"Selaras", Lagu Baru Anak-anak Ajak Orang Tua dan Anak Bertumbuh Bersama

Rika Riyanti • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 12:35 WIB
BERTUMBUH BERSAMA: Grup musik Anak-anak bersama Made Mawut dan Nosstress merilis lagu terbaru berjudul Selaras
BERTUMBUH BERSAMA: Grup musik Anak-anak bersama Made Mawut dan Nosstress merilis lagu terbaru berjudul Selaras

 

BALIEXPRESS.ID – Bertepatan dengan Hari Anak Nasional, grup musik anak-anak bersama Made Mawut dan Nosstress merilis lagu terbaru berjudul Selaras, sebuah karya yang mengajak pendengar merenungkan kembali makna hubungan antara orang tua, anak, dan kehidupan yang dijalani bersama.

Lagu ini lahir dari kegelisahan terhadap perubahan zaman yang dinilai semakin menjauhkan anak-anak dari pengalaman sederhana yang dulu akrab dengan masa kecil.

Bermain di alam, berbagi dengan teman, hingga menikmati kebersamaan tanpa tuntutan menjadi yang terbaik menjadi gambaran yang diangkat dalam lagu tersebut.

Melalui Selaras, para pencipta lagu mengingatkan bahwa kehidupan modern kerap mendorong setiap orang untuk selalu menjadi yang paling unggul, paling cepat, dan paling menonjol.

Di tengah budaya kompetisi yang semakin kuat, makna kebersamaan dan proses bertumbuh bersama dinilai mulai terpinggirkan.

Baca Juga: Bangun Loyalitas Pelanggan, 831 Petitenget Gelar "The Get Together" sebagai Ruang Berkumpul dan Kolaborasi Komunitas

Dalam keterangan yang menyertai perilisan lagu itu, para kreator juga membagikan refleksi mengenai perjalanan menjadi orang tua.

Mereka menilai bahwa peran sebagai orang tua bukan sekadar mengajarkan berbagai hal kepada anak, melainkan juga menjadi proses belajar yang terus berlangsung.

"Konon, menjadi orang tua adalah tentang mengajarkan banyak hal kepada anak. Namun, semakin kami menjalaninya, kami menyadari bahwa menjadi orang tua justru adalah tentang terus belajar,” ujar salah satu orang tua, Ngurah Termana, Kamis (23/7).

Refleksi tersebut berlanjut pada pemahaman bahwa setiap anak hadir dengan karakter, bakat, rasa ingin tahu, dan cara pandangnya sendiri terhadap kehidupan.

Karena itu, orang tua diharapkan tidak memandang anak sebagai ruang kosong yang harus diisi dengan seluruh harapan maupun mimpi mereka.

"Belajar memahami dunia yang tidak lagi sama dengan dunia tempat kami tumbuh. Belajar menerima bahwa anak bukanlah ruang kosong yang harus kami isi dengan mimpi-mimpi orang tua. Mereka datang membawa zamannya sendiri, dengan rasa ingin tahu, bakat, karakter, dan caranya sendiri memandang kehidupan,” tuturnya.

Melalui pesan itu, Selaras dihadirkan sebagai ruang refleksi sekaligus dialog antara orang tua dan anak.

Lagu ini mengangkat nilai-nilai tentang bertumbuh bersama, saling mendengarkan, berbagi, bergandengan tangan, serta membangun hubungan yang selaras dengan sesama maupun alam.

Para kreator menegaskan bahwa kebahagiaan tidak harus dicapai dengan menjadi seragam atau selalu unggul dibanding orang lain, melainkan melalui proses berjalan bersama.

Baca Juga: Pelatihan Ekspor dari BRI Peduli Buka Jalan UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global

Sementara itu, Made Mawut menjelaskan bahwa lagu ini memberi penanaman terhadap nilai-nikai kerjasama dan kesetaraan. Lewat lagu ini pula, menunjukkan manifesto kecil parenting.

“Negara seharusnya memfasilitasi tumbuh kembang anak secara harmonis, tanpa paksaan kompetisi, dan selaras dengan hak-hak dasarnya,” ucapnya.

Salah satu personel Nosstress, Man Angga, mengatakan Selaras bukan sekadar lagu anak-anak, melainkan refleksi bagi orang tua dan masyarakat mengenai berbagai persoalan yang memengaruhi kehidupan anak.

"Sebenarnya lagu ini lebih banyak bagaimana kita sebagai orang tua merespon keadaan saat ini. Banyaklah memang sudah keadaan yang terlihat tidak selaras. Tidak selaras itu artinya sudah banyak yang tidak bisa saling mendukung, tidak bisa saling jalan bersama baik dari kondisi lingkungan maupun keputusan-keputusan manusia itu sendiri," ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap anak-anak yang membutuhkan ruang aman untuk belajar dan bermain.

"Anak memerlukan ruang untuk belajar dan bermain yang seluas-luasnya, dan kalau bisa senyaman-nyamannya. Hal itu tidak didapat di Indonesia dengan kondisi pada saat ini," katanya.

Ia menjelaskan, makna "selaras" dalam lagu tersebut bukan berbicara mengenai kesetaraan, melainkan kesesuaian agar seluruh elemen kehidupan dapat berjalan bersama.

"Kalau kita bicara tentang selaras, selaras itu tentu sebuah kesesuaian. Bukan setara, tapi bisa berjalan dengan sesuai," ucapnya.

