Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita Pemuda Bali yang Disekap 8 Bulan di Myanmar yang Bikin Sedih Campur Emosi, Kadek Agus: Tanpa Video Itu Mungkin Saya Tak Pernah Keluar

I Putu Suyatra • Senin, 24 Maret 2025 | 02:49 WIB

 

KORBAN PERDAGANGAN ORANG: Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Made Juartawan saat mendatangi rumah salah seorang TKI asal Buleleng yang sempat disekap di Myanmar. (Disnaker Buleleng)
KORBAN PERDAGANGAN ORANG: Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Made Juartawan saat mendatangi rumah salah seorang TKI asal Buleleng yang sempat disekap di Myanmar. (Disnaker Buleleng)

BALIEXPRESS.ID – Mimpi mencari pekerjaan di luar negeri berubah menjadi mimpi buruk bagi Kadek Agus Ariawan. Pemuda asal Kelurahan Liligundi, Kabupaten Buleleng, Bali, ini terjebak dalam sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Myanmar selama delapan bulan.

Ia disiksa, dipaksa melakukan penipuan online, hingga kehilangan kebebasannya.

Namun, keajaiban terjadi—sebuah video permintaan tolong yang viral akhirnya membuka jalan bagi penyelamatannya.

Baca Juga: Ogoh-Ogoh Unik dari Kulit Bawang! Kreasi ST Purwa Jati Kumara Gana Ubud Siap Guncang Pengerupukan 2025

Berawal dari Tawaran Kerja, Berakhir di Sarang Mafia

Semua bermula dari tawaran kerja menggiurkan yang disampaikan oleh seseorang bernama Komang Budayasa.

Agus dijanjikan pekerjaan di Thailand sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Bersama rekannya, Nengah Sunaria, ia berangkat ke Jakarta pada 5 Agustus 2024 untuk bergabung dengan rombongan lain.

Namun, sesampainya di Thailand, mereka justru dibawa ke perbatasan Thailand-Myanmar dengan bus.

Baca Juga: Video Tak Senonoh Gegerkan Bali: 7 Orang Telanjangi dan Lecehkan Remaja Pencuri, Lalu Dijadikan Konten, Salah Satu Pelaku Perempuan

Kecurigaan muncul ketika mereka dipaksa menyeberangi sungai menggunakan sampan.

“Di titik itu saya sempat berontak, tapi teman saya menenangkan,” ungkap Agus.

Begitu tiba di sebuah kompleks bernama KK Park, barulah Agus sadar dirinya telah terjebak dalam sindikat perdagangan manusia.

Tempat itu dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata.

"Di dalamnya seperti kota kecil, ada minimarket, klinik, dan banyak perusahaan. Tapi semua yang bekerja di sana adalah korban," katanya.

Dipaksa Menipu, Disiksa Jika Gagal

Agus dipaksa bekerja di perusahaan scam yang menargetkan korban dari Irak, Turki, dan Rusia.

Salah satu modusnya adalah penipuan asmara, di mana para korban ditipu secara emosional sebelum uang mereka dikuras.

Baca Juga: 5 Fakta di Balik Kebakaran Ogoh-Ogoh di Denpasar, Api Mengamuk dalam Hitungan Menit!

Beban kerja yang diberikan pun tak manusiawi. Ia harus bekerja dari pukul 16.00 sore hingga 08.00 pagi, kadang hingga 10.00 siang.

Tak ada gaji—hanya tempat tinggal dan makan seadanya. Jika tidak mencapai target penipuan ratusan ribu dolar per bulan, hukumannya berat.

"Saya disetrum, dicambuk, dipukul. Pernah saya protes dan tidak mau kerja, malah dianggap melawan. Saya disiksa selama seminggu," kisahnya.

Tak hanya penyiksaan fisik, tekanan mental di tempat itu juga mengerikan.

Beberapa rekannya mengalami gangguan kejiwaan, bahkan ada yang nekat mengakhiri hidup.

“Yang sakit pun tetap dipaksa bekerja,” ujar Agus.

Baca Juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Optimalisasi Kawasan Industri, BRI Jalin Kerja Sama dengan HKI

Harapan Muncul Lewat Video Rahasia

Selama delapan bulan, Agus kehilangan kontak dengan keluarganya.

Ponselnya disita.

Namun, harapan muncul ketika salah satu teman menyembunyikan ponsel cadangan.

Lewat ponsel itu, mereka merekam video permintaan tolong dan menyebarkannya di media sosial.

Video tersebut viral dan akhirnya sampai ke pihak berwenang di Indonesia.

Dengan bantuan berbagai pihak, Agus dan rekan-rekannya akhirnya berhasil dibebaskan dan dipulangkan.

"Tanpa video itu, mungkin saya tidak akan pernah keluar," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Trauma yang Masih Membekas

Meski kini telah kembali ke kampung halaman, trauma masih menghantui Agus.

Baca Juga: TRAGIS!!! Kronologi dan Penyebab Ogoh-Ogoh Banjar Wangaya Kelod, Denpasar Hangus Terbakar, Tinggal Lima Hari Jelang Pengerupukan

Ia bahkan masih ketakutan mendengar suara raket listrik, karena mengingatkan pada penyiksaan yang pernah ia alami.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Made Juartawan, mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran kerja di luar negeri.

Ia menekankan pentingnya mengecek legalitas agen tenaga kerja sebelum berangkat.

"Jangan sampai jadi korban perdagangan orang. Lebih baik konfirmasi dulu ke Disnaker atau pemerintah desa," ujarnya.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang tergiur dengan tawaran kerja ke luar negeri tanpa kejelasan.

Jangan sampai mimpi mencari nafkah berubah menjadi mimpi buruk seperti yang dialami Agus. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #myanmar #Kadek Agus Ariawan #Kabupaten Buleleng #disekap #video #tki #tppo