BALIEXPRESS.ID - Kabupaten Badung kembali dihebohkan dengan ajang lomba ogoh-ogoh tahun 2025! Kali ini, gelar juara pertama berhasil diraih oleh Sekaa Teruna (ST) Tunas Remaja, Banjar Umahanyar, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi dengan mahakarya mereka, ogoh-ogoh ‘Kungkang Siwa’.
Namun, tahukah Anda bahwa ogoh-ogoh ini bukan sekadar patung raksasa biasa?
Karya ini mengangkat kisah dari kesenian arja klasik berjudul Raja Godogan, yang menyimpan pesan mendalam tentang kesabaran, cinta, dan keajaiban takdir.
Legenda di Balik Ogoh-Ogoh ‘Kungkang Siwa’
Kisah Raja Godogan bermula dari pasangan suami istri paruh baya, Pan Bekung dan Men Bekung, yang lama mendambakan anak.
Meski terus berdoa kepada Bhatara Siwa, mereka tak kunjung dikaruniai keturunan. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa ajaib terjadi!
Saat haus di ladang, Men Bekung meminum air dari sebuah wadah misterius.
Tak lama kemudian, ia hamil dan melahirkan seorang bayi berwujud katak!
Si Katak Sakti, I Godogan, ternyata bukan sembarang hewan.
Ia bisa berbicara seperti manusia dan memiliki takdir luar biasa.
Pawisik dari Bhatara Siwa mengungkapkan bahwa I Godogan akan berubah menjadi lelaki tampan jika bertemu jodohnya.
Seiring waktu, ia jatuh cinta pada seorang putri raja, namun kisah cinta mereka menghadapi penolakan keras dari sang raja.
Tragedi pun terjadi!
Pertarungan Hidup dan Mati: I Godogan yang Tak Bisa Dikalahkan
Sang raja murka dan memerintahkan pasukannya untuk membunuh I Godogan.
Namun, semua upaya sia-sia—katak sakti ini tak bisa mati!
Akhirnya, tubuhnya dipotong menjadi empat bagian dan disebar ke penjuru desa.
Dengan penuh kesedihan, Pan Bekung dan Men Bekung mengumpulkan potongan tubuh anaknya dan menyatukannya kembali.
Keajaiban pun terjadi: I Godogan hidup kembali!
Di saat yang sama, kerajaan sang raja justru dilanda musibah besar. Penasihat spiritual mengungkapkan bahwa bencana itu adalah akibat dari perbuatan sang raja yang telah mencelakai I Godogan.
Akhirnya, raja pun sadar dan merestui cinta putrinya dengan sang katak sakti.
Begitu restu diberikan, I Godogan berubah menjadi pangeran tampan yang sebenarnya.
Desain Spektakuler: Rahasia Keunggulan Ogoh-Ogoh ‘Kungkang Siwa’
Wakil Ketua ST Tunas Remaja, Agus Deva Somia Antara, mengungkapkan bahwa awalnya mereka mempertimbangkan dua konsep, yaitu Kebo Dongol dari Pura Dalem Bangun Sakti, Kelurahan Kapal, serta Raja Godogan.
Namun, konsep Kebo Dongol dianggap sulit untuk diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh, sehingga pilihan jatuh pada Raja Godogan.
Sang arsitek ogoh-ogoh, I Wayan Juliarta, menghadirkan desain inovatif dengan lima karakter utama: Pan Bekung, Men Bekung, Putri Raja, serta tokoh utama I Godogan yang memiliki tapel wajah tersembunyi di dalam mulut katak!
Teknik ini menciptakan ilusi dramatis, di mana wajah tampan I Godogan tampak muncul dalam alur cerita.
“Bagian paling menarik dari ogoh-ogoh ini adalah wajah tersembunyi dalam mulut I Godogan. Awalnya, kami ingin menggerakkan lehernya, tetapi terlalu besar. Akhirnya, kami menambahkan karakter wajah di dalam mulut katak agar transformasi I Godogan menjadi lebih nyata,” jelas Deva.
Proses Kreatif dan Tantangan Pembuatan
Ogoh-ogoh ini mulai dikerjakan sejak pertengahan Januari 2025 hingga 6 Maret 2025, menggunakan material seperti besi, kardus, kertas, ulatan bambu, dan mesin untuk konstruksi.
Biaya produksinya pun tidak main-main, hampir mencapai Rp 70 juta!
Hasil kerja keras ini membuahkan hasil gemilang. Ogoh-ogoh ‘Kungkang Siwa’ berhasil meraih nilai tertinggi 296,5, mengungguli 20 peserta lainnya dalam final Bhandana Bhuhkala Festival 2025 di Balai Budaya Giri Nata Mandala, Puspem Badung.
Keberhasilan yang Mengesankan: Ogoh-Ogoh Terbaik di Badung!
Dengan desain spektakuler, alur cerita yang menyentuh, serta detail pengerjaan yang luar biasa, ogoh-ogoh ‘Kungkang Siwa’ membuktikan diri sebagai yang terbaik di Kabupaten Badung 2025.
Keberhasilan ini bukan hanya membanggakan ST Tunas Remaja, tetapi juga melestarikan warisan budaya arja dan seni ogoh-ogoh bagi generasi mendatang.
Lalu, apakah kisah epik I Godogan ini akan kembali diangkat dalam karya ogoh-ogoh berikutnya? Kita tunggu kejutan selanjutnya dari para seniman muda berbakat Bali! ***
Editor : I Putu Suyatra