BALIEXPRESS.ID - Pada tahun 1885, Desa Berangbang masih berupa hutan lebat yang dikenal dengan nama Rimba Raya Berangbang, atau Hutan GG yang dilindungi oleh undang-undang Pemerintah Kolonial Belanda.
Hutan ini juga dijuluki sebagai Cagar Alam dan memiliki sejarah yang erat dengan Kerajaan Berangbang, yang didirikan oleh Dalem Sueca Pura dari Gelgel sekitar tahun 1580.
Kerajaan Berangbang muncul setelah Kerajaan Belambangan ditaklukkan oleh Sri Resi Waturenggong Kepakisan.
I Gusti Ngurah Basang Tamiyang, putra Perdana Menteri Dalem Gelgel, menjadi raja pertama yang memimpin kerajaan ini.
Kerajaan Berangbang dibangun oleh prajurit Dalem Gelgel bersama ribuan tawanan dari Belambangan.
Perjalanan sejarah Kerajaan Berangbang dimulai dari arah Selat Bali, melintasi Pura Jati di Desa Pengambengan, hingga tiba di Pura Munduk Tumpeng dan Pura Pegubugan, yang terletak di dataran subur di antara dua sungai besar, Tukadaya dan Berangbang.
Di area ini, ditemukan peninggalan bersejarah seperti kuping kuali besar dan benda-benda kuno lainnya yang dipercaya hanya bisa dilihat pada hari-hari tertentu seperti Purnama dan Tilem, menambah kesan angker pada tempat ini.
Pada tahun 1713, Kerajaan Berangbang mengalami peralihan hingga akhirnya berkembang menjadi desa yang mandiri.
Pada tahun 1887, penduduk mulai membuka Hutan Berangbang setelah mendapat izin dari Pemerintah Landchaf Jembrana, yang dipimpin oleh Tuanku Raja Jembrana, Ida Anak Agung Made Rai.
Pembukaan hutan ini dipimpin oleh Pan Mukarena, yang menjadi Kelian Desa pertama.
Desa Berangbang terus berkembang dengan pemisahan dari Desa Baler Bale Agung.
Pan Sudasning menjadi Kepala Desa pertama yang mengelola potensi desa dengan menanam kelapa, buah-buahan, dan padi sebagai sumber penghidupan.
Kepemimpinan desa kemudian berlanjut ke Gagus Dresna, Pan Rewa, Pan Kencan, dan I Wayan Rewa, hingga sebutan Kelian Desa berubah menjadi Perbekel.
Pada tahun 1965, I Ketut Sanem menjabat sebagai Perbekel kedelapan, diikuti oleh I Ketut Wellem yang memimpin dari tahun 1966 hingga 1978.
Setelah itu, I Ketut Satra memegang jabatan Perbekel hingga 1998, lalu digantikan oleh I Made Saha Arimbawa selama dua periode.
Saat ini, kepemimpinan Desa Berangbang dipegang oleh I Gusti Putu Supradnya, SE, yang menjabat dari tahun 2013 hingga 2025.
Desa Berangbang juga mengalami pemekaran signifikan pada tahun 1993, di mana jumlah banjar yang semula empat, yaitu Banjar Berangbang, Banjar Munduk Tumpeng, Banjar Munduk Kendung, dan Banjar Pengajaran, bertambah menjadi tujuh.
Banjar-banjar baru ini mencerminkan perkembangan pesat desa yang terus maju seiring dengan kebutuhan penduduknya.
Transformasi Desa Berangbang dari hutan angker menjadi desa yang maju ini menyimpan banyak sejarah menarik yang tak boleh dilewatkan. ***
Editor : I Putu Suyatra