Dari Bambu Belakang Rumah Mendunia: Kisah I Nyoman Purwayasa, Sang Penjaga Melodi Bali
Putu Resa Kertawedangga• Kamis, 8 Mei 2025 | 18:11 WIB
I Nyoman Purwayasa
BALIEXPRESS.ID - Di tengah hiruk pikuk pariwisata Bali yang mendunia, di sebuah rumah sederhana di Banjar Semana, Desa Mambal, Abiansemal, Kabupaten Badung, lahir melodi-melodi syahdu yang tak hanya memikat telinga lokal, namun juga menghipnotis wisatawan Eropa.
Dialah I Nyoman Purwayasa (36), seorang seniman pengrajin seruling atau suling tradisional Bali yang kisah cintanya pada bambu dan nada berbuah manis.
Lebih dari sekadar menjual, Purwayasa membuka lebar pintu rumahnya bagi siapa saja yang ingin menyelami keindahan suling Bali.
Wisatawan asing berbondong-bondong datang, tak hanya untuk membeli buah tangannya, namun juga untuk berguru langsung kepadanya.
Dengan tulus, Purwayasa berbagi ilmu, bahkan tanpa memungut biaya sepeser pun bagi generasi muda Bali yang ingin mewarisi warisan luhur ini.
"Ini adalah cara saya menjaga warisan budaya," tutur Purwayasa kepada Koran Bali Express Jawapos Grup, Rabu (7/5), dengan mata berbinar menceritakan kecintaannya yang bersemi sejak tahun 2015.
Kala itu, keinginannya sederhana: mahir bermain suling hasil karyanya sendiri.
Bermodalkan bambu di pekarangan belakang rumah, ia mulai mengukir nada pertamanya.
"Niatan saya awalnya untuk mendalami seni megambel, dan saya sangat tertarik untuk bisa menciptakan alat musik sendiri untuk belajar. Lama kelamaan, muncul keinginan untuk membuat lebih banyak," kenangnya.
Tanpa guru formal, Purwayasa mengandalkan ketekunan dan rasa ingin tahu yang besar.
Ia tak malu bertanya pada teman, bahkan menjelajahi dunia maya untuk mencari ilmu.
Latihan demi latihan dilakoninya setiap hari, hingga akhirnya melodi-melodi indah mengalir dari suling buatannya sendiri.
"Saya sampai membawa tidur suling ini, setiap waktu luang pasti saya mainkan. Sampai akhirnya saya bisa memainkan suling hasil kreasi sendiri," ujarnya dengan bangga.
Seiring waktu, keinginan Purwayasa meluas. Membuat suling bukan lagi sekadar hobi pribadi, namun menjadi panggilan untuk menularkan kecintaan pada budaya lokal kepada generasi muda dan teman-temannya.
Ia pun mulai memutar otak untuk menghasilkan suling yang tak hanya indah didengar, namun juga berkualitas tinggi.
Perjalanan mencari bambu terbaik pun dimulainya. Ia rela menjelajahi berbagai pelosok Bali, dari Bangli hingga Tabanan, demi mendapatkan bambu buluh pilihan. Proses pembuatannya pun tak instan.
Bambu yang didapatkannya harus didiamkan selama tiga bulan, dipotong per ruas, lalu dikeringkan kembali selama tiga bulan.
"Proses ini juga sebagai seleksi alam untuk mendapatkan bambu terbaik sebelum dijadikan bahan suling," jelasnya.
Kualitas suling Purwayasa akhirnya berbicara. Permintaan pun melonjak, tak hanya dari mulut ke mulut, namun juga melalui platform online di media sosial dan e-commerce dengan label Manil Suling Collection.
Harganya bervariasi, mulai dari Rp 35 ribu untuk suling anak-anak hingga Rp 200 ribu untuk suling profesional.
Ia juga tak pernah absen memamerkan karyanya di ajang bergengsi seperti Pesta Kesenian Bali (PKB).
Namun, daya tarik Purwayasa tak hanya terletak pada kualitas sulingnya.
Keramahannya dalam menerima siapa saja yang ingin belajar, termasuk wisatawan mancanegara, menjadi magnet tersendiri.
Wisatawan Eropa dan Tiongkok tak jarang menyambangi rumahnya, terpesona oleh alunan musik rindik yang mungkin mereka dengar di bandara atau penginapan, dan akhirnya jatuh hati pada suling Bali.
"Mungkin mereka mendengarkan musik rindik, lalu tertarik dan datang ke sini. Kelas ini terbuka kapan saja sesuai permintaan wisatawan," paparnya dengan senyum tulus.
Dengan penuh harap, Purwayasa mengajak generasi muda Bali untuk bersama-sama menjaga warisan budaya yang tak ternilai harganya ini.
"Ini adalah kekayaan luar biasa yang kita miliki di Bali. Ayo kita jaga bersama. Jika ada yang berminat belajar bermain suling dan rindik, silakan datang, mari kita belajar bersama," pungkasnya, menyiratkan semangat seorang penjaga tradisi yang tak pernah lelah berbagi. ***