Satwa dengan warna sisik abu-abu tersebut kerap dikaitkan dengan banyak mitos. Misalnya, ketika kolam dikuras, ikan akan menghilang dengan sendirinya. Kemudian mereka kembali setelah kolam terisi air. Mitos lain adalah jumlah ikan dewa yang tidak berkurang atau bertambah. Seperti terlihat di Cibulan, seakan populasinya terjaga dengan jumlah selalu sama.
Bahkan Ikan Dewa dipercaya sebagai prajurit Prabu Siliwangi yang membangkang. Oleh sebab itu, ikan ini dikeramatkan oleh warga Kuningan.
Dilansir dari Radarcirebon.com., keberadaan ikan dewa di TNGC (Taman Nasional Gunung Ciremai) sampai saat ini hanya untuk daya tarik wisata pengunjung. Sedangkan manfaat lainnya sebenarnya cukup potensial, antara lain kandungan gizi albumin yang tinggi. Albumin bisa digunakan untuk pengobatan pasca operasi, menjadi sarana pendidikan dan edukasi, serta nilai ekonominya yang tinggi.
Ikan dewa telah menjadi komoditas ekspor dari Jawa dan Sumatera ke Malaysia dengan kuota 100.000 ton/tahun dan nilai ekspor Rp 400.000/kg, namun baru dapat terpenuhi 30.000 ton/tahun.
Sebagai upaya konservasinya, serta mengoptimalkan manfaat keberadaan ikan dewa untuk masyarakat, Balai TNGC melaksanakan beberapa program konservasi ikan dewa baik in-situ dan eks-situ. Kegiatan yang telah dilakukan tersebut di antaranya kajian habitat, populasi dan translokasi ikan serta program budidaya ikan dewa bersama masyarakat. Editor : Nyoman Suarna