BALIEXPRESS.ID- Perjalanan hidup tak selalu mudah bagi dua bocah bersaudara di Dusun Bukit Tungtung, Desa Songan B, Kecamatan Kintamani, Bangli.
I Juni Sugiarta, 10, dan adiknya, Agus Sentana, 8, kini menyandang status yatim piatu setelah musibah bertubi-tubi menimpa keluarga kecil mereka.
Kesedihan pertama datang sekitar lima tahun lalu, ketika ibu mereka meninggal dunia akibat sakit.
Baca Juga: Wuling Perluas Pasar Eksion ke Bali, SUV 7-Seater Hadir dalam Varian EV dan PHEV
Sejak saat itu, keluarga ini hidup dengan kondisi serba pas-pasan. Musibah belum berhenti. Setahun lalu, giliran rumahnya yang rusak diterjang angin kencang.
Bangunan tempat mereka berteduh rusak parah hingga tak lagi layak ditempati.
Ayahnya, I Ketut Budi, yang seorang buruh serabutan tak sanggup memperbaiki rumah, sehingga tempat tingga itu dibiarkan terbengkalai. Menumpang di rumah kerabat menjadi pilihan.
Baca Juga: May Day 2026 di Bali Usung Konsep Kolaboratif
Sejak itu, Juni dan Agus tinggal menumpang di rumah bibinya atau kakak dari ayahnya, yang sudah berkeluarga. Ayahnya juga ikut tinggal di sana.
"Setelah rumah rusak numpang di kakaknya," jelas Kadus Tuntung, I Ketut Nadi pada Rabu (29/4/2026).
Cobaan bagi kedua bocah ini tak berhenti di sana. Awal April lalu, sang ayah meninggal dunia setelah pesta arak.
Kepergian itu menyisakan duka mendalam sekaligus meninggalkan kedua anak ini tanpa orang tua.
Kini, Juni dan Agus diasuh sepenuhnya oleh bibinya di dusun yang sama. Mereka tinggal dalam rumah bantuan pemerintah bersama bibi dan paman yang memiliki seorang anak.
Keseharian keluarga ini bergantung pada penghasilan sang paman yang bekerja sebagai buruh harian lepas.
Sementara sang bibi tidak bekerja karena fokus mengasuh kedua bocah yang belum sebulan ditinggal ayahnya.
Nadi menegaskan bahwa kondisi kedua bocah itu membutuhkan uluran tangan. Selain yatim piatu, keluarga yang mengasuhnya juga kurang mampu.
Nadi sudah mengusulkan bantuan kepada pemerintah untuk pemenuhan tempat tinggal, kesehatan, hingga pendidikan kedua anak ini.
Juni kini duduk di kelas 3 SD di Songan, sementara Agus akan mulai bersekolah pada tahun ajaran baru nanti.
Di tengah kekurangan itu, mereka tetap berusaha menjalani hari sebagaimana anak seusianya, meski saat ini sangat bergantung pada perhatian dan kepedulian banyak pihak.
Dinas Sosial Kabupaten Bangli sudah mendatangi tempat tinggal kedua anak itu.
I Wayan Parwata, Analisis Kebencanaan Dinas Sosial yang datang bersama PMI membawa bantuan berupa sembako, kasur dan kebutuhan jangka pendek lainnya. (*)
Editor : I Made Mertawan