BALIEXPRESS.ID – Siapa sangka, di balik sosok Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba, Perbekel Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, tersimpan kisah yang jauh lebih menarik daripada yang terlihat.
Terpilih sejak 2021 bukan atas kehendak sendiri, namun atas permintaan banjar, Surya Prabhawa ternyata memiliki dua sisi kehidupan yang tak banyak orang tahu: advokat ulung dengan kantor hukum sendiri dan musisi punk-rock yang aktif memproduksi lagu!
Penasaran bagaimana ia menyeimbangkan kedua dunia yang bertolak belakang ini?
Dari Panggung Festival ke Kursi Perbekel: Kisah Musik Sang Kades
Bagi pria kelahiran 25 Juni 1983 ini, musik bukanlah sekadar hobi. Sejak SMA, Surya Prabhawa sudah akrab dengan panggung dan festival musik.
"Awalnya ngeband itu tahun 1997-1998, waktu SMA itu. Tapi belajar musik itu sebelumnya, waktu SMA sudah ikut-ikut festival," ujarnya saat ditemui Kamis (12/6) oleh Koran Bali Express Jawapos Grup.
Aliran Punk dan Pop Punk menjadi santapan utamanya, meski ia juga menguasai berbagai genre lain seperti rock.
Kini, meskipun fokusnya beralih ke tugas sebagai Perbekel, gairah bermusiknya tak pernah padam.
Ia tak lagi aktif di panggung, melainkan lebih asyik memproduksi lagu, recording, hingga menjual karya-karyanya.
Dengan studio rekaman pribadi di rumah, ia kerap mengajak anak-anak muda untuk berkreasi.
"Sekarang saya lebih senang produksi lagu, recording, karena memang memiliki studio rekaman di rumah," tuturnya.
Bahkan, musik baginya adalah "healing" dan penyemangat kerja. Ia sering mengajak staf kantor desa untuk ikut rekaman.
"Ini adalah healing, karena frekuensi musik memberikan ketenangan. Musik juga sebagai pemberi energi bahkan tidak perlu main musik cukup mendengarkan saja," ceritanya.
Pengacara Andal Penyelamat: Dari Kasus Trading Viral hingga Landak Jawa
Tak hanya lihai bermusik, Surya Prabhawa juga seorang advokat berpengalaman.
Ia mendirikan kantor hukumnya sendiri sejak 2010. Sempat menjadi dosen di Universitas Mahasaraswati Denpasar, ia kembali menekuni dunia hukum pada 2015 setelah melepaskan jabatan struktural di kampus.
Pengalaman berharganya sebagai advokat termasuk berhasil memperoleh keadilan dalam kasus trading pada 2020 yang bahkan menjadi edukasi bagi kasus-kasus serupa lainnya.
Ia juga sempat menangani kasus kepemilikan landak Jawa yang sempat viral, meskipun terlambat untuk mengupayakan restorative justice.
"Sebenarnya kami di kantor hukum lebih kepada corporate lawyer, yakni bagaimana mengelola agar klien tidak sampai terkait kasus hukum," jelas ayah tiga anak ini.
Meskipun demikian, kasus perdata keluarga tetap menjadi bagian dari pekerjaan mereka.
Dilema Pengabdian: Mengapa Memilih Jadi Perbekel?
Dengan segudang pengalaman dan kenyamanan sebagai advokat, mengapa Surya Prabhawa memilih jalan pengabdian sebagai Perbekel?
Ternyata, ini adalah panggilan dari banjar yang tak bisa ia tolak.
"Saya memang diminta oleh banjarnya untuk maju," terangnya.
Sebuah pilihan sulit, apalagi saat itu ia mendapat kesempatan belajar menjadi kurator untuk kasus kepailitan.
"Kalau sebagai perbekel itu adalah pengabdian, membuat kebijakan harus untuk kepentingan bersama meskipun dinilai tidak lazim atau tidak menyenangkan bagi masyarakat. Itu bedanya," jelas lulusan Magister Hukum Universitas Udayana tersebut.
Kini, setelah terpilih, Surya Prabhawa telah membuktikan kemampuannya.
Program kerja dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) bahkan telah diselesaikan dalam waktu lima tahun. Sebuah bukti nyata komitmennya pada desa.
"Saya menjadi perbekel itu bukan pengorbanan dari saya, tapi doa dari teman-teman. Sebab teman-teman waktu itu juga berkorban," imbuhnya.
Sebuah ungkapan yang menunjukkan rendah hati dan penghargaan atas dukungan yang ia terima.
Kisah Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba ini menjadi inspirasi, membuktikan bahwa passion dan pengabdian dapat berjalan beriringan.
Bagaimana menurut Anda, apakah ada sosok lain di sekitar kita yang memiliki kisah serupa? ***