Di Balik Lomba Sampi Gerumbungan Buleleng, Modal Puluhan Juta Rawat Sapi Teknik Mepagrug

Dian Suryantini • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 08:35 WIB
Penampilan peserta lomba Sampi Gerumbungan di Lovina Festival 2026. (Ist)
Penampilan peserta lomba Sampi Gerumbungan di Lovina Festival 2026. (Ist)

BALIEXPRESS.ID- Derap langkah sepasang sapi Bali yang berjalan serasi di arena Lapangan Desa Kaliasem, Buleleng menjadi salah satu atraksi yang paling menyita perhatian dalam rangkaian Lovina Festival 2026.

Lomba Sampi Gerumbungan kembali digelar sebagai upaya Pemkab Buleleng menjaga tradisi sekaligus memperkuat eksistensi peternakan sapi Bali sebagai aset budaya dan ekonomi masyarakat.

Sebanyak 16 akit atau pasangan sapi dari wilayah Buleleng timur, tengah, hingga barat tampil dalam perlombaan tersebut.

Baca Juga: Bantu Atasi Trauma, Polres Tabanan Berikan Bantuan Psikolog kepada Keluarga Korban Pengeroyokan Baturiti

Masing-masing pasangan menunjukkan keserasian gerak, ketepatan langkah, dan kekompakan yang menjadi penilaian utama dalam tradisi Sampi Gerumbungan.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan ajang tersebut tidak sekadar menjadi hiburan masyarakat, tetapi memiliki nilai strategis dalam menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memberikan apresiasi kepada para peternak yang selama ini mempertahankan kualitas sapi Bali.

Menurutnya, keberadaan Lomba Sampi Gerumbungan juga menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berbasis budaya.

Baca Juga: Desa Batunya Ungkap Kronologi Main Hakim Sendiri Versi Warga, KD Disebut Bawa Senjata Tajam

Tradisi lokal yang dikemas dalam sebuah festival diyakini mampu memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus memperkenalkan identitas Buleleng kepada generasi muda.

“Tradisi ini merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga. Melalui lomba ini kami ingin memberikan ruang bagi para peternak untuk menunjukkan kualitas sapi Bali sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Buleleng kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Baca Juga: Prospek Menggiurkan, Bangli Target Perluas 350 Hektare Kebun Kopi pada 2027

Di balik penampilan sapi-sapi terbaik tersebut, terdapat proses pemeliharaan yang membutuhkan ketelatenan dan biaya yang tidak sedikit.

Hal itu dirasakan Kadek Agus Yuda Saputra, 23, peternak muda asal Desa Galungan, Kecamatan Sawan, Buleleng, yang aktif melestarikan tradisi keluarga sebagai pemilik sapi gerumbungan.

Bersama Kelompok Tani Giri Lestari, Agus rutin melatih pasangan sapi jantan yang dipersiapkan mengikuti berbagai perlombaan.

Latihan dilakukan tiga kali dalam sepekan untuk membangun kekompakan kedua sapi agar mampu berjalan selaras saat berada di lintasan.

Selain latihan, terdapat teknik perawatan khusus yang dikenal dengan istilah mepagrug.

Dalam metode tersebut, sapi dijemur di bawah sinar matahari sejak pagi hingga siang sebelum kembali ke kandang untuk diberi pakan.

Cara ini dipercaya membuat sapi lebih tenang dan mudah dikendalikan ketika tampil di arena.

“Kalau sapi gerumbungan ada istilah mepagrug. Sapi dijemur sampai siang agar lebih jinak dan tidak agresif saat dilombakan,” tutur Agus.

Ia menjelaskan, pakan yang diberikan hanya berupa rumput alami tanpa tambahan bahan tertentu agar kesehatan pencernaan sapi tetap terjaga.

Sementara itu, investasi untuk membentuk satu pasangan sapi gerumbungan lengkap dengan perlengkapannya, seperti lampit dan payasan, dapat mencapai sekitar Rp50 juta.

Meski membutuhkan modal besar, Agus mengaku minat generasi muda untuk mempertahankan tradisi ini masih cukup tinggi.

Baginya, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan sapi, melainkan juga keharmonisan gerak, kesesuaian langkah kaki, serta kekompakan pasangan sapi selama melintasi lintasan.

Melalui penyelenggaraan Lomba Sampi Grumbungan dalam Lovina Festival 2026, Pemkab Buleleng berharap tradisi khas tersebut tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Di saat yang sama, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi peternakan sapi Bali serta memperkuat citra Buleleng sebagai destinasi wisata budaya.

Pada perlombaan tahun ini, pasangan sapi dari Desa Menyali, Kecamatan Sawan, berhasil meraih Juara I.

Posisi Juara II diraih peserta dari Desa Panji, Kecamatan Sukasada, disusul Juara III dari Kecamatan Sawan. Sementara Juara Harapan I diraih peserta dari Desa Bebetin. (*)

Editor : I Made Mertawan
Sampi Gerumbungan lovina buleleng