BALIEXPRESS.ID - Kisah tragis Samuel Putra Yordaniel, bocah sembilan tahun yang menjadi satu-satunya korban selamat dari pembantaian keluarganya di Desa Pandantoyo, Kediri, Jawa Timur menyisakan luka mendalam.
Meskipun kondisi fisiknya perlahan membaik, trauma psikis yang dialaminya masih begitu membekas.
Samuel dan Trauma yang Tak Terucap
Ketika Bupati Kediri, Hanindhito Himawan, datang membesuk di Rumah Sakit Bhayangkara, Samuel memperlihatkan respons defensif.
Tangannya erat memegang gagang brankar, seolah melindungi dirinya dari bahaya yang tak kasat mata.
"Saat saya datang, saya memilih tidak masuk ruangan karena trauma Samuel masih sangat mendalam," ungkap Dhito, sapaan akrab Bupati Kediri.
Tragedi ini terjadi pada Rabu (4/12) lalu, ketika Yusa Cahyo Utomo, paman Samuel, secara brutal menghabisi nyawa ayah, ibu, dan kakaknya.
Samuel, meski turut mengalami luka serius di kepala, selamat setelah Yusa tiba-tiba merasa iba dan menghentikan aksinya.
Perjuangan Pemulihan di Tengah Trauma
Di ruang perawatan yang dirancang khusus agar ia lebih nyaman, Samuel berjuang untuk pulih.
Trauma healing intensif menjadi prioritas, dengan dukungan dari Pemkab Kediri.
"Kami menyiapkan psikolog dan menjamin kebutuhan Samuel, termasuk pendidikan dan kehidupannya ke depan," ujar Dhito.
Pascaoperasi pengangkatan gumpalan darah di kepala, kondisi fisik Samuel mulai stabil.
Namun, luka psikis akibat menyaksikan pembantaian keluarganya secara langsung memerlukan waktu lama untuk sembuh.
Bahkan, ia masih kerap menolak berinteraksi dengan orang asing, termasuk tim psikolog.
Masa Depan Samuel: Diasuh Keluarga Ayah
Kesepakatan keluarga besar memutuskan bahwa Samuel akan diasuh oleh kakek-nenek dari pihak ayahnya di Batuaji, Ringinrejo, Kabupaten Kediri.
Keputusan ini didasarkan pada kenyamanan Samuel yang lebih akrab dengan mereka.
Sekretaris DP2KBP3A Kediri, Nono Soekardi, menegaskan bahwa proses pemulihan Samuel masih panjang.
"Pendampingan psikologis dilakukan tidak hanya untuk Samuel, tetapi juga keluarga korban lainnya," jelasnya.
Kisah Samuel, Titik Refleksi Bagi Kita Semua
Tragedi ini menyisakan luka yang tidak hanya dirasakan Samuel, tetapi juga masyarakat luas.
Kisahnya mengingatkan pentingnya dukungan sosial bagi korban kekerasan, terutama anak-anak.
Samuel adalah bukti nyata bahwa harapan dan ketangguhan selalu hadir meski di tengah kehancuran.
Bagaimana perjuangan Samuel selanjutnya? Mampukah ia menemukan kembali kebahagiaan di tengah luka mendalam? ***