Kisah Pilu dan Keajaiban di Balik Tragedi 11 Nyawa di Kalijambe: Selamat dari Maut karena Botol Minum, Ada Pengantin Baru yang Belum Genap Sebulan.
I Putu Suyatra• Kamis, 8 Mei 2025 | 19:25 WIB
Guru SD Islam Tahfidz Quran As Syafi’iyah, Mendut Aulia Anggi Prastiwi yang baru menikah 20 April 2025 lalu ikut menjadi korban kecelakaan truk pasir menabrak angkot di Kalijambe, Purworejo.
BALIEXPRESS.ID - Kecelakaan maut yang terjadi di Desa Kalijambe, Kecamatan Bener, Purworejo pada Rabu (7/5/2025) tak hanya merenggut belasan nyawa, namun juga menyisakan kisah-kisah pilu yang menusuk hati.
Tragedi yang disebabkan oleh rem blong truk pasir ini menghancurkan rombongan guru SD Islam Tahfidz Quran As Syafi’iyah, Mendut, Mungkid, yang hendak menyampaikan belasungkawa.
Selamat dari Maut karena Tempat Minum
Di tengah duka yang mendalam, terselip sebuah cerita tentang keajaiban dan takdir.
Siti Nur Rodhiyah, salah seorang guru SD Islam Tahfidz Quran As Syafi’iyah, selamat dari maut hanya karena tempat minumnya tertinggal di sekolah.
April Nur, kakak Siti, menceritakan bahwa adiknya awalnya hendak ikut menumpang angkot nahas tersebut bersama 10 rekan gurunya.
Namun, ia menyadari botol minumnya ketinggalan dan kembali ke ruangan untuk mengambilnya.
Saat Siti kembali, angkot sudah penuh, dan ia akhirnya memilih menaiki mobil sekolah bersama guru lainnya.
"Begitu dia kembali ke angkot, ternyata angkot sudah penuh. Lalu ia naik mobil milik sekolah bersama guru lain. Ternyata ini takdir yang justru menyelamatkan adik saya," ungkap April dengan nada haru.
Meski selamat secara fisik, Siti dikabarkan masih trauma dan syok berat atas kehilangan mendadak rekan-rekan sejawatnya.
Kisah yang tak kalah memilukan datang dari salah satu korban meninggal, Aulia Anggi Prastiwi (26).
Guru yang tinggal di Dukuh Semaken, Muntilan ini baru saja merasakan kebahagiaan pernikahan sekitar 17 hari lalu, tepatnya pada 20 April 2025.
Menurut penuturan kerabat, pagi sebelum berangkat takziah, Aulia sempat bercurhat tentang keinginannya untuk segera hamil sebelum sang suami kembali berlayar.
Impian sederhana itu kini pupus oleh takdir tragis di jalanan Kalijambe.
Kepergian Aulia meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya, yang tak menyangka kebahagiaan pengantin baru itu akan berakhir secepat ini.
Kehilangan 10 guru terbaik sekaligus merupakan pukulan telak bagi keluarga besar SD Islam Tahfidz Quran As Syafi’iyah.
Rombongan yang berniat tulus untuk bertakziah justru menjadi korban keganasan jalan raya. Kesedihan mendalam dirasakan oleh para siswa, rekan guru yang selamat, serta keluarga para korban.
Tragedi ini sekali lagi mengingatkan kita akan betapa rapuhnya kehidupan dan pentingnya keselamatan di jalan raya.
Keluarga korban berharap pihak berwenang dapat melakukan penyelidikan tuntas dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Kisah selamatnya Siti dan impian Aulia yang tak terwujud menjadi pengingat pedih akan garis tipis antara hidup dan mati, serta betapa berharganya setiap momen kebersamaan. ***