BALIEXPRESS.ID – Memiliki latar belakang sebagai putri Bali, Isyana Bagoes Oka mengaku terjun ke politik karena terinspirasi sosok sang nenek, Gedong Bagoes Oka.
Dikutip dari postingan akun Facebook Isyana Bagoes Oka yang diunggahnya pada 2021 silam, di saat Isyana tengah mengenang sosok neneknya, Gedong Bagoes Oka, yang berperan besar dalam sejarah pendidikan, politik, dan gerakan perdamaian di Indonesia.
Seperti apa sosok neneknya, Gedong Bagoes Oka?
Dalam unggahan Facebook-nya di tahun 2021 silam, Isyana menceritakan perjalanan hidup luar biasa almarhumah neneknya, Ni Wayan Gedong Bagoes Oka, yang lahir tepat 100 tahun lalu.
Gedong Bagoes Oka, yang dikenal sebagai salah satu perempuan Bali pertama yang mengenyam pendidikan di luar pulau, memulai pendidikannya di Bali dan kemudian melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Yogyakarta.
Ia adalah salah satu dari empat gadis Bali pertama yang melanjutkan pendidikan setelah lulus dari HIS (Hollandsch-Inlandsche School), sebuah pencapaian yang sangat langka pada masanya.
Baca Juga: Soal Izin Penggunaan Kembang Api di Berawa, Pasek Suardika Minta Polda Bali Klarifikasi
Masa remajanya dihabiskan di Yogyakarta di bawah asuhan seorang profesor teologi.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Gedong Bagoes Oka kembali ke Bali dan berkiprah di dunia pendidikan sebagai guru dan Kepala Sekolah di SMA Negeri Singaraja.
Karirnya tidak berhenti di sana.
Pada tahun 1964, ia menjadi dosen Bahasa Inggris di Universitas Udayana, Bali.
Kemudian pada tahun 1967, Gedong Bagoes Oka menjadi anggota DPR Gotong Royong sebagai Ketua Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) di Bali.
Namun, pada tahun 1972, ia bersama tiga perempuan lainnya mengundurkan diri dari DPR karena ketidakcocokan dengan kebijakan Presiden Soeharto.
Baca Juga: AWK Sebut Kejadian di Berawa Masuk Pelecehan Umat Hindu, Janji Tindaklanjuti
Gedong Bagoes Oka juga dikenal sebagai aktivis perdamaian dan pengikut setia ajaran Mahatma Gandhi.
Pada tahun 1976, ia mendirikan Ashram Canti Dasa, sebuah pusat ajaran Ahimsa (non-kekerasan) dan dialog lintas agama. Aktivismenya membawanya berhubungan dekat dengan tokoh-tokoh besar seperti Gus Dur dan Romo Mangun.
Bersama Gus Dur, ia menjadi salah satu presiden dalam World Conference on Religions and Peace (WCRP), sebuah organisasi yang mempromosikan perdamaian dunia melalui dialog antaragama.
Baca Juga: Viral Video Tebing di Bali Dijual, Warganet Prihatin dengan Eksploitasi Alam Bali
Pada tahun 1999, Gedong Bagoes Oka diangkat menjadi anggota MPR dari Utusan Golongan Hindu.
Sayangnya, ia wafat pada tahun 2002 karena sakit, saat masih menjabat sebagai anggota MPR.
Dalam unggahannya, Isyana tidak hanya mengingat sepak terjang neneknya di dunia pendidikan dan politik, tetapi juga momen pribadi yang penuh kenangan.
Ia menggambarkan Gedong Bagoes Oka sebagai sosok nenek yang gemar bermain scrabble dan makan es krim, serta memiliki semangat hidup yang luar biasa.
“Sebagai cucu, saya lebih mengenang Ninik sebagai seorang nenek, di luar sepak terjangnya. Ninik yang sangat gemar bermain scrabble dan jarang sekali kalah, Ninik yang suka sekali makan es krim. Yang terpenting kini adalah meneruskan nilai-nilai dan integritas Ninik. Miss you so much Ninik,” tulisnya mengakhiri unggahannya.(ika)
Editor : Rika Riyanti