Kisah Transformasi Rumah Tua di Gang Sedap Malam Buleleng! Mantan Banker Buka Kedai Kopi "Ajaib" yang Bikin Penasaran: Ningrat untuk Pelanggan
Dian Suryantini• Selasa, 22 April 2025 | 02:48 WIB
Ida Bagus Made Mahadi Kemenuh, pemilik Kedai Kopi deKakiang40 di Singaraja.
BALIEXPRESS.ID - Di sebuah sudut tenang Jalan Sedap Malam Nomor 20, Banyuasri, Kabupaten Buleleng, Bali, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan sejuta cerita.
Dahulu saksi bisu kehidupan dinas, kini rumah biru-putih itu bertransformasi menjadi Kedai Kopi deKakiang40, sebuah oase sederhana dengan daya pikat yang tak terduga.
Jangan kaget, temboknya memang terkelupas dan pagarnya sedikit karatan, namun justru inilah "sentuhan interior alami" yang membuat tempat ini begitu memikat dan berbeda dari yang lain!
Di balik kesahajaan kedai ini, ada sosok Ida Bagus Made Mahadi Kemenuh, atau akrab disapa Gus Adi.
Bukan sembarang pemilik kedai, ia adalah mantan pegawai bank yang berani mengambil langkah berani: pensiun dini dan kembali ke "rumah tua" ini.
Di usia yang genap 40 tahun, lahirlah Kedai Kopi deKakiang40, angka yang sengaja disematkan sebagai penanda babak baru dalam hidupnya.
Namun, ada satu hal yang langsung mencuri perhatian siapapun yang melintas: sebuah mural warna-warni biji kopi raksasa menghiasi dinding samping bangunan.
Bukan sekadar seni jalanan biasa, mural ini adalah petunjuk rahasia bahwa di dalam kedai ini, Anda akan menemukan pengalaman ngopi yang sangat personal dan otentik!
"Basic-nya arabika dan Robusta. Diseduh manual pakai saringan, tanpa mesin. Kalau mau kopi susu, ya tinggal ditambah susu. Sesimpel itu," ujar Gus Adi, meruntuhkan anggapan bahwa kopi enak harus rumit.
Kesederhanaan inilah yang justru menjadi daya tarik magis kedai ini.
Berbeda jauh dari coffee shop kekinian yang serba modern dan kadang terasa eksklusif, Kopi Kakiang 40 hadir dengan konsep terbuka, ramah, dan sama sekali tidak mengintimidasi.
Menunya pun tak neko-neko: kopi nikmat, teh hangat, dan roti bakar klasik.
"Saya ingin semua kalangan merasa nyaman. Apalagi yang berusia 40-an ke atas, kadang sungkan masuk ke coffee shop modern. Tempat ini seperti rumah teman, santai dan penuh cerita," tambah Gus Adi, membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin sekadar menyeruput kopi dan berbagi kisah.
Dan benar saja, suasana kekeluargaan langsung terasa begitu Anda menginjakkan kaki di sini.
Pelanggan yang baru pertama kali datang pun bisa dengan mudah larut dalam percakapan hangat, seolah sudah berteman lama.
Lebih unik lagi, sapaan istimewa "Kakiang" dan "Niang", panggilan halus khas Bali untuk kakek dan nenek yang biasanya digunakan oleh kalangan ningrat, menjadi bentuk penghormatan yang tulus dari Gus Adi kepada setiap pelanggannya.
"Itu bentuk penghormatan. Jadi pelanggan bukan sekedar pembeli, tapi seperti keluarga," ucapnya dengan senyum ramah.
Nama "Kopi Kakiang 40" sendiri menyimpan kisah yang menyentuh hati.
"Kakiang" adalah bentuk penghormatan kepada sang kakek tercinta yang pertama kali mengenalkannya pada keajaiban kopi.
Sementara angka 40, seperti yang sudah disebutkan, adalah penanda usia Gus Adi saat ia memberanikan diri memulai petualangan baru ini.
Kini, rumah tua itu bukan lagi sekadar tempat untuk menikmati kopi.
Ia telah bertransformasi menjadi ruang berbagi tawa, bernostalgia, dan yang terpenting: tempat "pulang" bagi mereka yang mencari kehangatan dan kebersamaan dalam setiap tegukan kopi sederhana.
Namun, pesona Gus Adi tak hanya terpancar dari kedainya.
Sosoknya yang rendah hati dan gemar berbagi ide-ide kritis dan kreatif juga melahirkan sebuah gebrakan lain: Pasar Antaran.
Pasar unik yang digelar setiap hari Minggu di desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng ini bukan sekadar tempat transaksi jual beli biasa!
Di bawah kepemimpinannya, Pasar Antaran dirancang menjadi ruang pertemuan antar komunitas, tempat bertukar pikiran, dan menumbuhkan diskusi yang hangat.
"Pasar ini kami kelola bersama komunitas. Pasar ini berbeda dengan pasar biasanya. Di sini kita bertemu, berbincang, menuangkan ide-ide sehingga nuansanya tidak terasa seperti pasar yang hanya terjadi transaksi jual beli saja," jelas Gus Adi dengan penuh semangat.
Sebagai seorang pemimpin yang toleran dan mudah bergaul, Gus Adi dengan mudah beradaptasi dengan timnya yang didominasi generasi Z.
Ia menghilangkan sekat antara "bos" dan "karyawan", menciptakan suasana kesetaraan dan kebersamaan di Pasar Antaran.
"Semuanya sama, setara. Tidak ada bos, tidak ada karyawan. Pasar ini milik bersama," tegasnya.
Siapa sangka, di balik fasad rumah tua yang sederhana, tersembunyi kisah inspiratif seorang mantan banker yang berani mewujudkan mimpinya.
Kedai Kopi deKakiang40 dan Pasar Antaran adalah bukti nyata bahwa kehangatan, kesederhanaan, dan semangat berbagi bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa.
Ingin tahu lebih dalam tentang filosofi kopi "ajaib" Gus Adi dan keunikan Pasar Antaran yang bikin penasaran? Datang dan rasakan sendiri atmosfernya! ***