BALIEXPRESS.ID – Perjalanan hidup I Dewa Nyoman Mangku Setiawan menjadi bukti bahwa spiritualitas dan pengabdian dapat tumbuh dari berbagai latar belakang. Pria kelahiran Singaraja, 19 Februari 1972 ini, dulunya adalah seorang hotelier yang sempat menjabat sebagai General Manager (GM) di industri pariwisata.
Namun, jalan hidup membawanya menjalani peran baru sebagai pemangku kawitan Maha Gotra Tirta Harum (MGTH), sebuah tanggung jawab yang lahir dari kesepakatan pasemetonan.
Perjalanan spiritual Dewa Mangku Setiawan dimulai pada tahun 2021, saat dirinya mengikuti prosesi mewinten di usia 47 tahun. Langkah itu ia ambil setelah melewati masa-masa berat dalam hidup—ditinggal meninggal oleh orangtua, anak pertama, dan istri pertamanya. Di tengah kesedihan, ia justru menemukan panggilan untuk ngayah.
Selanjutnya, dengan keberadaan Pura Alang Sanja yang berlokasi di Banjar Koripan Kangin, Banjarangkan, Klungkung, sebagai Kawitan MGTH, ia pun ditunjuk menjadi Pemangku Pengayah di pura tersebut sesuai hasil Mahasabha II MGTH. Ia juga sekaligus ditunjuk sebagai baga agama.
Kini, Mangku Setiawan ngayah di sejumlah titik, termasuk Merajan Alit, Pura Alang Sanja, dan di 10 titik kawitan MGTH lainnya. Sembari Ngayah, suami dari Desak Putu Budiwati itu memiliki misi menyatukan semeton MGTH yang memiliki latar belakang dan karakter berbeda-beda.
“Pasemetonan itu seperti buah jeruk. Meski dibungkus satu kulit, di dalamnya ada ukuran besar dan kecil, ada sekatnya, tapi tetap satu,” ujar Mangku Setiawan dalam satu kesempatan, menggambarkan semangat persatuan di tengah keberagaman karakter antar semeton MGTH.
Setelah pandemi Covid-19 menghantam industri pariwisata dan membuatnya kehilangan pekerjaan, ia beralih ke sektor ritel dan kini menjabat sebagai Branch Manager di Raditya Bali Cabang Gianyar. Langkah ini diambil agar bisa tetap menyeimbangkan tugas sekala-niskala antara dunia kerja dan pengabdian spiritual.
Pria yang tinggal di Banjar Madangan Kelod, Desa Petak, Gianyar, ini pun berniat terus mengabdikan diri untuk ngayah sebagai bentuk Dharma kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menyatukan pasemetonan MGTH. Pesan utamanya sederhana namun kuat, “Jangan melihat perbedaan, mari bersatu”. (*)