BALIEXPRESS.ID – Selama bertahun-tahun, nama I Ketut Putra Ismaya Jaya atau yang lebih dikenal sebagai Jro Bima identik dengan aktivitas pendampingan masyarakat di Bali.
Berbagai persoalan warga, mulai dari sengketa lahan hingga isu sosial kemasyarakatan, menjadi bagian dari pengabdian yang dijalaninya sebelum akhirnya memutuskan memasuki dunia politik.
Menurut Jro Bima, kiprahnya di jalur politik bukanlah perubahan arah perjuangan, melainkan langkah untuk memperluas ruang dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat Bali.
"Saya berusaha dengan kemampuan yang saya miliki untuk membantu masyarakat Bali yang memerlukan bantuan. Saya akan membela tanah kelahiran ini," katanya, Selasa (30/6).
Baca Juga: 124 IKM Kantongi Omzet Rp5,72 Miliar dari Pameran Bali Bangkit di PKB 2026
Pria kelahiran Amlapura, Karangasem, 24 Mei 1978 itu tumbuh di lingkungan yang kuat memegang adat dan budaya Bali.
Latar belakang tersebut membentuk kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya menyangkut hak warga lokal serta upaya menjaga warisan budaya Bali.
Setelah tidak lagi bergabung dengan Laskar Bali, Jro Bima bersama sejumlah rekannya mendirikan Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB).
Melalui organisasi tersebut, ia aktif memberikan pendampingan kepada masyarakat sekaligus mengawal berbagai isu sosial yang berkembang di Pulau Dewata.
Aktivitasnya juga dikenal luas melalui media sosial dan kanal YouTube. Berbagai platform digital dimanfaatkannya untuk menyampaikan aspirasi masyarakat serta mengangkat persoalan-persoalan yang diharapkan mendapat perhatian dan penyelesaian.
Selain aktif dalam kegiatan sosial, Jro Bima juga menaruh perhatian terhadap pelestarian adat dan budaya Bali.
Ia telah menjalani pawintenan sebagai pemangku dan ngayah di Pura Candi Narmada Tanah Kilap sebagai bentuk pengabdian dalam bidang spiritual.
Baginya, menjaga Bali tidak hanya berarti melestarikan tradisi, tetapi juga memastikan nilai-nilai budaya tetap menjadi identitas masyarakat di tengah perubahan zaman.
Prinsip tersebut sejalan dengan filosofi Nindihin Bali yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan, kebenaran, dan martabat leluhur.
"Bali adalah warisan yang harus kita jaga bersama. Kalau bukan kita yang peduli terhadap masyarakat, adat dan budaya Bali, lalu siapa lagi?" tuturnya.
Meski telah lama bergerak di bidang sosial, Jro Bima menilai masih banyak persoalan masyarakat yang memerlukan penyelesaian melalui jalur kebijakan.
Pertimbangan itulah yang kemudian membawanya bergabung dengan Partai Perindo.
“Saya masuk politik bukan untuk mencari jabatan. Saya ingin bisa berbuat lebih banyak dan menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Bali,” tegasnya.
Kini, sebagai Ketua DPW Partai Perindo Bali, ia berupaya memperkuat struktur organisasi hingga tingkat akar rumput sekaligus membangun partai yang lebih dekat dengan masyarakat.
Jro Bima juga menargetkan Perindo Bali menjadi salah satu kekuatan politik yang semakin solid menjelang Pemilu 2029, dengan memperbanyak kader yang mampu membawa aspirasi masyarakat ke lembaga legislatif.
"Saya ingin Partai Perindo menjadi sarana untuk membawa perubahan besar bagi Bali, menjaga kelestarian budaya, serta menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita," ungkapnya.
Bagi Jro Bima, politik hanyalah salah satu sarana untuk melanjutkan pengabdian yang selama ini telah dijalankan melalui aktivitas sosial.
Tujuan yang ingin dicapai tetap sama, yakni memperjuangkan kepentingan masyarakat sekaligus menjaga Bali agar tetap kuat dengan identitas budaya dan mampu memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.(***)
Editor : Rika Riyanti