Merintis dari Pulpen, Gede Suarsa Kembangkan Kerajinan Bambu di Buleleng

Dian Suryantini • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:40 WIB
Produk bambu lukisan Gede Suarsa. (Dian Suryantini/Bali Express)
Produk bambu lukisan Gede Suarsa. (Dian Suryantini/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID – Sebatang bambu di tangan Gede Suarsa Ariawan bukan sekadar bahan mentah.

Melalui ketekunan dan kreativitasnya, bambu disulap menjadi pulpen, tumbler, sedotan hingga asbak dengan sentuhan seni khas Bali.

Goresan gambar wayang pada pulpen bambu menjadi salah satu ciri yang membedakan produknya dari kerajinan sejenis.

Baca Juga: Pansus I DPRD Karangasem Hitung Dampak Penutupan Amankila, PAD Terancam Susut Rp6 Miliar

Warga Banjar Menasa, Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, Kabupaten Klungkung ini merintis usaha kerajinan bambu secara mandiri sejak 2019.

Melalui Manasa Handycraft, ia berupaya membuktikan bahwa bahan sederhana yang tumbuh di lingkungan sekitar dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ketika diolah dengan kreativitas.

Perjalanan itu bermula dari pulpen bambu. Berbekal bahan baku yang relatif mudah ditemukan, Gede Suarsa mulai bereksperimen mengolah bambu menjadi benda fungsional.

Baca Juga: Perhiasan Emas dan Gelang Perak Hilang dari Lemari, Warga Jumpai Klungkung Rugi Rp11 Juta

Seiring waktu, produk yang dihasilkan semakin beragam. Ia tidak hanya mengutamakan fungsi, tetapi juga menghadirkan unsur estetika dan identitas budaya Bali.

Salah satu daya tarik produknya terletak pada gambar wayang yang dilukis langsung di permukaan bambu.

Baca Juga: Cegah Karhutla Meluas, Pemerintah Larang Segala Bentuk Pembakaran Lahan

Tidak menggunakan mal, ia mengandalkan keterampilan tangan untuk menghasilkan goresan yang menjadi karakter tersendiri pada setiap produk.

“Untuk menggambar wayangnya sekitar dua menit karena saya gambar langsung, tidak menggunakan mal,” ungkapnya, Selasa (13/10/2026).

Di balik bentuk pulpen yang sederhana, terdapat tahapan pengerjaan yang membutuhkan ketelitian.

Bambu terlebih dahulu dipilih dalam kondisi kering, kemudian dipotong sesuai ukuran. Badan pulpen dibuat sepanjang sekitar 12 sentimeter, sedangkan bagian tutupnya sekitar 5 sentimeter.

Potongan tersebut selanjutnya diamplas hingga permukaannya halus sebelum dihias. Dalam sehari, Gede Suarsa mampu menghasilkan sekitar 20 pulpen bambu.

Produk ini dijual mulai Rp25 ribu per buah, sementara harga kerajinan lainnya menyesuaikan desain dan tingkat kesulitan pengerjaan.

Meski telah menghasilkan pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan, perjalanan Manasa Handycraft belum sepenuhnya mulus.

Keterbatasan tenaga kerja membuat kapasitas produksi masih terbatas. Akibatnya, ia belum leluasa memenuhi permintaan sekaligus mengikuti pameran secara rutin.

Pemasaran pun masih mengandalkan pesanan melalui WhatsApp. Kendati demikian, produknya mulai menarik perhatian pembeli lokal, tamu luar daerah hingga wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Sinabun.

Bagi Gede Suarsa, bambu menyimpan peluang yang tidak berhenti pada produk kerajinan.

Pengembangannya juga berpotensi membuka lapangan kerja dan melibatkan masyarakat sebagai pemasok bahan baku.

Perbekel Sinabun, Nyoman Sumanada, menilai kreativitas tersebut layak dikembangkan karena didukung ketersediaan bambu di wilayah desa.

Ia berharap dukungan berupa peralatan modern, pelatihan dan perluasan pemasaran dapat membantu pengrajin meningkatkan produktivitas.

Bagi Gede Suarsa, setiap potongan bambu menghadirkan kesempatan untuk berkarya. Dari bahan yang tumbuh di sekitar desa, ia merangkai fungsi, seni, dan budaya menjadi produk bernilai jual.

Ketekunannya menjadi bukti bahwa potensi lokal dapat berkembang ketika bertemu dengan kreativitas dan kemauan untuk terus berusaha. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
pulpen bambu kerajinan bambu buleleng