Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Asal Usul Nama dan Sejarah Desa Bayung Cerik di Kintamani, Bangli: Dari Awalnya Disebut Wilayah Pakuan, Taryungan hingga Pitu

I Putu Suyatra • Jumat, 6 September 2024 | 14:56 WIB
Desa Bayung Cerik, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Desa Bayung Cerik, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Desa Bayung Cerik yang ada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali memiliki sejarah panjang dan penuh dengan misteri. 

Dikutip dari website resmi Desa Bayung Cerik, berikut sejarah berdirinya desa tersebut.

Saat Sang Ratu Sri Adji Tabenendra bersama Permaisuri Sri Subadrika Darma Dewi tiba di Bali, mereka membawa titah sakral dari Ida Betara Ciwa dan Betara Indra.

Pada tahun Windu Anggara Kasih Julungwangi, bulan Kapat, mereka tiba di Desa Kahuripan, sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Puncak Penulisan.

Di sanalah Ratu Sri Adji mendirikan pemerintahan dan membuat Awig-awig (aturan adat) pada tahun Caka 804-822 Masehi, menciptakan kerajaan yang kuat dan teratur.

Kerajaan ini dibangun dengan struktur yang solid, di mana Ratu Sri Adji didampingi oleh para pemimpin adat seperti Kubayan Pasek Gaduh Nukuhin, Salahin Daka, dan Penyarikan, yang menjaga kelancaran tata pemerintahan dan adat istiadat.

Kerajaan Kahuripan pun tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Namun, meski kerajaan ini makmur, Desa Kahuripan menghadapi tantangan.

Keadaan iklim yang sangat dingin serta tanah yang kurang subur membuat Ratu Sri Adji memutuskan untuk memerintahkan penduduk mencari wilayah baru yang lebih subur.

Penduduk pun berbondong-bondong menuju wilayah yang disebut Pakuan, dipimpin oleh seorang tukang jahit bernama I Balicak, yang berhasil membuka lahan pertanian di sana.

Pada tahun Caka 877-955 Masehi, di bawah kepemimpinan I Balicak, wilayah Pakuan berkembang pesat.

Dengan restu dari Sang Ratu Sri Adji Tabenendra Warmadewa dan Permaisuri Sri Subadrika Darma Dewi, dibentuklah pemerintahan baru yang dipimpin oleh Kubayan I Goto serta juru tulisnya I Lupa.

Di wilayah ini pula berdiri Pura Tebenan sebagai pusat spiritual dan budaya.

Seiring waktu, penduduk Desa Pakuan dan sekitarnya meluas.

Pada tahun Caka 1055 (1333 Masehi), para pemimpin desa, Pan Paladan dan Pan Lupa, mendirikan Desa Taryungan yang kemudian dikenal sebagai Desa Pitu.

Desa ini memiliki batas-batas wilayah yang jelas: Banjar Bukih di utara, Desa Mangguh di timur, Banjar Marga Tengah di selatan, dan Desa Lembean di barat.

Sejarah Desa Pitu semakin kaya ketika penduduk desa bermaksud menyembah Sri Paduka dan memperbaiki prasasti-prasasti yang mereka miliki.

Pada masa itu, Desa Taryungan yang sudah berubah nama menjadi Desa Pitu dikenal sebagai cikal bakal Desa Bayung Cerik, yang berasal dari kata Baye Alit. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Kintamani #bayung cerik #bangli #Penulisan #sejarah #desa