Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berharap Panen Berhasil, Ini Rentetan Pemujaan untuk Dewi Sri

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 28 Mei 2022 | 17:56 WIB
Dosen Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja Made Susila Putra. I Putu Mardika/Bali Express
Dosen Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja Made Susila Putra. I Putu Mardika/Bali Express
SINGARAJA, BALI EXPRESS -Ritus pemujaan Dewi Sri sebagai Dewi Padi tak berhenti setelah proses penanaman bibit. Ketika padi berusia 12 hari, juga ada sesajen berupa lima buah nasi tulung, ketupat dampul penek putih kunig, nasi takilan canang tumbugan.

Dosen Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Susila Putra mengatakan jika padi telah berumur dua bulan sesajennya bulayag dua buah, ketupat asem panca pala, klungah dibuka atasnya. Jika telah berumur tiga bulan sesajennya sebuah jerimpen, berumur empat bulan sesajennya sebuah jerimpen sesayut pengambean tadah pawitra.

Pada usia tanaman lebih dari tiga bulan melaksanakan mangiseh mabiyukukung, sesajennya adalah ketupat akelan, dagingnya sate dipanggang. Tanaman padi berusia empat bulan sesajennya sayut pangambean tadah pawitra, dan dilaksanakan ngusaba di badugul melaksanakan pengendalian hama dengan memakai sarana binatang anjing blangbungkem.

Demikian pula ketika tanaman mengalami gangguan hama, tidak tumbuh dengan layak akibat wabah, sawah banyak ular, dan hama-hama lainnya selalu dilakukan upacara disertai dengan pengendalian hama menggunakan obat-obatan herbal yang ampuh.

“Dahulu para tetua kita tidak menggunakan pestisida dalam proses pengendalian wabah. Melainkan menggunakan cara-cara tradisional yang sangat ramah lingkungan. Penggunaan obat herbal juga tidak kalah ampuh,” jelasnya.

Selain itu, jika persawahan terserang wabah gring hila agung, karubuhan ratu, karubuhan pangrurah, wang cendek yusa (orang pendek usia), diselenggarakan upacara yang bertujuan membersihkan bumi dari wabah.

Dengan jalan melaksanakan ngusaba desa disertai dengan ngusaba nini yang bertempat di Bale Agung desa masing-masing, guna memohon kesejahteraan, terhindar dari wabah penyakit, dan pertanian berhasil.

Bahkan, demi menjaga spirit kosmologi di sawah agar tetap berjalan tanpa gangguan dan campur tangan manusia, dilaksanakan ritual Nyepi carik di persawahan.

“Pemuliaan Dewi Sri sebagai Dewi Padi ini memerlukan tempat tempat suci berupa pura, palinggih dan media pemujaan berupa cili, cau, deling, dengan nama yang beragam mencerminkan kearifan lokal seperti Dewa Ayu Manik Galih, Bhatari Sri, Nini Padi, Dewa Nini, dan ini masih lestari sampai sekarang di tangan petani,” tutupnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#Tanam Padi #ritual #bali #balinese #Tanam hingga Panen #Petani Tak Surut Muliakan Dewi Sri #hindu #budaya