Pir Kukus untuk Batuk? Ini Tradisi dan Fakta yang Perlu Diketahui

I Putu Suyatra • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 17:55 WIB
Sup pir hangat dengan tambahan jahe yang biasa disajikan dalam tradisi kuliner Asia Timur. (AsianInspirations)
Sup pir hangat dengan tambahan jahe yang biasa disajikan dalam tradisi kuliner Asia Timur. (AsianInspirations)
 

BALIEXPRESS.ID – Buah pir selama ini dikenal sebagai buah yang manis, segar, dan lebih sering disantap langsung. Namun, ketika cuaca berubah dan tenggorokan terasa kurang nyaman, pir juga kerap diolah menjadi sajian hangat dalam sejumlah tradisi Asia Timur.

Pir dapat dikukus atau direbus bersama bahan lain seperti jahe, madu, dan kurma merah. Cara membuatnya sederhana, tetapi kebiasaan mengolah pir menjadi hidangan hangat telah lama dikenal dalam tradisi pengobatan pangan di China dan Korea.

Pir Hangat dalam Tradisi China dan Korea

Dalam pengobatan tradisional China, pir dikenal sebagai salah satu bahan pangan yang digunakan dalam kondisi yang berkaitan dengan kekeringan. Karena itu, pir tidak hanya dikonsumsi dalam kondisi segar, tetapi juga diolah menjadi sajian hangat.

Kebiasaan tersebut juga berkaitan dengan kandungan air pada buah pir yang cukup tinggi, yakni sekitar 80–84 persen. Selain air, pir mengandung serat, vitamin C, vitamin K, serta sejumlah senyawa antioksidan.

Salah satu olahan pir yang dikenal di Korea adalah baesuk. Hidangan tersebut dibuat dari pir yang dikukus bersama sejumlah bahan tambahan. Dalam versi tradisional, pir dapat dipadukan dengan madu dan jahe sehingga menghasilkan rasa manis, hangat, serta aroma rempah.

Benarkah Pir Kukus Bisa Meredakan Batuk?

Di Indonesia, pir hangat mungkin belum sepopuler wedang jahe atau berbagai minuman herbal. Meski demikian, mengolah buah dan rempah menjadi sajian hangat bukan hal yang asing, terutama ketika cuaca berubah atau tubuh terasa kurang nyaman.

Pir kukus juga sempat banyak dibicarakan karena dianggap dapat membantu meredakan batuk. Resep yang beredar umumnya menggunakan pir dan jahe, kemudian dikukus hingga teksturnya menjadi lunak.

Namun, pir kukus sebaiknya dipandang sebagai makanan pendamping, bukan pengganti obat. Klaim bahwa pir kukus dapat menyembuhkan batuk tidak dapat disamakan dengan efektivitas pengobatan medis.

Jika batuk berlangsung lama, semakin berat, atau disertai gejala lain, penyebabnya tetap perlu diperiksa dan ditangani sesuai kondisi.

Pir, Jahe, dan Madu Jadi Sajian Hangat

Perpaduan pir dan jahe menghasilkan rasa manis sekaligus hangat yang cocok disantap ketika cuaca terasa kurang bersahabat. Madu atau kurma merah juga dapat ditambahkan untuk memberikan rasa dan aroma yang lebih kaya.

Selain pir kukus, sup pir menjadi pilihan lain untuk menikmati buah tersebut dalam bentuk hidangan hangat. Pengolahan ini memberikan pengalaman rasa yang berbeda dari pir segar sekaligus menjadi bagian dari tradisi kuliner di sejumlah wilayah Asia Timur.

Jadi, pir kukus dengan jahe dan madu dapat menjadi pilihan makanan hangat yang sederhana. Namun, manfaatnya tidak sebaiknya dibesar-besarkan sebagai obat, terutama jika seseorang mengalami batuk atau keluhan kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan medis.

Editor : I Putu Suyatra
pir batuk