Man Angga juga menilai berbagai persoalan yang dihadapi anak saat ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan maupun kondisi sosial yang membuat orang tua kehilangan banyak waktu bersama keluarga.

"Banyak sekali hal tidak selaras yang datangnya itu dari pemerintah dan akhirnya anak-anak kita yang menjadi korban. Tentunya yang pertama, pasti orang tua yang akan tersita kehidupannya. Kemudian tidak memiliki waktu yang cukup untuk hidup bersama anak-anak. Itu membuat ketidakselarasan yang lebih luar biasa lagi di dunia," katanya.

Baca Juga: 644 Ribu Pekerja Terlindungi, Cakupan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Denpasar Tembus 50,24 Persen

Padahal, menurutnya, kebutuhan utama anak sesungguhnya sangat sederhana.

"Untuk menjadi selaras, anak-anak tidak memerlukan banyak hal. Mereka hanya memerlukan tempat bermain yang baik, kemudian memerlukan waktu yang cukup untuk bisa berinteraksi bersama ruang sekitarnya, terutama sama keluarga," ujarnya.

Namun, realitas saat ini justru menunjukkan sebagian besar waktu orang tua tersita oleh pekerjaan sehingga kesempatan mendampingi anak menjadi semakin terbatas.

"Sekarang kehidupan Indonesia yang saat ini, mungkin kehidupan dunia yang saat ini, mengambil sebagian besar waktu orang tua untuk bekerja banyak di luar rumah. Jadi tidak memiliki waktu yang cukup untuk membesarkan anak," katanya.

Ia menilai kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan emosional anak.

"Akhirnya anak-anak itu akan hadir di dunia dengan perasaan yang kosong. Ketika kita mengharapkan anak-anak untuk membagikan cinta yang banyak untuk dunia, sepertinya itu mustahil karena tangki cintanya dia sendiri itu masih kosong. Dan kosong itu karena apa? Ketidakhadiran orang tua," ujarnya.

Man Angga menambahkan, lagu Selaras lahir dari keresahan para personel Nosstress dan Made Mawut yang kini sama-sama menjalani peran sebagai orang tua.

"Made Mawut, kebetulan kami dan juga teman-teman sedang memasuki fase kami memiliki keluarga dan punya anak. Pasti keresahan itu akan hadir karena semua orang tua pasti mengharapkan yang terbaik bagi anak, tapi mengupayakan yang terbaik di Indonesia ini sepertinya sangat amat berat dengan kondisi yang saat ini, apalagi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat kacau," katanya.

Ia bahkan menilai karya musik menjadi salah satu cara untuk tetap menjaga kewarasan menghadapi berbagai persoalan tersebut.

"Jadi mungkin karya ini adalah salah satu cara supaya kita bisa tetap waras kepalanya untuk menghadapi kondisi saat ini," ujarnya.

Baca Juga: 34 Advokat SJB Kawal Media dalam Sidang Gugatan Rp25 Miliar Togar Situmorang: Kami On Fire dan All Out

Selain membawa pesan sosial, proses produksi Selaras juga dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan karakter anak-anak sebagai pengisi vokal.

Menurut Man Angga, prosesnya berlangsung selama beberapa bulan agar anak-anak mengenal lagu tersebut secara alami sebelum memasuki studio rekaman.

"Setelah itu kita punya jeda beberapa bulan. Jeda beberapa bulan itu mengupayakan supaya lagu yang orek-orek itu bisa didengerin sama anak-anak. Karena secara pengalaman kalau misalnya bilang sama anak-anak bahwa, 'Eh, ini ada lagu. Ayo kita nyanyiin nanti kita rekam,' anak-anak pasti bakal takut duluan," tuturnya.

Karena itu, lagu tersebut diperdengarkan berulang kali dalam aktivitas sehari-hari hingga anak-anak hafal tanpa paksaan. Setelah merasa nyaman, barulah mereka diajak mengikuti proses rekaman.

"Perlu waktu yang panjang untuk kami setiap hari, sesekali dua kali, hidupin lagunya sampai akhirnya mereka tertarik secara natural dan mereka hapal secara sendirinya. Setelah anak-anak sudah merasa nyaman, barulah kita ambil waktu untuk rekaman," katanya.

Ia menambahkan, sebelum proses rekaman dilakukan, para anak juga diajak mengikuti sejumlah kegiatan bersama untuk membangun kedekatan dan menghilangkan rasa canggung.

"Sebelum rekaman itu, kita mengadakan beberapa kali pertemuan sama anak-anak, semacam piknik-piknik kecil, kemudian seperti simulasi nanti mereka nyanyi bersama untuk membangun suasananya. Rekamannya memang selesai dalam waktu satu hari untuk bersama-sama, tapi ada beberapa anak yang kita rekam di hari yang berbeda karena perbedaan kenyamanan dan ketersediaan waktu," pungkasnya.

Lagu Selaras dibawakan oleh Anak-anak bersama Made Mawut dan Nosstress. Karya ini ditulis oleh Made Mawut dan Guna Warma, diproduseri Made Mawut bersama Nyoman Angga Yudistha, serta direkam, di-mixing, dan di-mastering di Taman Bermain Nosstress. Video musik lagu tersebut digarap oleh Hadhi Kusuma.(***)

Editor : Rika Riyanti
selaras bali made mawut anak-anak nosstress