Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Dibalik Penyu Jadi Sarana Desa Adat Sangeh Menangkal Gangguan Monyet di Alas Pala

Putu Resa Kertawedangga • Rabu, 18 September 2024 | 01:05 WIB
MENANGKAL: Penyu yang sudah diawetkan untuk menangkal gangguan monyet di DTW Alas Pala, Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal.
MENANGKAL: Penyu yang sudah diawetkan untuk menangkal gangguan monyet di DTW Alas Pala, Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal.

BALIEXPRESS.ID - Krama Desa Adat Sangeh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, hingga kini masih mempertahankan cara unik untuk menghalau atau “menangkal” monyet.

Bahkan ada sejarah dalam menjauhkan gangguan kawanan monyet dengan penyu yang sudah diawetkan.

Cara ini pun telah dilakukan sejak tahun 1969, sehingga kawanan monyet tidak menganggu atau masuk ke dalam warung yang berada di sekitar Daya tarik Wisata (DTW) Alas Pala Sangeh.

Bendesa Adat Sangeh, I Gusti Agung Bagus Adi Wiputra pun mengakui cara ini masih digunakan oleh masyarakat setempat.

Ia meyakini hal ini berkaitan dengan cerita rakyat yang berkembang sejak dahulu.

“Penyu ini sempat menolong monyet. Sehingga monyet sampai di ketepian. Sampai di daratan penyu ini dibalik, disitulah muncul kutukan. Semenjak itu monyet takut terhadap penyu,” ujar Wiputra.

Hanya saja pihaknya tidak mengetahui secara pasti terkait isi kutukan tersebut.

Namun saat dipraktekkan monyet yang tinggal di Alas Pala sangeh ternyata memang menakuti penyu.

“Ternyata mitos ini ada benarnya karena dulu saat adanya banyak warung di depan warung pasti ditaruh penyu yang sudah diawetkan. Sehingga aman dari gangguan dari jero gede (monyet),” ungkapnya.

Menurutnya, dari adanya cerita tersebut terkandung filosofi yang dapat dipetik.

Seperti jangan sampai menyakiti orang yang telah menolong.

“Mungkin merasa bersalah monyet ini setelah ditolong. Bentuk filosofinya jangan memanfaatkan sesuatu, dalam artian kalau sudah ditolong janganlah anda menyakiti yang menolong, apalagi memiliki niatan untuk membunuh,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Pengelola DTW Alas Pala, Ida Bagus Gede Pujawan.

Bahkan dirinya sempat mencoba langsung dengan membawa penyu yang sudah diawetkan, kawanan monyet lari menjauh.

“Realitanya pada saat dipraktekkan memang betul terjadi. Bahwa sang monyet takut terhadap penyu,” ucap Pujawan.

Sepengetahuannya, penyu yang sudah diawetkan telah ada sejak tahun 1969.

Saat itu obyek wisata baru dibuka dan sudah ada belasan warung di sekitarnya.

“Yang saya tahu sejak kecil di warung di Desa Sangeh, ada penyu asli yang diawetkan, karena saat itu belum ada aturan terhadap penyu,” jelasnya.

Sehingga sejak saat itu, masyarakat meyakini jika menempatkan penyu di depan warung tidak ada monyet yang mengganggu.

Selain menggunakan penyu, ada juga yang memasang duri pohon salak untuk menakuti monyet.

“Entah apa pemikiran penglingsir dulu, dengan adanya penyu itu masyarakat jadi terbantu karena monyet tidak masuk ke warung,” imbuhnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#penyu #Kabupaten Badung #monyet #mengwi #Desa Adat Sangeh