Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

10 Fakta Menarik Puja Mandala: Simbol Toleransi Beragama di Bali, Lima Tempat Ibadah Berdampingan di Satu Kompleks

I Putu Suyatra • 2024-11-11 23:42:16
Puja Mandala
Puja Mandala

BALIEXPRESS.ID - Dalam suasana pluralisme yang sering diuji, Puja Mandala di Bali hadir sebagai simbol kuat kerukunan antarumat beragama.

Terletak di kawasan Nusa Dua, kompleks ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman bisa hidup harmonis.

Di sini, lima tempat ibadah dari berbagai agama berdiri berdampingan—sebuah keunikan yang mengundang perhatian wisatawan dan masyarakat lokal.

Puja Mandala menghadirkan masjid, gereja Katolik, gereja Protestan, vihara, dan pura dalam satu kawasan yang rapi dan tertata.

Masing-masing tempat ibadah menempati kavling khusus di lahan seluas 2,5 hektare, mencerminkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kompleks ini pertama kali digagas pada tahun 1994 dengan dukungan PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC), berkat inisiatif Joop Ave, Menteri Pariwisata pada era Presiden Soeharto, yang ingin membangun simbol kebersamaan di tengah keberagaman.

Sudiarta, penjaga Pura Jagatnatha, menyampaikan bahwa pura tersebut tidak hanya terbuka bagi umat Hindu, tetapi juga mengundang siapa pun untuk bersembahyang.

“Pura ini dibangun dengan semangat kebhinekaan. Setiap bulan, pengurus dari kelima tempat ibadah di sini rutin bertemu dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), yang membuktikan bahwa komunikasi dan kerja sama antarumat beragama berjalan baik,” jelasnya.

Peresmian Puja Mandala berlangsung pada tahun 1997, dan sejak saat itu kompleks ini terus menjadi simbol toleransi di Bali.

Suara lonceng gereja, azan, dan doa-doa dari berbagai agama terdengar bergema, mengiringi suasana tenang di Desa Bualu.

Tak jarang, umat dari satu tempat ibadah akan membantu acara di tempat ibadah lain, seperti menjaga parkiran atau bergotong royong membersihkan area.

Kisah dibalik berdirinya Puja Mandala tak hanya menggugah rasa bangga, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dalam keberagaman.

Di tengah zaman yang penuh tantangan terhadap toleransi, Puja Mandala hadir sebagai inspirasi hidup berdampingan dalam damai, mencerminkan keindahan Bali yang bukan hanya soal alam, tetapi juga keberagaman yang menyatu.

10 Fakta Menarik Tentang Puja Mandala: Simbol Kerukunan Beragama di Bali

  1. Lima Tempat Ibadah dalam Satu Lokasi
    Puja Mandala adalah kompleks unik yang menghadirkan lima tempat ibadah dari lima agama berbeda: Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, Gereja Protestan Bukit Doa, Vihara Buddha Guna, dan Pura Jagatnatha. Semua berdiri berdekatan dalam satu area, menandakan kebersamaan dalam keberagaman.

  2. Simbol Pluralisme di Nusa Dua
    Terletak di kawasan pariwisata Nusa Dua, Puja Mandala bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga daya tarik wisata yang memperlihatkan simbol keharmonisan antarumat beragama di Bali. Para wisatawan yang datang bisa melihat langsung bagaimana perbedaan agama hidup berdampingan dengan damai.

  3. Dibangun Berkat Inisiatif Joop Ave
    Pembangunan Puja Mandala berawal dari ide Joop Ave, Menteri Pariwisata di era Presiden Soeharto. Beliau mengajukan pembangunan kompleks ibadah ini sebagai wujud nyata semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan untuk melambangkan semangat toleransi di kawasan pariwisata Nusa Dua.

  4. Proses Pembangunan Dimulai Tahun 1994
    Ide Puja Mandala mulai direalisasikan pada tahun 1994 dengan bantuan Bali Tourism Development Corporation (BTDC), BUMN yang bertanggung jawab mengembangkan kawasan Nusa Dua. Lahan seluas 2,5 hektare ini dipilih setelah berbagai pertimbangan, terutama untuk memudahkan akses bagi masyarakat dan wisatawan.

  5. Resmi Dibuka untuk Umum Tahun 1997
    Puja Mandala diresmikan oleh Menteri Agama saat itu, Tarmizi Taher, pada 20 Desember 1997. Ketika diresmikan, masjid, gereja Katolik, dan gereja Protestan sudah siap digunakan, sementara pembangunan vihara dan pura masih berlangsung.

  6. Pura Jagatnatha dan Vihara Buddha Guna Rampung Belakangan
    Pura Jagatnatha selesai pada tahun 2004, sementara Vihara Buddha Guna diresmikan lebih awal pada tahun 2000. Tantangan alam berupa tanah kapur di belakang lokasi vihara membuat pengerjaannya memakan waktu lebih lama.

  7. Tempat Ibadah yang Saling Mendukung Kegiatan
    Salah satu cerminan toleransi di Puja Mandala adalah kerja sama antarumat beragama. Saat salah satu tempat ibadah mengadakan acara, tempat ibadah lain menyediakan lahan parkir dan bahkan menawarkan bantuan, seperti menjaga parkiran atau membantu kebersihan.

  8. Pertemuan Rutin Pengurus dalam FKUB
    Para pengurus dari masing-masing tempat ibadah di Puja Mandala rutin mengadakan pertemuan bulanan di bawah naungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali. Pertemuan ini diadakan bergilir di masing-masing tempat ibadah, bertujuan untuk menjalin komunikasi, mempererat hubungan, dan berbagi informasi mengenai kegiatan keagamaan.

  9. Destinasi Wisata Religi dan Pendidikan Toleransi
    Puja Mandala kini menjadi destinasi wisata religi dan tempat belajar tentang toleransi bagi para pengunjung. Banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang datang ke sini untuk merasakan atmosfer damai dan toleransi yang jarang ditemukan di tempat lain.

  10. Cerminan Bhinneka Tunggal Ika di Bali
    Puja Mandala merupakan salah satu simbol nyata dari semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu.” Kehadiran lima tempat ibadah di lokasi yang sama memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia, khususnya Bali, mampu mempertahankan kerukunan antaragama di tengah keberagaman.

Editor : I Putu Suyatra
#toleransi #bali #hindu #pura #nusa dua #Puja Mandala