BALIEXPRESS.ID - Empat perupa perempuan lintas generasi yang tergabung dalam kelompok Srikandi kembali hadir di panggung seni rupa Bali.
Setelah sempat vakum karena kesibukan keluarga dan pekerjaan, mereka menandai kiprah barunya melalui pameran bertajuk “Sayap yang Tak Terlihat – Rupanjali” di Diarry Gallery, Gianyar, Sabtu (27/9/2025).
Empat seniman tersebut yakni Mega Sari (ISI Yogyakarta), Desire Suamba (Seni Rupa Universitas Udayana), Ni Kadek Kurniati (ISI Bali), dan Nany Soelistyowati (otodidak). Mereka lahir di rentang era Baby Boomer hingga Generasi X (1960–1970-an) dan kini kembali menunjukkan konsistensi karya di ruang publik.
Pameran dibuka secara resmi oleh anggota DPRD Gianyar, Ni Nyoman Etty Yuliastuti, serta dimeriahkan dengan joget Bumbung.
Pameran ini dikurasi oleh Aricadia, yang memandang kurasi bukan sebagai penilaian, melainkan proses penerjemahan makna. Menurutnya, kurator adalah jembatan antara pengalaman batin seniman dan ruang baca publik. "Melihat karya seni tidak pernah netral, melainkan harus disertai pemahaman mendalam terhadap latar hidup, karakter, medium, dan gagasan seniman," ujarnya Minggu (28/9/2025).
Ditambahkannya jika perkembangan seni rupa saat ini bergerak dinamis, ditopang media sosial dan ruang alternatif seperti cafe, restoran, hingga vila yang berfungsi sebagai galeri.
"Pola ini memberi peluang saling menguntungkan, baik bagi perupa yang memperoleh ruang dan eksposur, maupun pemilik usaha yang mendapat promosi," imbuhnya.
Generasi muda juga semakin dekat dengan dunia seni digital, termasuk gaya kompugrafis yang telah berkembang sejak era 1960-an. Di Indonesia, benih gaya ini terlihat sejak 1990-an lewat karya seniman seperti Titarubi dan Heri Dono.
Fenomena pameran yang diinisiasi perempuan kian menonjol di berbagai daerah. "Mereka bukan sekadar peserta, tetapi juga penegas identitas sekaligus perlawanan terhadap stereotip gender. Meski demikian, perjalanan berkesenian perempuan tidak selalu mudah, karena peran domestik kerap membatasi ruang berkarya," lanjutnya.
Dalam sejarah seni rupa Indonesia, nama-nama seperti Kartika Affandi, Arahmaiani, Emiria Soenassa, IGAK Murniasih, Lucia Hartini, Erica Hestu Wahyuni, Rita Widagdo, Dolorosa Sinaga, Christine Ay Tjoe, hingga Titarubi menjadi bukti nyata kontribusi besar perupa perempuan.
Sebagai pendiri komunitas seniman perempuan Mahalakshmi, Aricadia aktif menyelenggarakan pameran. Ia juga tengah menyiapkan agenda berikutnya bersama komunitas tersebut di Ubud Diarry Gallery pada akhir 2025. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana