Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tabrak; Duel Seni Rupa Made Kaek dan Arwin Hidayat di Museum Arma Ubud

I Dewa Gede Rastana • Senin, 16 Desember 2024 | 18:54 WIB

Salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Tabrak di Museum Arma, Ubud. Pameran ini berlangsung dari 20 Desember 2024 hingga 14 Januari 2025.
Salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Tabrak di Museum Arma, Ubud. Pameran ini berlangsung dari 20 Desember 2024 hingga 14 Januari 2025.

BALIEXPRESS.ID – Dua seniman kenamaan, Made Kaek dan Arwin Hidayat, menampilkan karya seni rupa dalam pameran bertajuk Tabrak di Museum Arma, Ubud. Pameran ini berlangsung dari 20 Desember 2024 hingga 14 Januari 2025, menutup tahun dengan eksplorasi seni yang penuh makna.


Pameran yang dikuratori Alexander Goetz ini resmi dibuka pada Jumat, 20 Desember 2024, pukul 18.00 WITA oleh Founder Museum Arma Anak Agung Gede Rai, budayawan Jean Couteau, dan sastrawan Warih Wisatsana.


Karya-karya Made Kaek dan Arwin Hidayat, seniman asal Bali dan Yogyakarta, menyuguhkan pengalaman visual yang menembus batas. Pengunjung diajak memasuki dunia alternatif yang dipenuhi makhluk hibrida dan lanskap psikologis yang imersif.

Meski memiliki pendekatan yang personal dan introspektif, kedua seniman ini terhubung melalui elemen-elemen seperti abstraksi, transformasi, dan dimensi yang saling berpadu.


Menurut Dian Dewi Reich, Pendiri Sawidji & Co., dalam tulisannya di katalog pameran, karya-karya mereka mencerminkan perjalanan introspektif ke dalam alam bawah sadar. "Ini adalah kesempatan untuk mengeksplorasi aspek tersembunyi dalam kesadaran, menawarkan pandangan baru tentang dunia batin yang mendalam," ungkapnya.


Judul pameran Tabrak tidak sekadar mengacu pada benturan, tetapi juga mencerminkan penyatuan dua kekuatan kreatif. Dewi menekankan bahwa pameran ini menggambarkan energi mentah yang muncul dari tabrakan ide dan imajinasi kedua seniman.


“Bukan tentang kehancuran, melainkan tentang penyatuan energi kreatif yang liar dan tanpa batas,” ujar Dewi. Benturan ini, katanya, menghadirkan pengalaman baru yang intuitif dan transformasional.


Makhluk-makhluk mistis karya Made Kaek mencerminkan kedalaman alam bawah sadar yang terwujud melalui proses kreatif yang intuitif dan disiplin. Sementara itu, karya Arwin Hidayat lebih menonjolkan morfosis bentuk dan perpaduan elemen-elemen sosial serta budaya. Dengan gaya folk art yang khas, karya Arwin menampilkan pola ilustratif seperti roda, simbol falik, dan elemen feminin yang berulang.


Dalam pameran ini, kedua seniman menyajikan dua dunia yang berbeda, namun memiliki resonansi yang sama. Jika Made Kaek menghadirkan makhluk-makhluk dengan identitas individu yang kuat, Arwin Hidayat justru menawarkan dunia tanpa identitas, dimana elemen-elemen saling membaur tanpa batas.


Perbedaan mendasar antara kedua seniman ini menjadi daya tarik tersendiri. Made Kaek membentuk karakter-karakter unik yang memancarkan kemanusiaan, sementara Arwin Hidayat menghancurkan batas-batas tersebut, menciptakan dunia fragmentaris yang saling terhubung.


Pameran Tabrak menjadi ruang eksplorasi bagi pengunjung untuk menyelami psikologi manusia dari dua sudut pandang yang kontras namun saling melengkapi. Perpaduan ini mengundang renungan mendalam tentang identitas, kesadaran, dan sisi tersembunyi dari jiwa manusia.


Bagi para pecinta seni, Tabrak adalah kesempatan langka untuk menikmati penyatuan dua kekuatan kreatif yang menghadirkan pengalaman visual sekaligus refleksi filosofis. Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan pameran ini di Museum Arma, Ubud. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#pameran #ubud #seniman #made kaek #seni #eksplorasi #museum