusan penting yang berkaitan dengan kemajuan desa. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Desa Patemon #asal usul #seririt #sejarah #gelgel #buleleng