BALIEXPRESS.ID- Kabupaten Tabanan tepatnya di Puri Gede Blayu terdapat satu warisan budaya kain tenun yang saat ini keberadaannya di ambang kepunahan karena tidak adanya regenerasi. Namanya kain tenun cagcag.
Ketua Kelompok Tenun Cagcag Sekar Jepun Belayu, I Gusti Ayu Kartiniati, 66, ketika ditemui di Puri Gede Blayu menjelaskan bahwa tradisi menenun kain di Puri Gede Blayu memang sudah menjadi salah satu tradisi turun-temurun.
Kerajinan ini diwariskan oleh pangelingsir perempuan kepada anak perempuannya.
“Jadi tradisi kami menenun ini sudah ada sejak zaman kerajaan, sebelum saya lahir pun tradisi ini sudah ada. Saya sendiri sudah belajar menenun sejak duduk di bangku sekolah dasar, saat itu saya diajari oleh pangelingsir saya, tujuannya adalah supaya bisa mengisi waktu setelah pulang sekolah,” jelasnya.
Selain untuk mengisi waktu, menenun ini juga salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian.
Kain tenun yang dihasilkan dijual ke pasar atau ke masyarakat umum.
Adapun jenis kain yang dihasilkan adalah kain kamen, selendang dan kampuh.
Motifnya pun beragam, mulai dari motif pakan lidi, cerik bolong jendela, sumping waluh, blengbong, hingga cerik poleng.
“Selain digunakan untuk selendang, dan pelengkap payas agung dalam payas agung, kain tenun yang dihasilkan di Puri Gede Blayu ini juga sering kali digunakan sebagai kain untuk aktivitas upacara, salah satunya adalah motif sumping waluh dan sekordi,” ungkapnya.
Lantas bagaimana dengan proses pembuatannya? Diungkapkan I Gusti Ayu Suarti, 71, salah seorang pangelingsir Puri Gede Blayu yang juga perajin tenun, proses menenun satu lembar kain selendang ini bisa memakan waktu dua sampai tiga minggu.
Untuk menghasilkan satu lembar selendang sepanjang 2,5 meter tiga gulung benang katun.
Sedangkan untuk harga benangnya sendiri, dibanderol dengan Rp125 ribu per bal. Satu bal ini bisa menghasilkan hingga 15 gulung benang.
“Untuk harga, kami menjual selendang per lembarnya sebesar Rp250 ribu sampai dengan Rp300 ribu per lembar, tergantung motif dan tingkat kesulitannya,” ungkapnya.
Suarti mengaku, saat ini para perajin di Puri Gede Blayu hanya memproduksi selendang saja, karena tidak ada lagi pengerajin yang bisa membuat motif kain (kamen). Sehingga produksinya terbatas.
“Untuk kain kamen saat ini kami tidak produksi lagi, karena yang membuat motif sudah meninggal. Saat ini kami hanya memiliki tujuh orang perajin dan seluruhnya berusia diatas 60 tahun,” paparnya.
Oleh karena itu, Suarti mengaku khawatir jika nanti tradisi menenun di Puri Gede Blayu ini terputus karena tidak adanya generasi penerus.
Tidak adanya generasi penerus ini, disebutkannnya karena para anak muda yang ada di Puri Blayu lebih suka bekerja di perusahan atau di sektor pariwisata dibandingkan untuk belajar menenun.
Penyebanya, diakatakan Suarti cukup banyak, salah satunya adalah factor penghasilan dari hasil menenun yang diakuinya tidak menentu.
“Generasi muda kami lebih memilih bekerja di sektor lain,” ungkapnya.
Sementara itu, I Gusti Ayu Rai Parnitiningsih, Kasi Kesra di Desa Peken Belayu, menjelaskan untuk mengantisipasi punahnya tradisi menenun di Puri Gede Blayu ini, pemerintah desa sedang merancang program pelatihan bagi generasi muda.
“Kami ada rencana mengarahkan lewat dana desa untuk membuat pelatihan menenun agar anak-anak, khususnya generasi muda di wilayah desa peken Belayu ini bisa belajar menenun, sehingga tradisi ini tidak punah,” ungkapnya. (*)
Editor : I Made Mertawan