BALIEXPRESS.ID - Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, Ni Wayan Tistawati, 66, seorang pengrajin tenun songket asal Dusun Pegatepan, Desa Gelgel, Klungkung, tetap teguh melestarikan warisan leluhur yang telah turun-temurun dijaga menenun kain songket.
“Awalnya hanya sebagai warisan leluhur. Dulu, di Gelgel memang terkenal dengan tenun songketnya. Waktu itu, menenun adalah pekerjaan utama yang bisa digeluti perempuan,” ujarnya.
Tistawati mewarisi menenun keanakanya Ni Nyoman Santi Diantini, 22, sejak duduk di bangku kelas 5 SD, sekitar tahun 2007/2008. Saat itu, masih banyak perempuan di daerahnya yang aktif menekuni kerajinan tenun songket.
Kecintaannya pada tenun diwariskan dari sang ibu yang juga telah menekuni kerajinan ini sejak remaja, belajar langsung dari para tetua desa. Proses menenun bukan perkara mudah, dimulai dari pengolahan benang hingga menjadi kain yang siap dipakai, melalui tahapan-tahapan seperti ngulak, nganyinin, nyasah, nyuntik/nyambung, hingga nguunin.
Modal awal yang dibutuhkan pun tidak sedikit. Untuk memproduksi satu udeng songket (satu pandalan), dibutuhkan benang sekitar Rp130.000, biji emas Rp260.000, benang pakan sekitar Rp90.000, dan biaya proses hingga kain siap tenun bisa mencapai Rp500.000, tergantung siapa yang mengerjakannya.
"Sekarang semakin sedikit orang yang bisa mengerjakan semua proses itu sekaligus," tambahnya.
Meskipun sempat mengalami masa surut di awal tahun 2000-an, terutama karena lesunya permintaan, kebijakan pemerintah provinsi Bali yang mewajibkan penggunaan pakaian adat dalam kegiatan resmi kembali menghidupkan gairah tenun tradisional.
“Saya sempat berhenti menenun karena permintaan sangat sepi. Tapi setelah ada peraturan baru itu, banyak orang memakai pakaian adat, apalagi untuk acara-acara resmi atau berkelas, jadi saya mulai menenun lagi,” kenangnya.
Saat ini, lebih fokus memproduksi kain udeng dan saput berbahan metris. Satu kain udeng dihargai mulai dari Rp400.000 dan saput mulai dari Rp1.200.000. Proses pengerjaan satu udeng bisa memakan waktu sekitar tiga hari.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Harga bahan baku yang terus meningkat dan minimnya jumlah perajin serta alat tenun menjadi hambatan tersendiri. “Sekarang alat tenun saya tinggal satu saja, dan generasi muda yang ingin menekuni juga hampir tidak ada,” pungkasnya prihatin. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana