Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bali Tak Hanya Melukat! Tren Amulet atau Jimat Meroket di Kalangan Wisatawan dan Anak Muda, Ada Apa?

IGA Kusuma Yoni • Selasa, 6 Mei 2025 | 13:13 WIB

Irma Budhidharma
Irma Budhidharma

BALIEXPRESS.ID - Di tengah gemerlap teknologi dan hiruk pikuk modernitas, sebuah fenomena menarik justru muncul di Pulau Dewata. Jika selama ini Bali identik dengan ritual melukat di Ubud sebagai oase spiritual, kini perhatian masyarakat, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, tertuju pada tren penggunaan amulet atau jimat.

Apa sebenarnya yang membuat benda-benda spiritual ini kian digandrungi?

Bukan lagi sekadar mitos kuno, amulet kini bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup dan identitas diri.

Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Wanita dalam Mobil di Denpasar Positif Pakai Benzo

Irma Budhidharma, seorang Oracle Reader dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, memaparkan bahwa amulet secara harfiah adalah benda kecil yang dipercaya menyimpan kekuatan spiritual untuk memberikan perlindungan, keberuntungan, hingga energi positif bagi pemakainya.

"Dulu mungkin amulet hanya dianggap sebagai pelindung dari hal-hal gaib. Namun kini, maknanya meluas. Amulet menjadi simbol perlindungan diri dan sekaligus ekspresi diri di era modern," ungkap Irma.

Lebih lanjut, Irma menjelaskan bahwa efektivitas amulet terletak pada resonansi energi dan niat kuat dari penggunanya.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan kompleks, banyak individu merasa kehilangan koneksi dengan diri sendiri.

Amulet hadir sebagai pengingat akan adanya kekuatan yang lebih besar dan membantu menyeimbangkan energi internal.

Baca Juga: Puja Astu Mpungku Sarana Ngarga Tirta, Diucapkan Usai Pentas Wayang  

Bukan Sekadar Batu Akik, Amulet Kekinian Lebih Stylish!

Menariknya, tren penggunaan amulet saat ini jauh dari kesan tradisional.

Generasi muda Bali kini lebih memilih amulet dalam bentuk liontin kristal yang elegan, gelang chakra yang penuh warna, hingga aksesori dengan simbol-simbol spiritual dari berbagai penjuru dunia.

Sebut saja simbol Hamsa yang dipercaya melindungi dari energi negatif, Evil Eye yang menangkal mata jahat, hingga Rune Nordik dengan makna mendalam.

"Simbol-simbol ini dipilih bukan hanya karena nilai estetikanya, tetapi juga karena dipercaya membawa energi spesifik. Contohnya, batu labradorite diyakini dapat mempertajam intuisi," jelas Irma.

Spiritualitas Mudah Diakses, Amulet Jadi Bagian Perjalanan Diri

Popularitas amulet saat ini tak lepas dari semakin mudahnya akses masyarakat terhadap praktik spiritual modern.

Fenomena seperti tarot reading, meditasi, hingga sound healing telah membuka pikiran banyak orang untuk menerima amulet sebagai bagian integral dari perjalanan spiritual mereka, bukan lagi sekadar benda mistis yang penuh tabu.

Meski demikian, Irma mengingatkan bahwa amulet bukanlah solusi instan untuk segala permasalahan hidup.

Baca Juga: LBH KMHDI Soroti Kekerasan Aparat saat Aksi Damai Petani Singkong di Lampung

"Amulet bekerja seiring dengan proses kesadaran dan pertumbuhan diri. Yang terpenting tetaplah niat dan keyakinan yang tumbuh dari dalam diri," pungkasnya.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keseimbangan spiritual dan penyembuhan diri, tren penggunaan amulet di Bali diprediksi akan terus berkembang pesat.

Amulet kini bukan lagi sekadar warisan budaya, melainkan telah bertransformasi menjadi simbol identitas spiritual generasi masa kini yang menarik dan relevan. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#melukat #bali #ubud #jimat #amulet